Jumat, 13 Februari 2015

Menjelang akhir 12 Februari



(Saat ‘Good Life’ nya One Republic Bermain di telingaku)
Kadang, terbesit di benakku untuk meneriakkan padamu semua sakitku, sekali saja. Namun sisi lain diriku menengahi bahwa hal itu sunggu tiada guna. Untuk apa merapal benci, jika hal itu hanya membuatmu jengah mendendami. Mepersempit hatiku yang sudah kehabisan ruang saja. Logika dan rasa seringkali bertengkar hebat dalam diriku. Ujung-ujungnya hanya air mata yang mengakhiri semuanya. Air mataku sedemikian mudahnya luruh belakangan. Entah karena kecamuk hatiku yang tak menemukan ujung atau egoku yang terus mempertahankan gamang tak berkesudahan. Entahlah. Aku ingin menepikan sesalku barang sejenak, bahwa memang tak ada yang perlu disesalkan. Jika ini sebuah permainan, maka sudah selayaknya ada yang dimenangkan dan di lain sisi harus ada yang dikalahkan, hanya saja dalam hal ini dan kali ini aku dijadikan sebagai yang terkalahkan. Terkalahkan bukan karena usahaku yang tidak matang namun lawan mainku saja yang tidak sepadan. Akupun dikalahkan pada akhirnya. Kalah di satu sisi, tapi kusebut menang juga disisi lain. Setidaknya tuhan menyelamatkanku dari kubangan kesalahan yang menjeratku sekian lama. Bahwa ini mengenai orang yang tepat yang berhak mengisi hari-hariku kedepannya.

Lalu aku juga sempat berfikir, siapakah yang telah di siapkan tuhan untukku kelak? Sebuah pertanyaan bodoh, karena siapapun pasti tahu bahwa jodoh itu tersimpan dalam rahasia tuhan yang paling rapat. Namun aku senang bisa mengkhayalkannya, setidaknya dari sana berawal mohonku pada-Nya sembari menanti waktunya tiba untuk dijatuhcintakan pada seseorang yang tidak akan pernah meninggalkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang