Dan september pun merekah, menyisakan pedih
agustus lalu yang entah bagaimana harusnya kutengahi. Aku tidak sedang mencoba
menuntut siapapun untuk mengerti sakitku ini, hanya saja kadangkala aku sampai
jua di titik lemahku bahwa aku tidak sepenunya sehebat itu. Karena kadangkala
tiba-tiba aku mendapati diriku dalam kesepian yang mengerikan, membuatku
seperti perempuan paling bodoh didunia karena menghabiskan detik dalam hidupku
hanya untuk mengenang kisah bodoh ini. Aku berusaha, demi tuhan! Berusaha keras
agar air mata ini tak lagi mengalir deras, tapi aku butuh waktu lebih untuk
meyakinkan diriku tentang kenyataan ini.
Sampai kapan? Pertanyaan besar itu
menggerogotiku otakku seperti sel kanker. Aku bisa-bisanya duduk berjam-jam
hanya untuk mencoba mengurai semuanya dan perang dalam diriku semakin
memperparah pemahamanku. Kadang sempat aku berfikir, apakah keputusan ini
memang yang terbaik? Ataukah hanya aku tergesa-gesa dengan segalanya? Lalu
ketika semua suara berbicara dalam otakku, rasanya aku ingin berteriak sekuat
tenaga agar semuanya diam!
Waktu yang akan membuatmu mengerti
semuanya, katamu! aku tidak ingin mengerti, tak perlu juga membuatku mengerti,
aku hanya ingin tenang, hidup baik-baik
saja seperti halnya aku sebelum ini. Tapi rasanya terlalu cepat berharap jika
setiap kali membuka mata, nama yang kuingat adalah nama nya. Lagi-lagi
aku kalah, begitu yang diteriakkan seseorang dikepalaku.
Setiap kali akau
mencoba menyalahkan semuanya, aku pasti akan berpura-pura berbalik pada satu
titik bahwa ini memang akhir yang dituliskan untukku. Tapi, sepertinya hatiku
menerimanya tidak sesempurnya bunyinya. Aku masih menyisakan sesal bahwa apa
yang telah kuusahakan selama ini harus berakhir sia-sia, siapa saja mungkin
akan menerimanya sebagai hal yang wajar. Siapa saja? Benarkan siapa saja, atau
hanya aku.
Lalu aku mulai
berfikir lagi dalam diam, bahwa sebenarnya semuanya adalah jawaban tuhan atas
segala keraguanku. Aku ragu, ya ragu, bahkan sejak dulu. Tapi, tetap saja ada
yang berteriak dalam diriku bahwa semaunya tetap saja tidak adil!
Apakah kisahku
sebenarnya tidak sesempurna itu?
Mungkin aku yang
terlalu menilainya berlebihan, atau justru mereka yang melihatnya terlalu
berlebihan. Pad akhirnya, satu kesadaran muncul bahwa kisah ini sangat tidak
sempurna, bahkan dari awal. Dan
kemudian rahasia kecil tentang takdir yang mempertemukan kita itupun tertepis
dengan sendirinya. Bahwa sebenarnya takdir mempermainkan kita dari awal.
Bagaimana tidak, sekian kali aku dibawa pada harapan seperti ini. Kita bertemu,
lalu dipisahkan, lalu dipertemukan lagi, lalu dipisahkan lagi yang untuk kali
ini aku tak ingin lagi ada pengharapan.
Kau tentunya masih ingat dengan jelas
bahwa, aku tidak mencintaimu sejak pertemuan pertama. Butuh beberapa tahun
untukku menerima seaglanya tentangmu, sempurna dan tidak sempurnanya kamu. Lalu
perlahan keraguan ku mulai tersibak oleh rasa yang tanpa kusadari sudah sebesar
ini. Dan bagaimanapun aku mengurai kisah ini lagi toh semuanya telah selesai.
Kita bisa pulang sekarang, karena film nya telah selesai.
Yang, pulang, itu mungkin lebih baik. Namun
satu permasalahn lagi muncul. Aku mememukan jalanku untuk mencintaimu. Lalu
terhanyut seiring perjalanku menuju padamu hingga lupa jejak yang kutingalkan.
Dan ketika saatnya ternyata aku harus kembali, karena ternyata jalan itu hilang
ditengah perjalananku, aku mendapati
diriku tersesat. Tak tau kemana harusnya aku melangkah lagi, aku tersesat.
Sementara kau menemukan jalan lain yang bukan jalanku. Mungkin ini yang
dimaksud tak tau bagaimana harusnya kembali. Seperti berada dalam kegelapan
pekat, aku berusaha menyibak kelam, tapi berkali-kali aku hanya jatuh dan
melukai diriku sendiri. Berkali-kali aku mendapati diriku menangis sendiri.
Dan aku masih ditengah perjalanan
menyedihkan ini. Hari ini. Tak peduli seberapa kuat aku berlari, toh aku tetap
tak menemukan matahari, arah jalan pulangku. Terlalu konyol sebenarnya
membiarkan diriku berlama-lama ditengah belantara ini, pasti ada petunjuk lain.
Begitu yang hatiku coba yakini, bahwa ada petunjuk lain yang akan membawaku
pulang. Dan diujung sana, akan ada seseorang menungguku pulang. Yang membuka
tangannya lebar untuk mendekapku dalam kedinginan, yang akan menjagaku agar
tidak lagi tersesat.
Huft, terlalu cepat
untuk berharap!
Karena aku masih
ditengah pekat yang kiat mencekat ini.
BSK-Sebelum ulang
tahunmu yang ke 28, cahaya yang bukan untukku!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar