Tak ada
kabar adalah kabar, yaitu kabar: tak ada kabar
Tidak
ada kepastian juga adalah kepastian, yaitu kepastian: tidak ada kepastian-HUJAN.
Kututup
buku itu rapat-rapat, kudekap erat hingga sedikit kusut ujung sampulnya. Nama Tere Liye tertera indah di halaman
depannya. Sekali lagi tulisannya membuatku terpesona. Aku menghela nafas
panjang, menyandarkan bahuku di tepian jendela., menengadah, merasa kosong dan
tak mampu menerjemah apa yang tengah kurasa. Tak ada kabar lagi, begitu gumamku
hampa.
Entah ini
kecamuk rindu atau apa, hambar yang kurasa nyaris mencapai titik kritisnya. Aku
mencintainya, namun tak mengerti cara apa yang tengah diketengahkannya hingga
membiarkanku menanti dalam genggaman asa yang nyaris sirna. Aku rindu, tidak
tahukah kau nelangsanya tak bersua itu seberat ini siksaannya? Batinku
berteriak.
“10
bulan lagi saja, aku yakin kau bisa menunggu.” Begitu ungkapnya suatu ketika. Ada
sesimpul senyum yang terukir di wajah teduhnya. Aku hanya cemberut.
“Ayolah,
wajahmu jelek kalau begitu.” Dia mulai menggodaku.
“Bagaimana
aku bisa mengenalimu lebih jauh kalau begini, tak pernah ada kabar, tak pernah
punya waktu, bertemu pun tidak.” Aku bersuara juga akhirnya.
“Sepuluh
bulan lagi saja cinta, kita akan bersama setelah itu.” Dia masih tersenyum,
masih dengan senyum yang sama. Aku tetap tidak menerima. Aku malah menyesalkan
sikap tenangnya, seperti tidak terjadi apa-apa saja. Hey, aku tengah kau siksa,
kau tahu? Rasanya aku ingin sekali berteriak padanya.
Kuraih
hp-ku yang tergeletak pasrah di atas meja. Memencet tombolnya, lalu
memperhatikan apa saja yang tertera di layarnya. Ada beberapa panggilan telfon
yang tak terjawab, tak ingin kujawab lebih tepatnya. Lalu beberapa pesan pendek
yang belum lagi kubalas, enggan saja melakukannya. Lebih-lebih, tak satupun
yang pengirimnya dia. Aku mendengus kesal.
Ah, tak
jugakah dia mengerti sesaknya dadaku akibat rindu yang mendera disetiap kali
aku terjaga. Sejak kumulai hubungan ini dengannya, tak pernah sekalipun ada
waktu untukku berdua dengannya. Hanya sebuah janji bahwa dia akan mengikatku
selamanya dalam akad. Itupun sepuluh bulan lagi. Sedemikian lama rasanya.
Kamu dimana? Aku kangen.
Pesan
itu kukirim juga akhirnya, menepikan egoku sesaat, tak kuasa menahan lebih
lama. Aku ingin bertemu dengannya.
Lama
tak ada balasan, aku hampir marah. Nada yang kutunggu berdering juga akhirnya. Dengan
sigap kuraih benda mungil itu tanpa banyak tanya. Satu-satunya nama yang tengah
kufikirkan hanya namanya. Namun balasan itu lebih membuatku sebal ternyata.
:)
Hanya
itu yang tertulis disana. Benar-benar singkat. Senyum, yang bahkan bukan dia
pemiliknya. Hanya ilustrasi emoticon tak berdosa yang bisa digunakan siapa
saja. Aku mencak-mencak, ingin kabur rasanya. Tak bisa kugambarkan
misah-misuhnya aku gara-gara balasan diluar perkiraan itu.
“Jangan
seperti anak kecil begitu.” Mbak Hanin mulai jengah juga setiap kali kuungkit
lagi perihal, Ardi.
“Aku
nggak mungkin bisa mengenali dia lebih jauh kalau begini ceritanya, mbak.” Aku
menggerutu terus sepanjang siang.
“Kan
sudah mau nikahan, ya sudah kenalnya ntar pas udah nikah aja, udah halal, udah
sah, lebih bagus begitu kan.”
“Tapi
kan tetap saja, aku butuh kenal dulu, kalau begini ceritanya nggak ada bedanya
seperti orang asing lah.” Aku tetap saja tidak terima.
“Mbak
kenal Ardi udah sejak jaman kapan, ndah. Dia nggak neko-neko orangnya, percaya
saja. Kamu di bilangin suka ngeyel gitu.” Mbak Hanin mulai lagi kuliahnya.
“Ah,
mbak nggak akan ngerti juga kalau aku jelasin.” Aku melengos. Mbak Hanin
geleng-geleng kepala.
Huah,
benar-benar jenuh. Aku sudah berkali-kali mencoba berdamai dengan laraku
perihal rindu, namun tetap saja dia memaksa untuk bertahta disana. Hari-hariku
seperti berlalu begitu saja, Senin sampai Senin lagi, tak ada yang berbeda.
“Hargai
saja niatnya, Ibu yakin dia bukan tipikal pria yang mau main-main dengan
perasaan wanita.” Ungkap ibu menasehati. Aku hanya membisu. Mencerna perlahan-lahan
maksud perkataan Ibu.
“Biarkan
dulu kalau memang begitu inginnya. Indah sudah bersedia menunggu, bukan?
Penantian yang berdasarkan hati yang tulus itu tidak akan sia-sia akhirnya,
percaya sama Ibu.” Suara itu mengalun lembut menembus kedalam relung. Seperti
itukah kiranya? Batinku masih saja bergolak, bertanya-tanya.
“Jangan
berprasangka buruk dengan niat baiknya. Ardi mungkin lebih ingin menjagamu
ketimbang menghabiskan waktu untuk hura-hura berdua.” Aku terkesiap, kali ini
seperti benar-benar terjaga dari ninabobo pikiran sempitku. Ibu tersenyum
menatapku tulus seperti bermohon agar percaya pada apa yang baru saja
dikatakannya. Aku mencoba menerima.
Sudahlah,
aku ikut saja kalau begitu inginnya. Tak lagi berusaha mengusiknya atau
mengganggunya dengan rengekan-rengekanku seperti biasa. Berat, tapi kutahan.
Jika memang mencinta itu sebegini dahsyatnya, kumohon tuhan, jangan biarkan
penantianku berujung luka. Hanya itu do’a yang senantiasa mengalun dalam tiap
sujudku. Hari-hariku mengalir seperti biasa, sesak-sesak yang pekat dahulu itu
semakin memberi ruang, leluasa mencoba menerima apapun kiranya yang direncanakanNya.
10 bulan lagi, yah, selama apakah kiranya waktu itu jika aku terus berlapang
dada menjalaninya. Aku terus menenangkan kalbuku yang sebegitu rapuh adanya.
Entah
hari yang keberapa, aku mulai berhenti menghitungnya. Sepucuk surat datang
berserta sekotak bingkisan yang belum lagi kuketahui isinya apa. Surat? Entah
siapa yang masih memakai cara ini kiranya dalam memberi kabar. Aku tersenyum
kecil saat mengetahui siapa pengirimnya. Ardi. Yah, nama itu. Aku sedikit
tertawa melihat sampul biru muda bercorak angsa putih itu terukir “teruntuk
adinda” di depannya. Ah, Ardi. Kuno sekali caranya, namun tak kusangkal ada
binar tak biasa yang menyisip kedalam kalbuku, bahagia yah aku bahagia.
Kubuka
perlahan sampulnya, berniat tidak merobeknya, namun hatiku sedemikian tidak
sabarnya hingga sedikit rusak juga tepian bekas lemnya. Tergesa-gesa aku
membukanya dengan senyum yang tak sedikitpun lepas dari muka.
Indah…, begitu sapanya di awal kata.
Oh, tuhan aku berbunga-bunga.
Apa kabar cinta?
Apakah hatimu sudah sedemikian lelahnya? Kumohon jangan.
Sebagaimana rindumu menyiksa, akupun tak ada bedanya. Tak kuasa rasanya terus
membayangkan terpisah denganmu sedemikian lama. Tak ada maksud menjauh demi
meninggalkanmu, lebih-lebih aku harus mendekap perihku dalam kesendirian
tanpamu di kejauhan sana. Aku lebih merana lagi, cinta. Satu-satunya yang terus
membayang di pelupuk mata hingga datang senja hanya kau, namun kutahan jua
gelora ini hingga saatnya tiba. Aku tak hendak mengenalimu dalam masa sebelum
halal segala yang diharamkan selama ini bagi kita. Sungguh niatku hanya ingin
menghormati rasa yang ada, tak ingin meninggalkan cela padanya. Harapku jika
diperkenankan, hanya adanya kau mendampingiku dalam perjalanan kita. Hebat
rasanya jika diberi kesempatan untuk lebih mengenalimu dalam penyatuan yang
benar dalam agama kita. Sebab itu, baiknya aku berkelana dulu. Menyiapkan
hatiku seutuhnya untuk kuserahkan seutuhnya pula padamu, gadis yang terus
menemaniku dalam mimpi-mimpi tidurku.
Indah, aku kembali. Setelah mungkin kecamuk hatimu nyaris
tak mampu kau redam mencoba mengertiku. Namun terima kasih, jika detik ini
hatimu masih tertambat di tepian hatiku. Aku kembali, indah. Kembali untuk
segera bisa menggelar sajadah bersamamu.
Ardi
Air
mataku merebak, bukan haru biru dengan luka menganga, namun merebak menyambut
bahagiaku. Kubuka bingkisan putih bersih itu, selembar sajadah lembut berdiam
didalamanya. Aku berlari memeluk ibu, tak berkata apa-apa. Hanya mengiyakan
dalam hati saja, bahwa apa yang beliau prasangkakan benar adanya. Ardi, sudah
benar menapaki jalannya. Segera, aku akan halal bersamanya.