Adalah perempuan itu, masih terus menapaki janji waktu, memeluk lara
hati mendekap alunan sepi. Dua rangkaian rasa yang terus menggerus
kebertahanan jiwanya. "Demi tuhan, aku akan bahagia", begitu teriakan
batinnya. Tapi siapa yang tau bagaimana belati itu tepat menikam, atau
bagaimana musim lalu merobohkan percayanya. Tak seorangpun, tak ada
siapapun. Hanya dia, masih tetap dia, sang perempuan itu..
Lalu derap langkahnya terus merengkuh musim, membiarkan waktu menenggelamkan pedih, perih dan letih itu hingga suatu entah. Sebagaimana kembara menerjang badai, perempuan dan separuh hatinya yang rapuh itu tak sedikitpun gentar hingga derunya usai. Suatu ketika akan ada pengembara lain yang bersedia mendengarkan keluh hatinya yang teramat jengah dikeparati. Namun entah siapa. Alam pun bahkan tak ingin menunjukan arahnya. Begitulah mungkin caranya takdir bekerja..
Tak ada pilihan, hanya mampu terus berjalan seraya merapalkan seulas senyum yang mulai dikeragui maknanya, entah itu bahagia atau duka yang tak lagi mampu ditengahi air mata, hingga tawa dan tangis tak lagi berbeda. "Masih ada esok", asanya lirih bersuara. Jalan lengang itu memang harus ia tapaki sendiri, namun tak apa, ada cahaya di ujung jalan sana, seperti halnya ada cerita baru yang ditawarkan pagi. Dan saat itu tiba, perempuan itu tau bahwa ia pun bahagia pada akhirnya..
Lalu derap langkahnya terus merengkuh musim, membiarkan waktu menenggelamkan pedih, perih dan letih itu hingga suatu entah. Sebagaimana kembara menerjang badai, perempuan dan separuh hatinya yang rapuh itu tak sedikitpun gentar hingga derunya usai. Suatu ketika akan ada pengembara lain yang bersedia mendengarkan keluh hatinya yang teramat jengah dikeparati. Namun entah siapa. Alam pun bahkan tak ingin menunjukan arahnya. Begitulah mungkin caranya takdir bekerja..
Tak ada pilihan, hanya mampu terus berjalan seraya merapalkan seulas senyum yang mulai dikeragui maknanya, entah itu bahagia atau duka yang tak lagi mampu ditengahi air mata, hingga tawa dan tangis tak lagi berbeda. "Masih ada esok", asanya lirih bersuara. Jalan lengang itu memang harus ia tapaki sendiri, namun tak apa, ada cahaya di ujung jalan sana, seperti halnya ada cerita baru yang ditawarkan pagi. Dan saat itu tiba, perempuan itu tau bahwa ia pun bahagia pada akhirnya..