Ini karena kau merengek memintaku menceritakannya lagi. Baiklah Zul, kupenuhi permintaanmu yang kesekian ini..
Kau tentu ingat menu favorit kita selama di asrama bukan? Telur dadar. Yah, benar sekali. Entah pesona apa yang di bawa penganan dari telur itu hingga kita begitu tergila-gila padanya. Ups, tapi benarkah begitu? Kita sebegitu sukanya? Atau memang karena satu-satunya menu yang akan selalu tersedia pada jam makan hanya itu? Kau jawab saja sendiri !
Telur dadar itu setidaknya pernah menjadi saksi kerelaanku menerima segala sesuatu tentangmu. Kau tentu masih ingat suatu kali entah lelucon apa kiranya yang kuceritakan padamu saat jam makan malam, aku sedikit lupa, lalu kau yang tengah dengan lahapnya menandaskan makan malam bermenukan telur dadar itu justru terbatuk dahsyat, tak kuat menahan tawa. Jadilah aku, Zul, yang baru saja selesai mandi dan harum mewangi kau sembur dengan lumatan makanan penuh di mulutmu tepat di mukaku. Bukannya menolongku membersihkannya, kau malah tertawa terpingkal-pingkal membiarkanku begitu saja. Ini juga salah satu cerita berkesan tentang kita yang tak lekang di gerus masa. Karena kau akui atau tidak begitulah persahabatan kita. Indahnya hanya dimengerti oleh kita sendiri.
“Telur dadar Bu e, nduk!” Kau pasti hafal pemilik suara itu. Dia Bu e, sang juru dapur warga asrama yang jasanya senantiasa dikenang sepanjang masa. Entah siapa nama lengkapnya, kita hanya kenal Bu e panggilannya.
“Ini ada telur dadar selebar landasan pesawat, Zul.” Begitu ungkap wanita separuh baya berdarah Jawa kental itu tatkala kau tanya menu hari itu apa. Telur dadar itu memang dibuat sedemikian lebarnya hingga nyaris menutupi seluruh nasi di atas piringmu. Seperti landasan pesawat, begitu gurau Bu e. Kau tentu masih ingat bagaimana sinyal lapar itu menggerogoti kita, hingga kadang tanpa sadar berlari-lari mengejar Bu E demi bisa makan dengan selembar telur dadar buatannya. Jangan tertawa dulu, begitu kenyataannya bukan? Ah, kita memang tidak di desain untuk kuat menahan lapar. Ditambah hawa dingin Padang Panjang yang kadangkala hingga sore kabutnya tak jua hilang, siapa yang rela keroncongan kalau seperti itu ceritanya bukan? Aku hafal sekali muka kelaparanmu, Zul. Karena tak pernah sekalipun ia berhasil mebohongiku. Aku ingat jelas bagaimana lahapnya kau memusnahkan sepiring nasi dengan sebuah telur dadar lebar bundar itu saat makan, mengundang lapar bagi siapapun yang melihatnya.
Tidak pagi, siang ataupun malam, Bu E begitu setianya menyenangkan cacing-cacing di perut kita. Jika ada telur dadar selebar landasan pesawat, maka sudah pasti ada bakwan tiket ke Mesir. Ah, benar sekali. Itu desert wajibku setelah makan. Mengenyampingkan penganan pencuci mulut yang seharusnya manis, aku memilih bakwan sebagai suguhan terakhir di setiap jam makanku. Perihal bakwan inipun membawa cerita tersendiri. Kenapa tiket ke Mesir? Kau tentu ingat, tujuan kita berkuliah selepas sekolah dulu. Yah, Alexandria, teman. Kota terbesar kedua di Mesir yang terkenal dengan perpustakaan megahnya, Bilbiotecha Alexandria, surga dunia impian kita. Kuyakin kau hafal betul sorak-sorak bergembira kita bahwa suatu saat kita akan merambah benua Afrika yang hanya pernah kita lihat bentuknya di peta. Kita sama-sama berharap kala itu, agar mampu menyusul alumni kita yang telah lebih dahulu manapakkan kaki di negeri piramida, nun jauh disana.
“Ayo makan bakwan Bu e nduk, bakwan tiket ke Mesir.” Dengan tulus ikhlas Bu E menyertakan gorengan panas itu di atas piring kita. Ah, bakwan itu benar-benar sesuatu bagiku. Yang membuatku heran, dengan menu biasa seperti itu, kita tergolong sejahtera kehidupannya selama hidup disana. Bukti nyatanya, bobot tubuh kita yang tak henti-hentinya bertambah hari ke hari. Tidak heran kalau kau sempat juga kuledeki Doraemon, tokoh kartun pujaanmu. Sebab kau persis terlihat sepertinya. (Jangan marah cerita ini kubuka, ini permintaanmu kan? Aku jujur orangnya). Namun jangan bayangkan sekarang kita masih seperti Doraemon dan Dorayaki lagi. Keganasan bangku kuliah mampu juga menggerus tumpukan-tumpukan lemak di tubuh kita. Kabar baiknya, kita bisa kurus tanpa diet tersiksa. grin emoticon
Zul, walau Afrika belum lagi sempat kita jajaki tapi setidaknya mimpi itu masih saja tersimpan rapi dalam palung hatiku yang paling dalam. Mungkin kau juga berfikir begitu. Kau yang nyatanya punya kesempatan lebih besar dariku kala itu justru menyerah juga di akhirnya, ini perihal ridho orang tua. Bapak-bapak kita tercinta sungguh belum kuasa berjauahan dengan anak gadisnya, inilah yang menjadi perkara. Ridho Allah tergantung ridho orang tua, bukan? Tak bisa Afrika, Indonesia pun jadi. Begitu kira-kira. Ah, kita sarjana juga pada akhirnya dan bahkan mulai berharap kehadiran ‘Ridho-Ridho’ lain di hidup kita (Kutahan malu saat menuliskannya, Zul, ini aibmu aku tahu).
Perkara Bu e dan menu fenomenalnya ini seringkali mengusik rinduku yang terus terpendam hingga beberapa lama. Bagaimana denganmu, Zul? Sebuah perjalanan yang sedemikian indahnya berlalu jua dari jalan hidup kita. Kadang dalam perjalanan pulangku antara Padang-Bukittinggi, seringkali aku berdebar-debar melengong ke sebelah kiri. Berharap bisa menemukan Bu e dengan bakul plastik merah menyalanya ditengah pasar sayur Kotobaru, negeri kecil kita. Seperti biasanya beliau memangku bakul cukup besar itu lalu dipenuhi berbagai macam bahan makanan untuk nantinya di masak demi kita para warga asrama. Namun sepertinya, tidak lagi, tidak ada Bu E disana. Aku luput melihatnya, namun senantiasa berharap punya waktu untuk berkunjung sekiranya bisa.
Selepas melewati pasar itupun hatiku lebih berdebar lagi, Karena setelah itu, sekolah kebanggaan kita akan segera kulewati, namun tanpa sempat kusinggahi. Bangunannya semakin gagah saja kulihat, Zul. Semarak hijaunya masih saja diselimuti kabut seperti biasa. Lalu anganku melayang jauh seketika, apakah ada Zul dan Mutia lain yang sekarang tengah menghuni kamar kita kira-kira? Kamar 4a dan 5b, aku tidak salah kan? Aku warga lantai dua sedangkan kau warga lantai pertama. Ah, aku masih ingat saja ternyata. Seperti apa kira-kira mereka? Persahabatannya sekonyol kita jugakah? Entahlah, kuyakin kaupun tak mampu menjawabnya.
Menjelang Shubuh, hari ke-25 di bulan Februari yang ceria di tahun 2015
Kau tentu ingat menu favorit kita selama di asrama bukan? Telur dadar. Yah, benar sekali. Entah pesona apa yang di bawa penganan dari telur itu hingga kita begitu tergila-gila padanya. Ups, tapi benarkah begitu? Kita sebegitu sukanya? Atau memang karena satu-satunya menu yang akan selalu tersedia pada jam makan hanya itu? Kau jawab saja sendiri !
Telur dadar itu setidaknya pernah menjadi saksi kerelaanku menerima segala sesuatu tentangmu. Kau tentu masih ingat suatu kali entah lelucon apa kiranya yang kuceritakan padamu saat jam makan malam, aku sedikit lupa, lalu kau yang tengah dengan lahapnya menandaskan makan malam bermenukan telur dadar itu justru terbatuk dahsyat, tak kuat menahan tawa. Jadilah aku, Zul, yang baru saja selesai mandi dan harum mewangi kau sembur dengan lumatan makanan penuh di mulutmu tepat di mukaku. Bukannya menolongku membersihkannya, kau malah tertawa terpingkal-pingkal membiarkanku begitu saja. Ini juga salah satu cerita berkesan tentang kita yang tak lekang di gerus masa. Karena kau akui atau tidak begitulah persahabatan kita. Indahnya hanya dimengerti oleh kita sendiri.
“Telur dadar Bu e, nduk!” Kau pasti hafal pemilik suara itu. Dia Bu e, sang juru dapur warga asrama yang jasanya senantiasa dikenang sepanjang masa. Entah siapa nama lengkapnya, kita hanya kenal Bu e panggilannya.
“Ini ada telur dadar selebar landasan pesawat, Zul.” Begitu ungkap wanita separuh baya berdarah Jawa kental itu tatkala kau tanya menu hari itu apa. Telur dadar itu memang dibuat sedemikian lebarnya hingga nyaris menutupi seluruh nasi di atas piringmu. Seperti landasan pesawat, begitu gurau Bu e. Kau tentu masih ingat bagaimana sinyal lapar itu menggerogoti kita, hingga kadang tanpa sadar berlari-lari mengejar Bu E demi bisa makan dengan selembar telur dadar buatannya. Jangan tertawa dulu, begitu kenyataannya bukan? Ah, kita memang tidak di desain untuk kuat menahan lapar. Ditambah hawa dingin Padang Panjang yang kadangkala hingga sore kabutnya tak jua hilang, siapa yang rela keroncongan kalau seperti itu ceritanya bukan? Aku hafal sekali muka kelaparanmu, Zul. Karena tak pernah sekalipun ia berhasil mebohongiku. Aku ingat jelas bagaimana lahapnya kau memusnahkan sepiring nasi dengan sebuah telur dadar lebar bundar itu saat makan, mengundang lapar bagi siapapun yang melihatnya.
Tidak pagi, siang ataupun malam, Bu E begitu setianya menyenangkan cacing-cacing di perut kita. Jika ada telur dadar selebar landasan pesawat, maka sudah pasti ada bakwan tiket ke Mesir. Ah, benar sekali. Itu desert wajibku setelah makan. Mengenyampingkan penganan pencuci mulut yang seharusnya manis, aku memilih bakwan sebagai suguhan terakhir di setiap jam makanku. Perihal bakwan inipun membawa cerita tersendiri. Kenapa tiket ke Mesir? Kau tentu ingat, tujuan kita berkuliah selepas sekolah dulu. Yah, Alexandria, teman. Kota terbesar kedua di Mesir yang terkenal dengan perpustakaan megahnya, Bilbiotecha Alexandria, surga dunia impian kita. Kuyakin kau hafal betul sorak-sorak bergembira kita bahwa suatu saat kita akan merambah benua Afrika yang hanya pernah kita lihat bentuknya di peta. Kita sama-sama berharap kala itu, agar mampu menyusul alumni kita yang telah lebih dahulu manapakkan kaki di negeri piramida, nun jauh disana.
“Ayo makan bakwan Bu e nduk, bakwan tiket ke Mesir.” Dengan tulus ikhlas Bu E menyertakan gorengan panas itu di atas piring kita. Ah, bakwan itu benar-benar sesuatu bagiku. Yang membuatku heran, dengan menu biasa seperti itu, kita tergolong sejahtera kehidupannya selama hidup disana. Bukti nyatanya, bobot tubuh kita yang tak henti-hentinya bertambah hari ke hari. Tidak heran kalau kau sempat juga kuledeki Doraemon, tokoh kartun pujaanmu. Sebab kau persis terlihat sepertinya. (Jangan marah cerita ini kubuka, ini permintaanmu kan? Aku jujur orangnya). Namun jangan bayangkan sekarang kita masih seperti Doraemon dan Dorayaki lagi. Keganasan bangku kuliah mampu juga menggerus tumpukan-tumpukan lemak di tubuh kita. Kabar baiknya, kita bisa kurus tanpa diet tersiksa. grin emoticon
Zul, walau Afrika belum lagi sempat kita jajaki tapi setidaknya mimpi itu masih saja tersimpan rapi dalam palung hatiku yang paling dalam. Mungkin kau juga berfikir begitu. Kau yang nyatanya punya kesempatan lebih besar dariku kala itu justru menyerah juga di akhirnya, ini perihal ridho orang tua. Bapak-bapak kita tercinta sungguh belum kuasa berjauahan dengan anak gadisnya, inilah yang menjadi perkara. Ridho Allah tergantung ridho orang tua, bukan? Tak bisa Afrika, Indonesia pun jadi. Begitu kira-kira. Ah, kita sarjana juga pada akhirnya dan bahkan mulai berharap kehadiran ‘Ridho-Ridho’ lain di hidup kita (Kutahan malu saat menuliskannya, Zul, ini aibmu aku tahu).
Perkara Bu e dan menu fenomenalnya ini seringkali mengusik rinduku yang terus terpendam hingga beberapa lama. Bagaimana denganmu, Zul? Sebuah perjalanan yang sedemikian indahnya berlalu jua dari jalan hidup kita. Kadang dalam perjalanan pulangku antara Padang-Bukittinggi, seringkali aku berdebar-debar melengong ke sebelah kiri. Berharap bisa menemukan Bu e dengan bakul plastik merah menyalanya ditengah pasar sayur Kotobaru, negeri kecil kita. Seperti biasanya beliau memangku bakul cukup besar itu lalu dipenuhi berbagai macam bahan makanan untuk nantinya di masak demi kita para warga asrama. Namun sepertinya, tidak lagi, tidak ada Bu E disana. Aku luput melihatnya, namun senantiasa berharap punya waktu untuk berkunjung sekiranya bisa.
Selepas melewati pasar itupun hatiku lebih berdebar lagi, Karena setelah itu, sekolah kebanggaan kita akan segera kulewati, namun tanpa sempat kusinggahi. Bangunannya semakin gagah saja kulihat, Zul. Semarak hijaunya masih saja diselimuti kabut seperti biasa. Lalu anganku melayang jauh seketika, apakah ada Zul dan Mutia lain yang sekarang tengah menghuni kamar kita kira-kira? Kamar 4a dan 5b, aku tidak salah kan? Aku warga lantai dua sedangkan kau warga lantai pertama. Ah, aku masih ingat saja ternyata. Seperti apa kira-kira mereka? Persahabatannya sekonyol kita jugakah? Entahlah, kuyakin kaupun tak mampu menjawabnya.
Menjelang Shubuh, hari ke-25 di bulan Februari yang ceria di tahun 2015