Selasa, 24 Februari 2015

Telor Dadar Landasan Pesawat dan Bakwan Tiket ke Mesir

Ini karena kau merengek memintaku menceritakannya lagi. Baiklah Zul, kupenuhi permintaanmu yang kesekian ini..

Kau tentu ingat menu favorit kita selama di asrama bukan? Telur dadar. Yah, benar sekali. Entah pesona apa yang di bawa penganan dari telur itu hingga kita begitu tergila-gila padanya. Ups, tapi benarkah begitu? Kita sebegitu sukanya? Atau memang karena satu-satunya menu yang akan selalu tersedia pada jam makan hanya itu? Kau jawab saja sendiri !

Telur dadar itu setidaknya pernah menjadi saksi kerelaanku menerima segala sesuatu tentangmu. Kau tentu masih ingat suatu kali entah lelucon apa kiranya yang kuceritakan padamu saat jam makan malam, aku sedikit lupa, lalu kau yang tengah dengan lahapnya menandaskan makan malam bermenukan telur dadar itu justru terbatuk dahsyat, tak kuat menahan tawa. Jadilah aku, Zul, yang baru saja selesai mandi dan harum mewangi kau sembur dengan lumatan makanan penuh di mulutmu tepat di mukaku. Bukannya menolongku membersihkannya, kau malah tertawa terpingkal-pingkal membiarkanku begitu saja. Ini juga salah satu cerita berkesan tentang kita yang tak lekang di gerus masa. Karena kau akui atau tidak begitulah persahabatan kita. Indahnya hanya dimengerti oleh kita sendiri.

“Telur dadar Bu e, nduk!” Kau pasti hafal pemilik suara itu. Dia Bu e, sang juru dapur warga asrama yang jasanya senantiasa dikenang sepanjang masa. Entah siapa nama lengkapnya, kita hanya kenal Bu e panggilannya.
“Ini ada telur dadar selebar landasan pesawat, Zul.” Begitu ungkap wanita separuh baya berdarah Jawa kental itu tatkala kau tanya menu hari itu apa. Telur dadar itu memang dibuat sedemikian lebarnya hingga nyaris menutupi seluruh nasi di atas piringmu. Seperti landasan pesawat, begitu gurau Bu e. Kau tentu masih ingat bagaimana sinyal lapar itu menggerogoti kita, hingga kadang tanpa sadar berlari-lari mengejar Bu E demi bisa makan dengan selembar telur dadar buatannya. Jangan tertawa dulu, begitu kenyataannya bukan? Ah, kita memang tidak di desain untuk kuat menahan lapar. Ditambah hawa dingin Padang Panjang yang kadangkala hingga sore kabutnya tak jua hilang, siapa yang rela keroncongan kalau seperti itu ceritanya bukan? Aku hafal sekali muka kelaparanmu, Zul. Karena tak pernah sekalipun ia berhasil mebohongiku. Aku ingat jelas bagaimana lahapnya kau memusnahkan sepiring nasi dengan sebuah telur dadar lebar bundar itu saat makan, mengundang lapar bagi siapapun yang melihatnya.

Tidak pagi, siang ataupun malam, Bu E begitu setianya menyenangkan cacing-cacing di perut kita. Jika ada telur dadar selebar landasan pesawat, maka sudah pasti ada bakwan tiket ke Mesir. Ah, benar sekali. Itu desert wajibku setelah makan. Mengenyampingkan penganan pencuci mulut yang seharusnya manis, aku memilih bakwan sebagai suguhan terakhir di setiap jam makanku. Perihal bakwan inipun membawa cerita tersendiri. Kenapa tiket ke Mesir? Kau tentu ingat, tujuan kita berkuliah selepas sekolah dulu. Yah, Alexandria, teman. Kota terbesar kedua di Mesir yang terkenal dengan perpustakaan megahnya, Bilbiotecha Alexandria, surga dunia impian kita. Kuyakin kau hafal betul sorak-sorak bergembira kita bahwa suatu saat kita akan merambah benua Afrika yang hanya pernah kita lihat bentuknya di peta. Kita sama-sama berharap kala itu, agar mampu menyusul alumni kita yang telah lebih dahulu manapakkan kaki di negeri piramida, nun jauh disana.

“Ayo makan bakwan Bu e nduk, bakwan tiket ke Mesir.” Dengan tulus ikhlas Bu E menyertakan gorengan panas itu di atas piring kita. Ah, bakwan itu benar-benar sesuatu bagiku. Yang membuatku heran, dengan menu biasa seperti itu, kita tergolong sejahtera kehidupannya selama hidup disana. Bukti nyatanya, bobot tubuh kita yang tak henti-hentinya bertambah hari ke hari. Tidak heran kalau kau sempat juga kuledeki Doraemon, tokoh kartun pujaanmu. Sebab kau persis terlihat sepertinya. (Jangan marah cerita ini kubuka, ini permintaanmu kan? Aku jujur orangnya). Namun jangan bayangkan sekarang kita masih seperti Doraemon dan Dorayaki lagi. Keganasan bangku kuliah mampu juga menggerus tumpukan-tumpukan lemak di tubuh kita. Kabar baiknya, kita bisa kurus tanpa diet tersiksa. grin emoticon
Zul, walau Afrika belum lagi sempat kita jajaki tapi setidaknya mimpi itu masih saja tersimpan rapi dalam palung hatiku yang paling dalam. Mungkin kau juga berfikir begitu. Kau yang nyatanya punya kesempatan lebih besar dariku kala itu justru menyerah juga di akhirnya, ini perihal ridho orang tua. Bapak-bapak kita tercinta sungguh belum kuasa berjauahan dengan anak gadisnya, inilah yang menjadi perkara. Ridho Allah tergantung ridho orang tua, bukan? Tak bisa Afrika, Indonesia pun jadi. Begitu kira-kira. Ah, kita sarjana juga pada akhirnya dan bahkan mulai berharap kehadiran ‘Ridho-Ridho’ lain di hidup kita (Kutahan malu saat menuliskannya, Zul, ini aibmu aku tahu). 

Perkara Bu e dan menu fenomenalnya ini seringkali mengusik rinduku yang terus terpendam hingga beberapa lama. Bagaimana denganmu, Zul? Sebuah perjalanan yang sedemikian indahnya berlalu jua dari jalan hidup kita. Kadang dalam perjalanan pulangku antara Padang-Bukittinggi, seringkali aku berdebar-debar melengong ke sebelah kiri. Berharap bisa menemukan Bu e dengan bakul plastik merah menyalanya ditengah pasar sayur Kotobaru, negeri kecil kita. Seperti biasanya beliau memangku bakul cukup besar itu lalu dipenuhi berbagai macam bahan makanan untuk nantinya di masak demi kita para warga asrama. Namun sepertinya, tidak lagi, tidak ada Bu E disana. Aku luput melihatnya, namun senantiasa berharap punya waktu untuk berkunjung sekiranya bisa.

Selepas melewati pasar itupun hatiku lebih berdebar lagi, Karena setelah itu, sekolah kebanggaan kita akan segera kulewati, namun tanpa sempat kusinggahi. Bangunannya semakin gagah saja kulihat, Zul. Semarak hijaunya masih saja diselimuti kabut seperti biasa. Lalu anganku melayang jauh seketika, apakah ada Zul dan Mutia lain yang sekarang tengah menghuni kamar kita kira-kira? Kamar 4a dan 5b, aku tidak salah kan? Aku warga lantai dua sedangkan kau warga lantai pertama. Ah, aku masih ingat saja ternyata. Seperti apa kira-kira mereka? Persahabatannya sekonyol kita jugakah? Entahlah, kuyakin kaupun tak mampu menjawabnya.

Menjelang Shubuh, hari ke-25 di bulan Februari yang ceria di tahun 2015

Tentangmu, Zul



Entah sudah berapa lama kita bertegur sapa, entah sejak kapan pula cerita ini bermula, segala sesuatunya seperti terjadi begitu saja, seperti memang sudah seharusnya. Namun walau tidak sedemikian persisnya, aku masih ingat bagaimana dulu senyum lugumu menegur lucu. Ah, pendek sekali kau menurutku. Kau pun kuyakin berfikir aku sedemikian gendutnya kala itu. Seperti itulah rasanya bagaimana awalnya nama yang dalam hematmu cetar membahana itu kau eja pada awal perkenalan kita.

“Zulhasni.“ Begitu ujarmu
“Meiva Mutia R.“ Begitu pula balasku.

Kalau boleh kutambahkan, lokasi peristiwa itu tepat didepan asrama kita, asrama putri tiga, rumah yang kita tinggali bersama tiga tahun lamanya. Kau bahkan tak marah saat kupanggil Zul, nama yang lebih sering kutemui melekat pada tubuh seorang laki-laki. Zulhamdi misalnya, seperti nama guru bahasa Arab kita. Tapi secuilpun kau bahkan tidak menyiratkan rasa tidak suka. Tawamu yang benar-benar luar biasa itu menjelaskan semuanya.
“Nama keren itu hadiah dari bapakku, teman.“ Itu yang selalu kau rapal.
Aku seringkali mencandaimu perihal namamu, namun sekali lagi kukatakan, tak juga hendak kau marah padaku barang sekalipun mengenai hal itu.

Berawal dari nama, cerita-cerita lain pun kita rangkai seiring perjalanan masa SMA kita berdua. Sempat juga kita menabur benih mimpi sembari duduk-duduk di pelataran laman belakang dimana gunung Singgalang, ikon kota kita berdiri dengan gagahnya. Membelai angin yang lalu lalang menyapu wajah kita sementara sore menanjak menuju senja dan dingin semakin menggigit pori-pori kita. Lantas adzan mangrib yang di suarakan kakak-kakak putra yang menurutmu layak di jadikan suami dunia akhirat itu membahana memecah langit merah saga, kita pun berlarian, menuju sujud kepadaNya.

Pernah juga kita tergopoh-gopoh menuju ruang pustaka, hanya untuk menyambangi majalah Horison, karya Asrul Sani, Sutan Takdir Alisyahbana, Buya Hamka dan sederet nama sastrawan lainnya yang entah mengapa senantiasa membuat kita terpesona akan kata-katanya. Seringkali itu terjadi saat bel tanda istirahat yang jarang-jarang sampai suaranya ke kelas kita berdering. Berdering hanya hingga sebatas batin, karena lebih sering kita terlambat dan semua kursi di ruangan surga buku itu sudah penuh di duduki massa. Sudah sekian kali pula kita mencak-mencak pada kepala sekolah minta di pindahkan kelas. Karena kelas kita yang tepat di ujung perbatasan sekolah itupun, seringkali luput dari bel pertanda istirahat siang atau jam pulang. Waktu-waktu penting selama masa bersekolah kita.

Ingatkah juga kau Zul saat dengan sukarela kubiarkan kau menduduki satu-satunya kursi yang tersisa di ruang pustaka. Karena tak tega melihat tubuhmu yang selalu tenggelam ditengah lautan manusia itu harus berdiri lebih lama. Namun entah karena niat baikku tidak didukung fakta bahwa kursi tersisa itu sengaja tak di duduki karena sungguh memiliki cela. Jadilah kau Zul, korban satu-satunya yang harus berlapang dada menahan merah muka saat kursi tanpa dosa itu justru patah tepat saat pantatmu baru saja menyentuhnya. Tapi lagi-lagi, dengan ikhlas kau menerima semuanya.

Cerita tentangmu seperti tak ada habis-habisnya. Belia berganti dewasa, dan kita masih saja bak duo sejoli yang ketika berpapasan orang-orang akan berkata, “Dimana ada Zul sudah barang tentu ada Mutia.“ Namun waktu kiranya sudah cukup puas membiarkan kita membunuhnya berdua, karena itulah mungkin kita dipisahkan setelah sekian lama. Menapaki jejak- baru di kota yang berbeda, tapi kita masih saja Zul dan Mutia yang lama. Zul, masa depan seperti apa yang kiranya singgah dalam selaksa do’a yang pernah kau rapalkan hingga sekarang jarak ini terbentang membungkam cerita kita beberapa jenak. Dalam bayangan yang sempat singgah, kugambarkan kau dan aku bersama lagi memandang langit kota kita. Ah, sepertinya hanya tinggal khayal saja. Usia tengah meredam suka hati kita. Kelak, jika kita sama-sama sudah tua, dendangkan jugalah senandung kalbu kita yang terdahulu menjelang lelap anak dan cucumu. Setidaknya dengan begitu, kau akan terus mengingatku Zul, teman sekaligus saudaraku..

Bukittinggi, Akhir Ferbruari 2015.

Sajak Yang Kesekian..



 (Suara hati seorang perempuan yang tengah tercabik hatinya..)

Sudah kudengar ucapanmu petang kemarin. Sudah pula kupahami maksud dan tujuannya. Namun apa hendak kukata perihal ungkapan hati tuan, sedang aku belum lagi selesai mengurai sedu sedanku akibat hujan lebat yang mengguyur pada musim lalu. Aku tak hendak membawamu hanyut dalam pusaran dukaku. Tak hendak juga membebanimu dengan malang hidupku. Sungguh tak adil rasanya jika tulus rasamu harus dibalasi dengan separuh hati yang belum lagi sempurna mampu kubenahi.
Jika kukatakan aku butuh waktu, maka akupun tak tahu sampai berapa lama harusnya kubiarkan kau menunggu. Karena kuyakin kau atau siapa saja yang pernah mencinta tahu benar mengenai perkara hati. Sebab itu janganlah kau tambatkan hatimu di tepian hatiku secepat itu. Karena sungguh tak kuasa bagiku jika kau ikut terluka di tengah pengembaraanku menengahi lukaku.
Jika kau berkeinginan menunggu, tunggulah. Namun aku tak pernah mengikatmu untuk terus bersandar di pelabuhanku. Tunggulah jika hatimu berkesempatan melakukannya. Namun apabila di tengah penantianmu, hatimu dihinggapi lelah atau bahkan putus harapan. Maka akupun tak hendak juga menahanmu jika akhirnya kau memutuskan untuk beranjak pergi. Karena apapun namanya ini, aku tak pernah membebanimu dengan sebuah ikatan.
 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang