Kamis, 05 Februari 2015

Tersesat..



Dan september pun merekah, menyisakan pedih agustus lalu yang entah bagaimana harusnya kutengahi. Aku tidak sedang mencoba menuntut siapapun untuk mengerti sakitku ini, hanya saja kadangkala aku sampai jua di titik lemahku bahwa aku tidak sepenunya sehebat itu. Karena kadangkala tiba-tiba aku mendapati diriku dalam kesepian yang mengerikan, membuatku seperti perempuan paling bodoh didunia karena menghabiskan detik dalam hidupku hanya untuk mengenang kisah bodoh ini. Aku berusaha, demi tuhan! Berusaha keras agar air mata ini tak lagi mengalir deras, tapi aku butuh waktu lebih untuk meyakinkan diriku tentang kenyataan ini.
Sampai kapan? Pertanyaan besar itu menggerogotiku otakku seperti sel kanker. Aku bisa-bisanya duduk berjam-jam hanya untuk mencoba mengurai semuanya dan perang dalam diriku semakin memperparah pemahamanku. Kadang sempat aku berfikir, apakah keputusan ini memang yang terbaik? Ataukah hanya aku tergesa-gesa dengan segalanya? Lalu ketika semua suara berbicara dalam otakku, rasanya aku ingin berteriak sekuat tenaga agar semuanya diam!
Waktu yang akan membuatmu mengerti semuanya, katamu! aku tidak ingin mengerti, tak perlu juga membuatku mengerti, aku hanya ingin tenang, hidup  baik-baik saja seperti halnya aku sebelum ini. Tapi rasanya terlalu cepat berharap jika setiap kali membuka mata, nama yang kuingat adalah nama nya. Lagi-lagi aku kalah, begitu yang diteriakkan seseorang dikepalaku.
Setiap kali akau mencoba menyalahkan semuanya, aku pasti akan berpura-pura berbalik pada satu titik bahwa ini memang akhir yang dituliskan untukku. Tapi, sepertinya hatiku menerimanya tidak sesempurnya bunyinya. Aku masih menyisakan sesal bahwa apa yang telah kuusahakan selama ini harus berakhir sia-sia, siapa saja mungkin akan menerimanya sebagai hal yang wajar. Siapa saja? Benarkan siapa saja, atau hanya aku.
Lalu aku mulai berfikir lagi dalam diam, bahwa sebenarnya semuanya adalah jawaban tuhan atas segala keraguanku. Aku ragu, ya ragu, bahkan sejak dulu. Tapi, tetap saja ada yang berteriak dalam diriku bahwa semaunya tetap saja tidak adil!
Apakah kisahku sebenarnya tidak sesempurna itu?
Mungkin aku yang terlalu menilainya berlebihan, atau justru mereka yang melihatnya terlalu berlebihan. Pad akhirnya, satu kesadaran muncul bahwa kisah ini sangat tidak sempurna, bahkan dari awal. Dan kemudian rahasia kecil tentang takdir yang mempertemukan kita itupun tertepis dengan sendirinya. Bahwa sebenarnya takdir mempermainkan kita dari awal. Bagaimana tidak, sekian kali aku dibawa pada harapan seperti ini. Kita bertemu, lalu dipisahkan, lalu dipertemukan lagi, lalu dipisahkan lagi yang untuk kali ini aku tak ingin lagi ada pengharapan.
Kau tentunya masih ingat dengan jelas bahwa, aku tidak mencintaimu sejak pertemuan pertama. Butuh beberapa tahun untukku menerima seaglanya tentangmu, sempurna dan tidak sempurnanya kamu. Lalu perlahan keraguan ku mulai tersibak oleh rasa yang tanpa kusadari sudah sebesar ini. Dan bagaimanapun aku mengurai kisah ini lagi toh semuanya telah selesai. Kita bisa pulang sekarang, karena film nya telah selesai.
Yang, pulang, itu mungkin lebih baik. Namun satu permasalahn lagi muncul. Aku mememukan jalanku untuk mencintaimu. Lalu terhanyut seiring perjalanku menuju padamu hingga lupa jejak yang kutingalkan. Dan ketika saatnya ternyata aku harus kembali, karena ternyata jalan itu hilang ditengah perjalananku, aku  mendapati diriku tersesat. Tak tau kemana harusnya aku melangkah lagi, aku tersesat. Sementara kau menemukan jalan lain yang bukan jalanku. Mungkin ini yang dimaksud tak tau bagaimana harusnya kembali. Seperti berada dalam kegelapan pekat, aku berusaha menyibak kelam, tapi berkali-kali aku hanya jatuh dan melukai diriku sendiri. Berkali-kali aku mendapati diriku menangis sendiri.
Dan aku masih ditengah perjalanan menyedihkan ini. Hari ini. Tak peduli seberapa kuat aku berlari, toh aku tetap tak menemukan matahari, arah jalan pulangku. Terlalu konyol sebenarnya membiarkan diriku berlama-lama ditengah belantara ini, pasti ada petunjuk lain. Begitu yang hatiku coba yakini, bahwa ada petunjuk lain yang akan membawaku pulang. Dan diujung sana, akan ada seseorang menungguku pulang. Yang membuka tangannya lebar untuk mendekapku dalam kedinginan, yang akan menjagaku agar tidak lagi tersesat.
Huft, terlalu cepat untuk berharap!
Karena aku masih ditengah pekat yang kiat mencekat ini.

BSK-Sebelum ulang tahunmu yang ke 28, cahaya yang bukan untukku!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang