Barangkali ada
baiknya, kau abadikan kata-katamu itu dalam puisi. Kuatir aku jika lupa dan kau
marah padaku dan bertanya lagi arti kesetiaan..
Kau tertawa..
Barangkali ada
baiknya, gerakkan penamu mengguratkan puisi itu..
Dan aku bukan penyair
kalau begitu, sebab kuatir aku kau mencemoohiku dan mengatakan puisimu bukan
puisiku.. Kau menatapku dan aku tahu itu dengan rasa dan itu dengan cinta..
Kupindahkan secarik
kertas putih kehadapanmu, kau menoleh tanpa henti tertawa. Namun kau tulis juga
akhirnya dan aku melongo menantimu..
Barangkali ada
baiknya jika kutunggu kau selesai sembari menulis juga. Dan akupun menulis pada
akhirnya..
Cukup lama, kau
memanggilku dan mengembalikan kertas itu..
Dan itu kosong.. Aku
menoleh padamu dan kau tersenyum padaku..
Barangkali ada
baiknya, pada langit yang terbentang ini aku berpuisi untukmu.. Dia akan
mengingatkanmu lewat hujan jika kau mulai lupa..
Atau pada hamparan
laut ini aku bersyair untukmu, pesan ombaknya pasti akan menyadarkanmu,
bahwa alam
mengajariku cinta.., begitu ungkapmu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar