Selasa, 06 September 2016

Pulang

Dan rembang petang sebagai alun lagu ilalang menghimbau senja, kita masihlah kita, dua pasang kaki yang entah sebagaimana rapuhnya masih saja, semerta merta masih saja laun menapak jejak menuju penutup buku rahasia semesta..

Sebagai rahasia ada menjadi tiada, datang lalu hilang, barangkali kali ini beranjak pergi atau memulai kembali..

Rentang jarak antara, derap langkah sekian hasta, senja luruh digiring gurat mega, dua hati yang entah sebagaimana terlukanya itupun masih saja, semerta merta masih saja, berlari menuju jalan pulangnya.

JGC, 2016

Dimana Muara?

Aliran serupa, barangkali alun riak yang sedikit berbeda. Lalu kita sama-sama hanyut, pada awalnya. Mencoba mengurai rahasia arus mana yang akan membawa kita jauh menuju muara. Muara yang masih dalam dekap rahasia.

Lalu sempat kita berbincang-bincang perkara dulu hati yang pernah di sapa damba, hingga candu, hingga batu, hilang rasa. Persis sama. Entah di bumi ini barangkali ada beberapa pasang manusia yang benar-benar di satukan karena pernah mengintari kesialan yang sama, entah. Barangkali, di suatu dimana.

Kembali lagi kita pada obrolan yang sama. Hanya soal diksi yang di buat seolah-olah berbeda, tapi di baliknya masih saja diskusi serupa. Dimana muara?

Cakung, 2016

(Bait Puisimu Tempo Hari)

.......
Sedang jingga lembayungmu sendu merapal agung semesta..
Samudera, sekian dayung pula barangkali hingga cinta hanyut membawa..

(Rindu Samudera-Jatinegara 2016)
 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang