Masih tentangmu, Zul..
Aku berdiri di luar ruangan itu
dengan kaki serasa tak menapak, melayang-layang. Selera makanku hilang,
perasaan tak karuan, semua ini sidang sarjanalah yang punya pasal. Saat kurobek
lembaran kalender pagi ini, tanggal 12 Agustus 2014, konsentrasiku buyar,
sungguh hari ini sudah menjadi daftar rencana jangka panjangku semenjak lama
berselang, namun rasanya sedikit sesak tatkala menyambutnya datang. Dadaku
bergemuruh saat mengumpulkan semua buku-buku yang kuharap mampu menengahi
gusarku saat di uji nanti, namun tumpukan buku setebal dinding itu tak juga
memberiku ruang. Aku semakin blingsatan.
Semoga
sidangnya berjalan lancar, nak. Ibu mendo’akan dari jauh.
Ah, pesan singkat itu cukup
mampulah rasanya mengurai gamang. Ibu, doakan aku, nyaris tak terdengar aku
berbicara sendiri. Cukup lama aku memejamkan mata, mencoba mengumpulkan semua
energi positif disekitarku. Semua bayangan bermain seperti kilasan film
kolosal, berganti-ganti menampilkan semua moment yang telah membawaku pada hari
ini. Salah satunya kau, Zul. Disana kuyakin kau juga tengah mengarungi gejolak
yang sama. Sidang sarjana, seberapa menakutkankah ia? Namun gambaran-gambaran
itu semakin memelam tatkala menampilkan memoriku 2009 silam. Kita juga pernah
mengalami ini sebelumnya bukan? Yah, itu terjadi saat cerobohmu justru menjadi
malapetaka bagiku.
***
“Kita menyanyi saja.” Ide yang
kau tahu akan kutolak ini justru kau lontarkan tanpa rasa bersalah. Dahiku
mengerinyit, tanda tak suka. Kau tentu hafal raut seperti ini di wajahku,
terang saja karena dia sudah menemani pemandanganmu bertahun-tahun lamanya. Ini
berkenaan dengan dua hal saja, pertama jikalau ada orang-orang tak begitu
penting mengusik hidupku atau yang kedua saat melerai ide gilamu disetujui
otakku. Kali ini, alasan yang kedua ini perkaranya.
“Menyanyi? Kau gila?” Aku sepuluh
ribu persen menolak mentah.
“Kenapa?” Matamu yang
kekanak-kanakan itu kadangkala membuatku jengah juga. Pernahkah terfikir olehmu
jika aku tak lebih dari tumbal dari segala ide-ide yang senantiasa blusukan di
otakmu itu, Zul? Menyanyi? Di depan ratusan orang? Yang benar saja.
“Ayolah, kau hanya perlu
menyanyikan satu lagu saja, ini demi harga diri kita. Semua orang sudah
mempersiapkan segalanya untuk acara minggu depan, tinggal kita teman.” Begitu
rengekmu. Namun belum kuasa juga merobohkan kebertahanan ‘tidak’-ku.
“Ah, tidak.. tidak.., ini juga
perihal harga diriku, enak saja.” Aku terus saja dengan pekerjaanku,
mengabaikanmu.
“Ayolah, jangan bikin aku hilang
muka di depan panitia lah, Mut. Kita tampilnya sesi ke dua kok, ba’da dzuhur,
pasti penontonnya mulai sepi.”
“Apa??” Rasanya ingin keluar kedua
bola mataku memelototimu yang sama sekali merasa tak berdosa telah mendaftarkan
nama kita sebagai pengisi acara tanpa sepengetahuanku. Kau senyam-senyum tanpa
sedikitpun peduli padaku. Begitulah kau, Zul. Entah kenapa sikap memaksamu itu
tak jua hendak hengkang dari kepalamu itu. Menyanyi itu pilihan terakhir dalam
hidupku, sungguh panggung sudah bermusuhan denganku semenjak lama. Lantas,
kenapa harus lagi-lagi. Ah Zul, entah sumpah serapah apa yang bagusnya kurapal
demi membuatmu membatalkannya, namun sepertinya kau sudah terlalu biasa
menanggapi sikap meledak-ledakku.
Hari itu datang juga pada
akhirnya. Lima belas menit yang sudah sukses menyita kenyamananku seminggu
itupun tiba. Kau sudah siap dengan dandanan terbaikmu, menyandang sebuah gitar
yang ujung-ujungnya akan kau pindah tangankan juga padaku.
“Siap?” Kau terlihat
berbinar-binar
Aku melihatmu dengan dahi
mengerinyit itu lagi. Kau memainkan kedua alismu naik turun, mencoba
menggodaku. Aku menatapmu marah. Kau diam, pasang tampang lugu dan manis.
Gelegar suara MC memecah
lamunanku seketika, nama kita terpanggil lewat pengeras suara. Akh,
tenggorokanku tercekat. Apa yang harus kulakukan? Gitar dalam genggaman mulai
basah karena keringat di tanganku. Aku Phobia tampil, punya riwayat demam yang
tak ada pil pengobatnya di apotik manapun, demam panggung. Namun yang membuatku
semakin geram, kau dengan lincahnya berjalan ke arah depan penonton meraih
mikrofon dan berbicara ini itu perihal penampilan yang akan segera kita
suguhkan, kita? Bukan, lebih tepatnya yang aku suguhkan, karena kenyataannya
setelah cuap-cuapmu yang sedemikian lama itu, kau justru meninggalkanku disana
sendirian.
“Aku backing vocal ya.” Begitu bisikmu menepuk bahuku. Sial! Ini
benar-benar jebakan. Aaargh Zul, tunggu balasanku selepas ini. Batinku menjerit
histeris.
Walau menggigil kuraih juga
mikrofon itu mendekat, menggeser standing
mic-nya sesuai posisi berdiriku, memukul-mukulnya dengan telunjukku ala-ala
Bupati sebelum berpidato. Demi tuhan segala cara sudah kukerahkan untuk
menenangkan gemuruh dalam dadaku. Namun tetap saja, aku ketakukan setengah mati
saat mataku bertemu mata penonton. Ini yang namanya sepi? Penonton malah lebih
membludak selepas sholat dzuhur dan makan siang. Aku seperti di lumat
hidup-hidup. Kumohon, gempa bumi, putting beliung atau apa saja, selamatkan aku
dari sini. Aku bahkan merapal do’a yang tidak-tidak.
Jreng.. Petikan gitar pertamaku
bergema sudah. Semua hening, menatapku. Alamak, aku lupa kuncinya. E kah C kah
G kah, semua berenang-renang dalam kepalaku. Aku nyaris menyerah saat tiba-tiba
kau melangkah kedepan.
“Sambutan yang meriah untuk rekan
kita, Mutia…” Suaramu yang cempreng itu cukup membantu juga ternyata. Penonton
riuh bertepuk tangan menyambutku. Kuhela nafas paling panjang yang kubisa, memejamkan
mata, membiarkan jari-jariku memainkan musiknya dan nada yang kuingat
mengiringi liriknya.
Menatap lembayung di Koto Baru.. (Harusnya kita minta izin dulu
pada Saras Dewi, karena Lembayung Bali-nya kita ganti. Ini gubahanmu, kau tau?)
Dan kusadari,
betapa berharga kenanganmu
Dikala jiwaku
tak terbatas bebas berandai mengulang waktu
Hingga masih bisa
kuraih dirimu, sosok yang mengisi kehampaan kalbuku
Bilakah
diriku berucap maaf, masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu, oh cinta
Teman yang
terhanyut arus waktu, mekar mendewasa masih kusimpan suara tawa kita
Kembalilah
sahabat lawasku semarakkan keheningan lubuk,
Hingga masih
bisa kurangkul kalian sosok yang mengaliri jawara hidupku
Bilakah kita
menangis bersama tegar melawann tempaan semangatmu itu oh jingga
Hingga masih
bisa kuraih dirimu sosok yang mengisi kehampaan kalbuku
Bilakah kini
berucap maaf, masa yang kuingkari dan meninggalkanmu, oh jingga
Hingga masih
bisa kurangkul kalian sosok yang mengaliri jawara hidupku
Bilakah kita
menangis bersama tegar melawann tempaan semangatmu itu oh jingga
Hingga masih,
bisa kujangkau cahaya senyum yang menyalakan hasrat diriku,
Bilakah
kuhentikan pasir waktu tak terbendung dari khayal keajaiban ini, oh mimpi..
Andai ada satu cara, tuk kembali menatap
agung suryamu, lembayung kotobaru…
Petikan gitarku berakhir
dramatis, lagu itu berakhir sempurna tak ada cela. Sedang kau Zul, kulihat
mengusap-ngusap sudut matamu yang mulai di genangi cairan tak disangka. Air
mata. Kita berjanji bahwa tak akan pernah menangis bukan? Tapi kau melanggar
janji kita. Gemuruh sorak-sorak penonton lebih menggila lagi, sepertinya
keharuan yang dihadirkan senandung dadakan kita barusan mulai menulari naluri
mereka. Aku turun panggung, megah dengan puja dan puji tak berkesudahan
sepanjang sore. Hantu-hantu itu hilang seketika, aku melenggang ringan, beban
berat itupun lenyap tanpa di duga. Aku berhasil menyanyikannya. Benar-benar
menyanyikannya, harga diriku terselamatkan.
“Ah, Gita Gutawa, kubilang juga
apa.” Kau merangkul bahuku, meski agak kesusahan menaikkan tumitmu demi
menyamaiku. Kau benar-benar pendek, Zul. Aku menjitak kepalamu. Namun kau tidak
peduli, senyum sumringahmu menari-nari di pelupuk mataku.
“Kau benar-benar tega,
membiarkanku disana sendirian saja.”
Lagi-lagi kau tersenyum. “Jangan
sampai suara Sang Dewi-ku menggeser posisi Gita Gutawa-mu, aku hanya
menghargaimu, teman.” Aku kembali menjitak kepalamu.
“Kan sudah kubilang, aku backing
vocal. Posisiku ya dibelakang. Ini soal harga diri, kau tahu? Ah lembayung
KotoBaru, kamu benar-benar memesona Meivaaaaaa.” Sambungmu berjingkrang-jingkrak
kegirangan, mencubiti kedua pipiku. Aku lupa harus marah tadinya, hanya tawa
yang mengiringi kelakuanmu.
Tak pernahkan kau sadari itu, Zul.
Kau selalu saja bisa memaksaku untuk melakukan semua hal yang menurut kamusku
haram untuk dilakukan. Cara seperti itu tak lagi kutemui disini. Tak ada
semangat membara sepertimu yang mampu mengaliriku sampai urat nadi, tidak lagi,
Zul. Hanya kau. Semangat itu yang tengah kubutuhkan saat ini. Saat aku tengah
dihinggapi demam panggung lagi menjelang sidang skripsi.
***
Seperti yang terdahulu, seperti
ketika aku tengah di kuliti ketakutan ditengah panggung sendiri, kembali kuhela
nafas paling panjang yang kubisa sebelum memasuki ruangan bertuah ini. Di depan
pintunya tertera SIDANG SKRIPSI MEIVA MUTIA R. Kupejamkan mata sejenak, mencoba
menyenandungkan kembali nada-nada yang dulu kita mainkan melodinya dan dikta
rapal liriknya. Hal itu setidaknya mampu mendamaikan hatiku barang sejenak. Aku
membuka pintu, membiarkan apapun namanya ini berakhir seperti alunan Lembayung
KotoBaru kita bertahun-tahun lalu. Semoga berakhir sempurna juga dan segera,
aku jadi sarjana. Seperti halnya kau, Zul, teman tergilaku sepanjang masa.
(Meja Kerja-Malam Satu Maret yang
Basah di Guyuri Hujan, 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar