Kamis, 05 Februari 2015

Rahasia Hening

Ada rahasia dibalik keheningan..
Dimana diam menari menggiring sunyi..
Dan kebisuan berbisik mengusik damai hati..
Aku ringkuk dalam gamangku hari ini..
Belajar mengurai sepi..

Lalu balada pekat menyenandungkan kehangatan malam..
Dimana seulas bayang bulan perak menembus kelam mengguratkan terang..
Binar kejora bak selaksa rindu tak bertepi..
Perlahan, cahaya pun membias pagi..

Aku masih dengan sendiriku..
Meniti lengangku hingga saat esok kembali..
Menghalau sedih kemarin agar tak lagi membayang angan..
Lalu berlari sekencang yang ku bisa..
Mengejar asa, menggapai mimpi..

Lubuksikaping, 6th Feb 2015

Aku Selalu Ingat



Aku selalu ingat..
Karena aku selalu menuliskannya, dilembar-lembar hidupku..dilembar-lembar ingatanku..
Aku tidak pula lantas lupa,
Karena aku tidak ingin menghapusnya, dari serpihan-serpihan waktuku..dari rangkaian larik puisiku..

Semudah itu..
Sesederhan itu..
Tapi itu sebuah makna, dalam ingatku..
Bagaimana laun detik bersuara dan aku menapaki setiap menit hingga jutaan hari jadi waktu terindah dalam hidupku untuk mengingatmu..
Mengingatmu,
Yang belum lagi kuketahui adalah seseorang yang dilahirkan untukku..
Tapi jauh disini, hati kecilku..ada tempat terindah untuk sebuah harapan terindah bahwa suatu saat seseorang yang kutemui itu, seseorang yang telah kuingat itu adalah kau..

Itu saja..

Batusangkar-March 13th 2013

Tersesat..



Dan september pun merekah, menyisakan pedih agustus lalu yang entah bagaimana harusnya kutengahi. Aku tidak sedang mencoba menuntut siapapun untuk mengerti sakitku ini, hanya saja kadangkala aku sampai jua di titik lemahku bahwa aku tidak sepenunya sehebat itu. Karena kadangkala tiba-tiba aku mendapati diriku dalam kesepian yang mengerikan, membuatku seperti perempuan paling bodoh didunia karena menghabiskan detik dalam hidupku hanya untuk mengenang kisah bodoh ini. Aku berusaha, demi tuhan! Berusaha keras agar air mata ini tak lagi mengalir deras, tapi aku butuh waktu lebih untuk meyakinkan diriku tentang kenyataan ini.
Sampai kapan? Pertanyaan besar itu menggerogotiku otakku seperti sel kanker. Aku bisa-bisanya duduk berjam-jam hanya untuk mencoba mengurai semuanya dan perang dalam diriku semakin memperparah pemahamanku. Kadang sempat aku berfikir, apakah keputusan ini memang yang terbaik? Ataukah hanya aku tergesa-gesa dengan segalanya? Lalu ketika semua suara berbicara dalam otakku, rasanya aku ingin berteriak sekuat tenaga agar semuanya diam!
Waktu yang akan membuatmu mengerti semuanya, katamu! aku tidak ingin mengerti, tak perlu juga membuatku mengerti, aku hanya ingin tenang, hidup  baik-baik saja seperti halnya aku sebelum ini. Tapi rasanya terlalu cepat berharap jika setiap kali membuka mata, nama yang kuingat adalah nama nya. Lagi-lagi aku kalah, begitu yang diteriakkan seseorang dikepalaku.
Setiap kali akau mencoba menyalahkan semuanya, aku pasti akan berpura-pura berbalik pada satu titik bahwa ini memang akhir yang dituliskan untukku. Tapi, sepertinya hatiku menerimanya tidak sesempurnya bunyinya. Aku masih menyisakan sesal bahwa apa yang telah kuusahakan selama ini harus berakhir sia-sia, siapa saja mungkin akan menerimanya sebagai hal yang wajar. Siapa saja? Benarkan siapa saja, atau hanya aku.
Lalu aku mulai berfikir lagi dalam diam, bahwa sebenarnya semuanya adalah jawaban tuhan atas segala keraguanku. Aku ragu, ya ragu, bahkan sejak dulu. Tapi, tetap saja ada yang berteriak dalam diriku bahwa semaunya tetap saja tidak adil!
Apakah kisahku sebenarnya tidak sesempurna itu?
Mungkin aku yang terlalu menilainya berlebihan, atau justru mereka yang melihatnya terlalu berlebihan. Pad akhirnya, satu kesadaran muncul bahwa kisah ini sangat tidak sempurna, bahkan dari awal. Dan kemudian rahasia kecil tentang takdir yang mempertemukan kita itupun tertepis dengan sendirinya. Bahwa sebenarnya takdir mempermainkan kita dari awal. Bagaimana tidak, sekian kali aku dibawa pada harapan seperti ini. Kita bertemu, lalu dipisahkan, lalu dipertemukan lagi, lalu dipisahkan lagi yang untuk kali ini aku tak ingin lagi ada pengharapan.
Kau tentunya masih ingat dengan jelas bahwa, aku tidak mencintaimu sejak pertemuan pertama. Butuh beberapa tahun untukku menerima seaglanya tentangmu, sempurna dan tidak sempurnanya kamu. Lalu perlahan keraguan ku mulai tersibak oleh rasa yang tanpa kusadari sudah sebesar ini. Dan bagaimanapun aku mengurai kisah ini lagi toh semuanya telah selesai. Kita bisa pulang sekarang, karena film nya telah selesai.
Yang, pulang, itu mungkin lebih baik. Namun satu permasalahn lagi muncul. Aku mememukan jalanku untuk mencintaimu. Lalu terhanyut seiring perjalanku menuju padamu hingga lupa jejak yang kutingalkan. Dan ketika saatnya ternyata aku harus kembali, karena ternyata jalan itu hilang ditengah perjalananku, aku  mendapati diriku tersesat. Tak tau kemana harusnya aku melangkah lagi, aku tersesat. Sementara kau menemukan jalan lain yang bukan jalanku. Mungkin ini yang dimaksud tak tau bagaimana harusnya kembali. Seperti berada dalam kegelapan pekat, aku berusaha menyibak kelam, tapi berkali-kali aku hanya jatuh dan melukai diriku sendiri. Berkali-kali aku mendapati diriku menangis sendiri.
Dan aku masih ditengah perjalanan menyedihkan ini. Hari ini. Tak peduli seberapa kuat aku berlari, toh aku tetap tak menemukan matahari, arah jalan pulangku. Terlalu konyol sebenarnya membiarkan diriku berlama-lama ditengah belantara ini, pasti ada petunjuk lain. Begitu yang hatiku coba yakini, bahwa ada petunjuk lain yang akan membawaku pulang. Dan diujung sana, akan ada seseorang menungguku pulang. Yang membuka tangannya lebar untuk mendekapku dalam kedinginan, yang akan menjagaku agar tidak lagi tersesat.
Huft, terlalu cepat untuk berharap!
Karena aku masih ditengah pekat yang kiat mencekat ini.

BSK-Sebelum ulang tahunmu yang ke 28, cahaya yang bukan untukku!

Teruntuk sahabatku disana..



Apa kabar?
Masihkan senang berkelana atau tengah merajut asa baru untuk kau ceritakan padaku nanti, sepulangnya dari perjalanan yang panjang ini?
Atau kau tengah menikmati mimpi-mimpi itu? Berjalan menjauh, mengikuti arus waktu..
Aku tersenyum melihat langit hari ini..
Sebuah siang di kota kecil ini,
lewat tulisan ini aku ingin bercerita, tentang sebuah kerinduan pada sebuah masa yang pernah menjadi bagian hidup kita.. sebuah cerita yang pernah menjadi ruang bagi gerak kita.. ingin mengingatnya sekeras aku bisa, entah bagaimana membuatku ingin kembali..
Tulisan ini membawaku jauh..
Membawaku luruh,
Bahwa pada hari ini kita menapaki jalan yang berbeda,. Yang tidak pernah tau apakah jalan itu akan membawa kita pada sebuah tempat yang sama lagi di kemudian hari..
Tapi begitulah janji waktu, kejam memang.. karena dia tidak pernah memberi kepastian tentang masa depan..
Bagaimanakah disana?
Adakah langitnya sebiru langit kita dulu..?
Yang pernah kita ukir bersama pelangi..
Ingat sebuah tawa yang dulu kita punya, seperti tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.. kita selalu bahagia waktu itu, aku tak pernah lupa itu..
Dan setelah tahun-tahun yang panjang ini,
aku ingin kembali..
ingin pulang ketempat dimana cerita itu dulu kita mulai..
hanya satu saja ketakutanku detik ini, apakah jalan kembali kita menuju arah yang sama? Apakah kita menuju tempat yang sama?

