Sabtu, 28 Februari 2015

Lembayung Koto Baru



Masih tentangmu, Zul..

Aku berdiri di luar ruangan itu dengan kaki serasa tak menapak, melayang-layang. Selera makanku hilang, perasaan tak karuan, semua ini sidang sarjanalah yang punya pasal. Saat kurobek lembaran kalender pagi ini, tanggal 12 Agustus 2014, konsentrasiku buyar, sungguh hari ini sudah menjadi daftar rencana jangka panjangku semenjak lama berselang, namun rasanya sedikit sesak tatkala menyambutnya datang. Dadaku bergemuruh saat mengumpulkan semua buku-buku yang kuharap mampu menengahi gusarku saat di uji nanti, namun tumpukan buku setebal dinding itu tak juga memberiku ruang. Aku semakin blingsatan.

Semoga sidangnya berjalan lancar, nak. Ibu mendo’akan dari jauh.

Ah, pesan singkat itu cukup mampulah rasanya mengurai gamang. Ibu, doakan aku, nyaris tak terdengar aku berbicara sendiri. Cukup lama aku memejamkan mata, mencoba mengumpulkan semua energi positif disekitarku. Semua bayangan bermain seperti kilasan film kolosal, berganti-ganti menampilkan semua moment yang telah membawaku pada hari ini. Salah satunya kau, Zul. Disana kuyakin kau juga tengah mengarungi gejolak yang sama. Sidang sarjana, seberapa menakutkankah ia? Namun gambaran-gambaran itu semakin memelam tatkala menampilkan memoriku 2009 silam. Kita juga pernah mengalami ini sebelumnya bukan? Yah, itu terjadi saat cerobohmu justru menjadi malapetaka bagiku.
***
“Kita menyanyi saja.” Ide yang kau tahu akan kutolak ini justru kau lontarkan tanpa rasa bersalah. Dahiku mengerinyit, tanda tak suka. Kau tentu hafal raut seperti ini di wajahku, terang saja karena dia sudah menemani pemandanganmu bertahun-tahun lamanya. Ini berkenaan dengan dua hal saja, pertama jikalau ada orang-orang tak begitu penting mengusik hidupku atau yang kedua saat melerai ide gilamu disetujui otakku. Kali ini, alasan yang kedua ini perkaranya. 

“Menyanyi? Kau gila?” Aku sepuluh ribu  persen menolak mentah. 

“Kenapa?” Matamu yang kekanak-kanakan itu kadangkala membuatku jengah juga. Pernahkah terfikir olehmu jika aku tak lebih dari tumbal dari segala ide-ide yang senantiasa blusukan di otakmu itu, Zul? Menyanyi? Di depan ratusan orang? Yang benar saja.

“Ayolah, kau hanya perlu menyanyikan satu lagu saja, ini demi harga diri kita. Semua orang sudah mempersiapkan segalanya untuk acara minggu depan, tinggal kita teman.” Begitu rengekmu. Namun belum kuasa juga merobohkan kebertahanan ‘tidak’-ku. 

“Ah, tidak.. tidak.., ini juga perihal harga diriku, enak saja.” Aku terus saja dengan pekerjaanku, mengabaikanmu. 

“Ayolah, jangan bikin aku hilang muka di depan panitia lah, Mut. Kita tampilnya sesi ke dua kok, ba’da dzuhur, pasti penontonnya mulai sepi.” 

“Apa??” Rasanya ingin keluar kedua bola mataku memelototimu yang sama sekali merasa tak berdosa telah mendaftarkan nama kita sebagai pengisi acara tanpa sepengetahuanku. Kau senyam-senyum tanpa sedikitpun peduli padaku. Begitulah kau, Zul. Entah kenapa sikap memaksamu itu tak jua hendak hengkang dari kepalamu itu. Menyanyi itu pilihan terakhir dalam hidupku, sungguh panggung sudah bermusuhan denganku semenjak lama. Lantas, kenapa harus lagi-lagi. Ah Zul, entah sumpah serapah apa yang bagusnya kurapal demi membuatmu membatalkannya, namun sepertinya kau sudah terlalu biasa menanggapi sikap meledak-ledakku. 

Hari itu datang juga pada akhirnya. Lima belas menit yang sudah sukses menyita kenyamananku seminggu itupun tiba. Kau sudah siap dengan dandanan terbaikmu, menyandang sebuah gitar yang ujung-ujungnya akan kau pindah tangankan juga padaku.

“Siap?” Kau terlihat berbinar-binar

Aku melihatmu dengan dahi mengerinyit itu lagi. Kau memainkan kedua alismu naik turun, mencoba menggodaku. Aku menatapmu marah. Kau diam, pasang tampang lugu dan manis.
Gelegar suara MC memecah lamunanku seketika, nama kita terpanggil lewat pengeras suara. Akh, tenggorokanku tercekat. Apa yang harus kulakukan? Gitar dalam genggaman mulai basah karena keringat di tanganku. Aku Phobia tampil, punya riwayat demam yang tak ada pil pengobatnya di apotik manapun, demam panggung. Namun yang membuatku semakin geram, kau dengan lincahnya berjalan ke arah depan penonton meraih mikrofon dan berbicara ini itu perihal penampilan yang akan segera kita suguhkan, kita? Bukan, lebih tepatnya yang aku suguhkan, karena kenyataannya setelah cuap-cuapmu yang sedemikian lama itu, kau justru meninggalkanku disana sendirian. 

“Aku backing vocal ya.” Begitu bisikmu menepuk bahuku. Sial! Ini benar-benar jebakan. Aaargh Zul, tunggu balasanku selepas ini. Batinku menjerit histeris. 

Walau menggigil kuraih juga mikrofon itu mendekat, menggeser standing mic-nya sesuai posisi berdiriku, memukul-mukulnya dengan telunjukku ala-ala Bupati sebelum berpidato. Demi tuhan segala cara sudah kukerahkan untuk menenangkan gemuruh dalam dadaku. Namun tetap saja, aku ketakukan setengah mati saat mataku bertemu mata penonton. Ini yang namanya sepi? Penonton malah lebih membludak selepas sholat dzuhur dan makan siang. Aku seperti di lumat hidup-hidup. Kumohon, gempa bumi, putting beliung atau apa saja, selamatkan aku dari sini. Aku bahkan merapal do’a yang tidak-tidak.

Jreng.. Petikan gitar pertamaku bergema sudah. Semua hening, menatapku. Alamak, aku lupa kuncinya. E kah C kah G kah, semua berenang-renang dalam kepalaku. Aku nyaris menyerah saat tiba-tiba kau melangkah kedepan.
“Sambutan yang meriah untuk rekan kita, Mutia…” Suaramu yang cempreng itu cukup membantu juga ternyata. Penonton riuh bertepuk tangan menyambutku. Kuhela nafas paling panjang yang kubisa, memejamkan mata, membiarkan jari-jariku memainkan musiknya dan nada yang kuingat mengiringi liriknya.

Menatap lembayung di Koto Baru.. (Harusnya kita minta izin dulu pada Saras Dewi, karena Lembayung Bali-nya kita ganti. Ini gubahanmu, kau tau?)
Dan kusadari, betapa berharga kenanganmu
Dikala jiwaku tak terbatas bebas berandai mengulang waktu
Hingga masih bisa kuraih dirimu, sosok yang mengisi kehampaan kalbuku
Bilakah diriku berucap maaf, masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu, oh cinta
Teman yang terhanyut arus waktu, mekar mendewasa masih kusimpan suara tawa kita
Kembalilah sahabat lawasku semarakkan keheningan lubuk,
Hingga masih bisa kurangkul kalian sosok yang mengaliri jawara hidupku
Bilakah kita menangis bersama tegar melawann tempaan semangatmu itu oh jingga
Hingga masih bisa kuraih dirimu sosok yang mengisi kehampaan kalbuku
Bilakah kini berucap maaf, masa yang kuingkari dan meninggalkanmu, oh jingga
Hingga masih bisa kurangkul kalian sosok yang mengaliri jawara hidupku
Bilakah kita menangis bersama tegar melawann tempaan semangatmu itu oh jingga
Hingga masih, bisa kujangkau cahaya senyum yang menyalakan hasrat diriku,
Bilakah kuhentikan pasir waktu tak terbendung dari khayal keajaiban ini, oh mimpi..
Andai ada satu cara, tuk kembali menatap agung suryamu, lembayung kotobaru…
Petikan gitarku berakhir dramatis, lagu itu berakhir sempurna tak ada cela. Sedang kau Zul, kulihat mengusap-ngusap sudut matamu yang mulai di genangi cairan tak disangka. Air mata. Kita berjanji bahwa tak akan pernah menangis bukan? Tapi kau melanggar janji kita. Gemuruh sorak-sorak penonton lebih menggila lagi, sepertinya keharuan yang dihadirkan senandung dadakan kita barusan mulai menulari naluri mereka. Aku turun panggung, megah dengan puja dan puji tak berkesudahan sepanjang sore. Hantu-hantu itu hilang seketika, aku melenggang ringan, beban berat itupun lenyap tanpa di duga. Aku berhasil menyanyikannya. Benar-benar menyanyikannya, harga diriku terselamatkan.

“Ah, Gita Gutawa, kubilang juga apa.” Kau merangkul bahuku, meski agak kesusahan menaikkan tumitmu demi menyamaiku. Kau benar-benar pendek, Zul. Aku menjitak kepalamu. Namun kau tidak peduli, senyum sumringahmu menari-nari di pelupuk mataku.

“Kau benar-benar tega, membiarkanku disana sendirian saja.”

Lagi-lagi kau tersenyum. “Jangan sampai suara Sang Dewi-ku menggeser posisi Gita Gutawa-mu, aku hanya menghargaimu, teman.” Aku kembali menjitak kepalamu. 

“Kan sudah kubilang, aku backing vocal. Posisiku ya dibelakang. Ini soal harga diri, kau tahu? Ah lembayung KotoBaru, kamu benar-benar memesona Meivaaaaaa.” Sambungmu berjingkrang-jingkrak kegirangan, mencubiti kedua pipiku. Aku lupa harus marah tadinya, hanya tawa yang mengiringi kelakuanmu.

Tak pernahkan kau sadari itu, Zul. Kau selalu saja bisa memaksaku untuk melakukan semua hal yang menurut kamusku haram untuk dilakukan. Cara seperti itu tak lagi kutemui disini. Tak ada semangat membara sepertimu yang mampu mengaliriku sampai urat nadi, tidak lagi, Zul. Hanya kau. Semangat itu yang tengah kubutuhkan saat ini. Saat aku tengah dihinggapi demam panggung lagi menjelang sidang skripsi.
***
Seperti yang terdahulu, seperti ketika aku tengah di kuliti ketakutan ditengah panggung sendiri, kembali kuhela nafas paling panjang yang kubisa sebelum memasuki ruangan bertuah ini. Di depan pintunya tertera SIDANG SKRIPSI MEIVA MUTIA R. Kupejamkan mata sejenak, mencoba menyenandungkan kembali nada-nada yang dulu kita mainkan melodinya dan dikta rapal liriknya. Hal itu setidaknya mampu mendamaikan hatiku barang sejenak. Aku membuka pintu, membiarkan apapun namanya ini berakhir seperti alunan Lembayung KotoBaru kita bertahun-tahun lalu. Semoga berakhir sempurna juga dan segera, aku jadi sarjana. Seperti halnya kau, Zul, teman tergilaku sepanjang masa.

(Meja Kerja-Malam Satu Maret yang Basah di Guyuri Hujan, 2015)



 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang