Tentang
obrolan kita semalam, kumainkan juga jari-jariku di deretan keyboard ini
akhirnya. Lama tidak mendengar kabar kalian rasanya rinduku terkumpul
menggunung hingga sesak semua ruang hati dalam dadaku. Yang pernah kita
perkirakan sejak semula bahkan tak melenceng sedikitpun kejadiannya. Terpisah,
berjarak, tak tahu lagi kapan bisa bersua. Suara-suara ricuh kita semalam
semoga tidak membangunkan tetangga yang tengah mencoba melengahkan letih
seharian mereka dalam rengkuhan malam. Namun pertemuan samar itu cukup jugalah
rasanya, meski hanya lewat udara lepas juga dahagaku untuk bercerita.
Sempat juga terfikir
olehku dulu, saat tangan kalian masih nyata kugenggam, kamanakah aliran ini
akan menghanyutkan kita? Sempat juga kita dahulunya membayangkan kelak bagaimana
kita beranak bercucu di hari kemudian. Mencoba melukiskan rupa kita apabila
sudah tua, lalu terbatuk-batuk akhirnya melerai tawa. Atau saat balada jenuh
kita sampai jua pada titik nadirnya, kitapun terperangah barang sesaat
memikirkan tujuan mana yang kiranya
mampu tengahi lelah kita, setidaknya untuk sesaat saja. Lalu seperti lahir
dengan satu fikiran, kita serempak beranjank menjaring matahari sore hingga
nanti senja datang menjelang. Semburat lembayung di langit kota kecil itu juga
yang akhirnya meredam kecamuk hari-hari kita selepas di hujani jengah.
Hingga saat ini pun,
seringkali dalam luangku, aku mencoba melukiskan kembali bagaimana gelak tawa
kita di perjalanan yang terdahulu itu. Mencoba mengguratkan lagi mimpi-mimpi sederhana
kita saat masih berupa seorang perempuan belia menuju gerbang dewasa. Bahagia,
itu saja makna yang mampu kubaca. Lantas jalanan ini pun tak hanya lurus
seperti yang kita duga. Sampai jualah kita di persimpangan itu akhirnya.
Menghanyutkan kita dalam arus yang berbeda pula. Aku disini, dan kalian di
tempat lainnya.
Jangan terharu dengan
barisan aksara ini, apapun judulnya belum lagi mampu rasanya mengungkapkan
keharuan hatiku di hari yang kesekian ini. Mengingat bahwa jalanan lengang
inipun masih sedemikian lengangnya hingga sepi pun tiada sungkan melayat
datang. Pesanku, meski tak lagi bernaung satu payung, ingat jugalah aku
ditengah sibukmu yang sedemikian beruntun itu. Karena cukup adil bagiku, untuk
tetap ada dalam salah satu ruang di hati kalian. Yang tidak peduli sekarang
atau limapuluh tahun kedepan, saat kalian mendengar seseorang menyebut namaku, kalian
masih akan tetap berujar “Dia itu sahabatku“.
Sungguh ini bukan kalimat
berlebihan kalau kuungkapkan bahwa aku bangga pernah di ijinkan, di beri kesempatan
serta di perkenankan mengenal dan melangkah bersama dengan orang-orang seperti
kalian.. Kalian yang kusebut kawan.