Teriring kerinduanku padamu teman..
Aku ingin melihat dunia saat kalian genggam tanganku lagi,. Ingin berlari lagi bersama angin.. bernyanyi lagi bersma hujan..

Aku rindu kalian..

Mutia

Bersama Mentari..



Dan aku kembali mengingatmu..
Seperti biasa, secangkir kopi dari gelas yang sama, menunggu pesan singkatmu yang berujar “selamat pagi”, tersenyum aku membalasnya..”selamat pagi juga..”
Cerita ini dimulai sudah lama sekali, dan ini bukan hanya tentang aku dan kau..tapi juga mereka..
Bahagiaku..bahagiamu..bahagia mereka..
Senang rasanya melihat dunia tahu, bahwa aku mencintai..dan itu mencintaimu..
Membuat sebuah pagi lagi dengan suaramu terus terngiang di telingaku walau dengan rentang jarak ini..

Sebuah siang, menu makan siang yang sama.. Aku masih duduk dengan buku terbuka dan sesekali melirik ponselku, menunggu pesan darimu..
Sebuah matahari lagi untuk menunggu sore, selepas semua kelasku hari ini ada malam yang ingin kulewati, satu malam lagi untuk terus menunggumu kembali..
Aku merindukanmu, aku merasakan bisikanmu..
Itu yang ingin terus kudengar darimu tak peduli seberapa jauh kau harus pergi.

Sebuah langit yang sama seperti yang kita lihat tahun-tahun sebelumnya.. Meski kau ditempat berbeda, kita masih bisa melihat bulan yang sama..
Kau tersenyum, ketika kalimat itu kuucapkan, dan itu yang terus membayang diingatanku hingga mata ini terpejam dan aku terlelap..
Haah, satu hari lagi tanpamu disini..
Tak apa, toh waktu tidak akan membunuhku selagi aku masih setia bersamanya menantimu..

Takdir tak memberiku banyak pilihan, sedang aku tak punya banyak waktu untuk terus memikirkannya. Aku tidak punya cukup waktu untuk memikirkan kenapa hal itu harus terjadi.. Karena itu memang sudah begitu. Hidup ditempat ini tidak memberiku kesulitan, hanya saja aku sendiri.. Dan aku benci sendiri..
Dan kau disana,
Membawa mimpimu, membawa asamu.. Sejauh apapun itu, mimpi kan membawamu kembali. Aku percaya itu..

Sebuah pagi lagi, secangkir kopi dari gelas yang sama.. Aku tersenyum pada matahari, mengingatkanku tentang cerita itu..cerita kita.
Bersama mentari kau bawa aku pada sebuah makna,
Bersama mentari kau bawa aku pada sebuah cinta..

Batusangkar, 2012

Barangkali ada baiknya..



Barangkali ada baiknya, kau abadikan kata-katamu itu dalam puisi. Kuatir aku jika lupa dan kau marah padaku dan bertanya lagi arti kesetiaan..
Kau tertawa..
Barangkali ada baiknya, gerakkan penamu mengguratkan puisi itu..
Dan aku bukan penyair kalau begitu, sebab kuatir aku kau mencemoohiku dan mengatakan puisimu bukan puisiku.. Kau menatapku dan aku tahu itu dengan rasa dan itu dengan cinta..

Kupindahkan secarik kertas putih kehadapanmu, kau menoleh tanpa henti tertawa. Namun kau tulis juga akhirnya dan aku melongo menantimu..
Barangkali ada baiknya jika kutunggu kau selesai sembari menulis juga. Dan akupun menulis pada akhirnya..
Cukup lama, kau memanggilku dan mengembalikan kertas itu..

Dan itu kosong.. Aku menoleh padamu dan kau tersenyum padaku..

Barangkali ada baiknya, pada langit yang terbentang ini aku berpuisi untukmu.. Dia akan mengingatkanmu lewat hujan jika kau mulai lupa..
Atau pada hamparan laut ini aku bersyair untukmu, pesan ombaknya pasti akan menyadarkanmu,

bahwa alam mengajariku cinta.., begitu ungkapmu..

Padangpanjang, 2010
 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang