Teruntuk seseorang yang belum lagi kuketahui siapa..
Jika nanti kita
dipertemukan, berkenankah kau mengisahkan perihal perjalananmu menuju kemari.
Sebab aku ingin tahu, do’a apa yang kau rapalkan hingga Tuhan mengarahkanmu
menuju jalan ini. Karena seringkali pada masa sendiriku, aku terus bermohon di
sepertiga malam mengeluhkan penantianku. Namun tiada lelah kiranya Tuhan
menyimak ceritaku, hingga menghadirkan kau tepat di ujung lelahku.
Jika nanti kita
dipertemukan, maukah kah kau setidaknya tidak menyesalkan setiap detik yang kau
habiskan dalam perjalananmu hingga mendapati aku di akhir kembaramu. Sebab
kuatir aku, jika sesal sudah menggelitik, kau akan berakhir menjadi sebuah masa
lalu yang lain dalam hidupku. Sungguh harapku masa depan bisa kurangkai dalam
perjalananku denganmu.
Jika nanti kita dipertemukan,
bersediakah engkau menyempurnakan segala yang kurang dari diriku. Menyatukan
asa yang telah kau rangkai dengan harapku yang telah kusimpan rapi untuk
kedepan kita berdua. Sebab, aku telah merindu sekian lama, hingga rasanya
terbunuh dalam sepinya nelangsa. Perempuan biasa seperti ku juga hanya mampu
bermimpi sesederhana itu pula. Hanya ingin di terima sebagaimana utuhnya dia.
Dan jika nanti kita
dipertemukan, bisakah kau segerakan menyelaraskan mimpi kita yang telah lama
ada. Tidak perlu berlama-lama, bertanam sapa bisa kita lakukan setelahnya,
setelah aku dan kau bernaung dalam ridho-Nya. Karena kita sama-sama telah jauh
berkelana dan siang sudah hampir di ambang petang. Sungguh senja lebih indah
jika bisa kuhabiskan bersamamu seraya mengurai selaksa rindu yang sempat
kubingkis dalam damai malam, untuk kuhadiahkan sepenuhnya padamu di akhirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar