Kamis, 29 Januari 2015

Perempuan itu..

Adalah perempuan itu, masih terus menapaki janji waktu, memeluk lara hati mendekap alunan sepi. Dua rangkaian rasa yang terus menggerus kebertahanan jiwanya. "Demi tuhan, aku akan bahagia", begitu teriakan batinnya. Tapi siapa yang tau bagaimana belati itu tepat menikam, atau bagaimana musim lalu merobohkan percayanya. Tak seorangpun, tak ada siapapun. Hanya dia, masih tetap dia, sang perempuan itu..
Lalu derap langkahnya terus merengkuh musim, membiarkan waktu menenggelamkan pedih, perih dan letih itu hingga suatu entah. Sebagaimana kembara menerjang badai, perempuan dan separuh hatinya yang rapuh itu tak sedikitpun gentar hingga derunya usai. Suatu ketika akan ada pengembara lain yang bersedia mendengarkan keluh hatinya yang teramat jengah dikeparati. Namun entah siapa. Alam pun bahkan tak ingin menunjukan arahnya. Begitulah mungkin caranya takdir bekerja..
Tak ada pilihan, hanya mampu terus berjalan seraya merapalkan seulas senyum yang mulai dikeragui maknanya, entah itu bahagia atau duka yang tak lagi mampu ditengahi air mata, hingga tawa dan tangis tak lagi berbeda. "Masih ada esok", asanya lirih bersuara. Jalan lengang itu memang harus ia tapaki sendiri, namun tak apa, ada cahaya di ujung jalan sana, seperti halnya ada cerita baru yang ditawarkan pagi. Dan saat itu tiba, perempuan itu tau bahwa ia pun bahagia pada akhirnya..

Fiksi # Perempuan dan hatinya”



“Tidak banyak yang berubah, kota kecil ini masih sama dinginnya”, ujarku tanpa melepaskan pandangan dari arah jendela.

“Tapi kau banyak berubah”, suaranya terdengar lembut, persis seperti yang kuingat.

Aku menoleh. “Begitulah hidup, harus ada yang berubah”, matanya bertemu dengan mataku.

“Kau pergi terlalu lama”, tukasnya kemudian.

“Aku tidak pernah memintamu menunggu!”

“Tapi aku harus….”

“Sudah kubilang jangan!” jawabku bersikukuh. Tidak tega jika harus mneyakitinya lagi, aku ingin mengakhiri apapun namanya ini secepatnya.

“Ini tidak benar, Anggun! Hentikan!”, dia menunduk lesu.

“Aku mencintaimu”, ujarnya lemah.

Aku menatapnya sedikit lama sebelum mengucapkannya. “Aku punya suami dan anak sekarang!”, jawabku dengan hati-hati.

Dia mendongak, terkejut.

“Sudah sepuluh tahun, Anggun. Yang terjadi dulu adalah sebuah kesalahan, harusnya kau mengerti”, timpalku kemudian. Air matanya menggenang. Ah, aku benci jika harus ada tangis seperti ini.

“Mulailah hidup, aku sudah melakukannya bertahun-tahun lalu”, aku berusaha menjaga suaraku agar tetap tenang.

“Tapi aku mencintaimu”, tangisnya hampir pecah.

“Tidak seharusnya kau mencintai seperti ini!”, aku berusaha meyakinkannya.

“Kenapa???”, ujarnya nyaris berteriak. Matanya semakin berkaca-kaca.

Aku diam sejenak, menghela nafas seraya memperhatikan sekeklilingku. Kedai kopi ini masih dipenuhi puluhan manusia dan hujan diluarpun mulai mereda. AKu tahu, apa yang akan kukatakan ini akan menyakitinya, tapi aku harus melakukannya.

“Karena kau perempuan”, ucapku perlahan, dia menatapku lekat. “Dan kau tidak seharusnya mencintaiku seperti itu, karena aku juga perempuan, cinta tidak semestinya begitu”, ujarku pada akhirnya.

Air mata mengalir deras di wajahnya yan cantik. Aku segera beranjak, melangkah meninggalkannnya lalu menembus gerimis yang menyisa. Dia tidak menahanku, entah itu pertanda mengerti atau apa. Yah, semoga saja.

Lubuksikaping, 29th Jan 2015

Fiksi # Bayi Setengah Mateng#



“Aku kok beda?”, ujar chika cemberut, mulutnya mengerucut namun menggemaskan. “Liat kulitku, gelap, lalu ayah, ibu, kakak sama abang putih-putih semua!”, chika kembali merapalkan orasinya untuk kesekian kalinya.
Ayahnya hanya tersenyum tanpa mengalihkan mata dari Koran yang dibacanya. Merasa tidak dididengarkan bocah 6 tahun itupun merebut koran ayahnya.
“Ayah, kok gak jawab chika sih?”, pipinya mneggembung tanda tidak senang. Ibu yang tengah sibuk dengan kue-kue didapurpun ikutan pasang telinga.
Pak Budi mencubit hidung mungil chika seraya tertawa kecil. “Emang kenapa kalo chika gelap?
“Aku bukan anak ayah kan?”, Deg, apa-apaan ini, begitu kira-kira batin Pak Budi bersuara. “Aku pasti ketuker waktu dirumah sakit kan? Makanya aku beda?” chika melanjutkan dengan ekspresi ala-ala sinetron di tv.
Hah? Pak Budi benar-benar kehilangan kata kali ini, bukan karena kenyataan anaknya tidak terima dia berbeda, namun lebih kepada mengutuki sinetron yang dia tonton setiap hari dengan istrinya, ini efeknya, masa gadis kecilnya pun malah mengira dia anak yang tertukar, benar-benar ngaco.
Bu Astri yang tengah sibuk mengemas kue-kue pesanan pelanggan pun tak kalah kaget. Dia menatap lekat suaminya dengan pandangan menyerah. Pak Budi pun segera memutar otak untuk memberi penjelasan yang bisa menenangkan putri bungsunya ini.
“Chika liat ga kue-kue yang lagi dipanggang ibu di oven?”, ujarnya kemudian
Chika melirik kearah dapur, mengiyakan.
“Nah, kue-kue itu kita misalkan kayak chika dalam perut ibu, ga semua kue yang keluar warnanya sama, ada yang matengnya pas, ada juga yang kelamaan di oven nya, jadi agak gelap, sama kaya chika”, harap-harap cemas Pak Budi berharap anaknya akan mengerti.
Benar juga, wajah tegang chika mulai mengendor, berfikir lalu manggut-manggut. Tanpa ba bi bu disertai ekspresi faham dia berlari ke kamarnya, bermain. Pak Budi dan istrinya pun menghela nafas, lega.
Keesokannya, Pak Budi serta istrinya membawa chika ke Rumah Sakit bersalin, melihat sodaranya yang baru saja melahirkan. Didekat inkubator chika terpana melihat bayi mungil yang tengah tertidur pulas, matanya memerhatikan dengan seksama seluruh tubuh bayi tersebut. Tanpa melepaskan mata dari tempat bayi itu tertidur, diapun berujar “Yah, bayinya putiiiiiiiiiiih banget, belum mateng yah, masukin lagi deh!”
Semua yang diruangan itupun bengong, Pak Budi menatap anaknya, pias.

Fiksi # Hati yang baru #



Separuh hatiku tertinggal padamu, kata-kata itu kedengaran lebih bodoh sekarang. Sekian tahun, namun jejakku masih saja berkisar ditempat yang sama.
“Move on Bunga! Sudah terlalu lama”, sekian kalinya kakakku menasehati, namun aku hanya diam tergugu. Hanya genangan tak terbendung dipelupuk mata ini yang dengan lugas menegaskan ketidakberdayaanku. Aku membenci diriku sendiri, membenci kenapa sesulit ini?
“Kumohon jangan lakukan itu!”, ujarku terbata ditengah gerimis Agustus 3 tahun lalu.
“Aku akan menikah”, ungkapnya datar. Aku mengerti arti kalimat itu, namun terlalu takut untuk memahami maknanya.
“Lalu aku?”, air mataku merebak.
Seulas senyum yang tak kupahami maknanya terukir diwajah yang amat kukenal itu. “Kamu masih punya banyak waktu untuk melihat dunia, Bunga!”, ujarnya. “Mungkin beginilah jawaban tuhan untuk kita”, ada kebencian yang menyesak didadaku saat kalimat itu kudengar.
Semudah itu? Setelah sekian ribu hari kuhadapi segalanya untukmu. Batinku berontak, tangis dihatiku lebih keras dibanding yang diungkapkan mataku. Namun semuanya memang terjadi, dia menikah dan mengubur semua janjinya bertahun-tahun ini dengan pengkhinatan. Beginilah harga setiaku baginya. Habis sudah kata-kataku saat itu, yang tertinggal hanya perih yang tak mampu kutengahi saat ini.
“Tidak baik selamanya memenjarakan hati seperti ini”, suara Mba Melati terdengar sayup menembus ruang dengarku. “Kamupun berhak bahagia!”, ujarnya kemudian lalu meremas bahuku, sedikit kuat namun kupahami maknanya. Mungkin sudah saatnya, batinku berbisik.
Aku menghela nafas panjang, melirik ponselku yang berkedip tanda pesan masuk. “Aku ingin bicara”, begitu bunyinya. Ada yang tengah menungguku, aku tahu. Gamang, itu yang diisyaratkan hatiku. Logika dan hatiku bertengkar hebat. Namun ada sapaan lembut direlung terdalam hatiku yang disambut baik akal sehatku, “sudah saatnya”, begitu kira-kira ungkapnya.
Sejurus kemudian, kuinjak pedal gas mobilku lalu bergabung ditengah hiruk-pikuk manusia dijalanan sore ini. Menepis semua ragu lalu memberi kesempatan bagi waktu untuk menghapus jejak-jejak lalu itu.
Laki-laki itu duduk dengan gelisah, Hadi, begitu aku memanggilnya, dia adalah laki-laki baik yang beberapa hari lalu menyatakan niatnya untuk menikahiku. Sempat dilanda kemelut masa lalu, aku membiarkannya menunggu. Namun pada saatnya hatipun ingin berlabuh bukan? Semakin melelahkan jika harus terus mengembara sendiri.
Aku menatap matanya lekat, membiarkan energi dalam dadaku mengumpul sejenak, sebelum ada kata-kata keluar dari mulutnya, aku pun berucap “Aku bersedia!”, Ah, kata-kata itupun keluar pada akhirnya. Dia menatapku lebih lekat lagi, lalu senyum itupun terpancar diwajah teduhnya. Sesalku menguap seketika, rasa sesak itupun perlahan memberi ruang dan duniaku pun lapang terasa.
Dan pada akhirnya, yang terbuang pada awalnya akan dimenangkan jua pada akhirnya, begitu kira-kira salah satu larikku tereja.
Lubuksikaping, 28th Jan 2015

Sebuah senja di ujung Januari



Dalam kenangku, masih tersemat sebuah nama yang tak sempat terucap dahulu..
Kala hati kita masih terlalu lugu untuk disapa rindu..
Masih ingat aku, senyum malu diwajahmu diawal kita bertemu
Lalu sebuah persimpangan mengukir jarak antara ruang dan waktuku denganmu..

Sekian ribu hari, perjalanan ini membawaku kembali ke awal masa
Tatkala hatiku sudah terlalu banyak mengecap rasa
Namun tentangmu masih saja berdesir sama..
Sebuah senja di ujung  Januari, begitu aku menyebutnya..
Dalam terpaan hawa dingin kota kecil kita, kau dan aku pun bersua..
Rembulan itupun masih sama, merah muda, seperti warna hati kita..

Ada getar haru, aku tahu..
Membelai kedalam relung, menyisipkan damai yang lama hengkang dari kisahku..
Bak oase, kau menyelamatkanku dari keringnya duka lalu.
Menemukan pelangi itu lalu menyibak helainya demi meredam keluhku..
Sesaat, lelahku pun hanyut digaris waktu, dan itu tepat disaat asa dan rasaku bermuara..
Boleh kusebutkan disini, semua itu mengalir padamu.

Lubuksikaping, 28th Jan 2015

Just another pieces of “me” (at the end of January)



Kembali lagi ke awal, dimana kakiku sempat berpijak dulu, namun urung menemui ujung, sempat kehilangan jejak dan beberapa kali ditelan pekat, lalu lenyap ditengah gamang senja. Seringkali gumamku ingin menceritakan lagi, bagaimana dulu hatiku yang lugu disapa rindu dan asaku mulai mengeja rasa. Sebuah senyawa aneh yang menyekapku dalam khayal namun tak memahami bahwa sebagaimana cinta itu mampu melengkapi, ia pun mampu menyakiti. Dan pada saatnya, yang luput diketahui pun dimengerti pada akhirnya. Aku diselamatkan rasa sekaligus ditenggelamkannya hingga jauh kedasar perih.
Ah, itu awal yang terdahulu. Kali ini ada baiknya aku dan waktu berdamai sejenak, lantas baru memutuskan untuk memilih awal yang seperti apa. Karena meskipun tidak sepenuhnya mampu mengurai makna rasa ataupun menerjemahkannya dalam bentuk yang lebih sederhana, setidaknya aku tahu, bahwa jika saat bahagia itu pernah ada begitupun adanya luka. Kadangkala sempat terbesit dibenakku untuk membaca esok, namun mampuku masih terlalu jauh dibawah harapku, aku tidak tahu apa-apa selain apa yang ditorehkan waktu saat ini. Andai ada jawab atas semua ketidakmengertianku.
Sebuah buku lagi selesai kutulis, telah kusematkan tanda tamat diakhir halamannya, telah sempurna kurelakan kisahnya. Hanya saja untuk kali ini, buku itu tidak lagi ingin kubuka, karena sungguh, aku tidak lagi ingin mengingat indah awalnya lalu mengukir sakit lagi mengenang akhirnya.
Lubuksikaping 28th Jan 2015
 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang