(Saat ‘Good Life’ nya One Republic Bermain di telingaku)
Kadang,
terbesit di benakku untuk meneriakkan padamu semua sakitku, sekali saja. Namun
sisi lain diriku menengahi bahwa hal itu sunggu tiada guna. Untuk apa merapal
benci, jika hal itu hanya membuatmu jengah mendendami. Mepersempit hatiku yang
sudah kehabisan ruang saja. Logika dan rasa seringkali bertengkar hebat dalam
diriku. Ujung-ujungnya hanya air mata yang mengakhiri semuanya. Air mataku
sedemikian mudahnya luruh belakangan. Entah karena kecamuk hatiku yang tak
menemukan ujung atau egoku yang terus mempertahankan gamang tak berkesudahan.
Entahlah. Aku ingin menepikan sesalku barang sejenak, bahwa memang tak ada yang
perlu disesalkan. Jika ini sebuah permainan, maka sudah selayaknya ada yang
dimenangkan dan di lain sisi harus ada yang dikalahkan, hanya saja dalam hal
ini dan kali ini aku dijadikan sebagai yang terkalahkan. Terkalahkan bukan
karena usahaku yang tidak matang namun lawan mainku saja yang tidak sepadan.
Akupun dikalahkan pada akhirnya. Kalah di satu sisi, tapi kusebut menang juga
disisi lain. Setidaknya tuhan menyelamatkanku dari kubangan kesalahan yang
menjeratku sekian lama. Bahwa ini mengenai orang yang tepat yang berhak mengisi
hari-hariku kedepannya.
Lalu
aku juga sempat berfikir, siapakah yang telah di siapkan tuhan untukku kelak?
Sebuah pertanyaan bodoh, karena siapapun pasti tahu bahwa jodoh itu tersimpan dalam
rahasia tuhan yang paling rapat. Namun aku senang bisa mengkhayalkannya,
setidaknya dari sana berawal mohonku pada-Nya sembari menanti waktunya tiba
untuk dijatuhcintakan pada seseorang yang tidak akan pernah meninggalkan.