Entah sudah berapa lama
kita bertegur sapa, entah sejak kapan pula cerita ini bermula, segala
sesuatunya seperti terjadi begitu saja, seperti memang sudah seharusnya. Namun
walau tidak sedemikian persisnya, aku masih ingat bagaimana dulu senyum lugumu
menegur lucu. Ah, pendek sekali kau menurutku. Kau pun kuyakin berfikir aku
sedemikian gendutnya kala itu. Seperti itulah rasanya bagaimana awalnya nama
yang dalam hematmu cetar membahana itu kau eja pada awal perkenalan kita.
“Zulhasni.“ Begitu ujarmu
“Meiva Mutia R.“ Begitu
pula balasku.
Kalau boleh kutambahkan,
lokasi peristiwa itu tepat didepan asrama kita, asrama putri tiga, rumah yang
kita tinggali bersama tiga tahun lamanya. Kau bahkan tak marah saat kupanggil
Zul, nama yang lebih sering kutemui melekat pada tubuh seorang laki-laki.
Zulhamdi misalnya, seperti nama guru bahasa Arab kita. Tapi secuilpun kau
bahkan tidak menyiratkan rasa tidak suka. Tawamu yang benar-benar luar biasa
itu menjelaskan semuanya.
“Nama keren itu hadiah
dari bapakku, teman.“ Itu yang selalu kau rapal.
Aku seringkali mencandaimu
perihal namamu, namun sekali lagi kukatakan, tak juga hendak kau marah padaku
barang sekalipun mengenai hal itu.
Berawal dari nama,
cerita-cerita lain pun kita rangkai seiring perjalanan masa SMA kita berdua.
Sempat juga kita menabur benih mimpi sembari duduk-duduk di pelataran laman
belakang dimana gunung Singgalang, ikon kota kita berdiri dengan gagahnya.
Membelai angin yang lalu lalang menyapu wajah kita sementara sore menanjak
menuju senja dan dingin semakin menggigit pori-pori kita. Lantas adzan mangrib
yang di suarakan kakak-kakak putra yang menurutmu layak di jadikan suami dunia
akhirat itu membahana memecah langit merah saga, kita pun berlarian, menuju
sujud kepadaNya.
Pernah juga kita
tergopoh-gopoh menuju ruang pustaka, hanya untuk menyambangi majalah Horison,
karya Asrul Sani, Sutan Takdir Alisyahbana, Buya Hamka dan sederet nama
sastrawan lainnya yang entah mengapa senantiasa membuat kita terpesona akan
kata-katanya. Seringkali itu terjadi saat bel tanda istirahat yang
jarang-jarang sampai suaranya ke kelas kita berdering. Berdering hanya hingga
sebatas batin, karena lebih sering kita terlambat dan semua kursi di ruangan
surga buku itu sudah penuh di duduki massa. Sudah sekian kali pula kita
mencak-mencak pada kepala sekolah minta di pindahkan kelas. Karena kelas kita
yang tepat di ujung perbatasan sekolah itupun, seringkali luput dari bel
pertanda istirahat siang atau jam pulang. Waktu-waktu penting selama masa
bersekolah kita.
Ingatkah juga kau Zul saat
dengan sukarela kubiarkan kau menduduki satu-satunya kursi yang tersisa di
ruang pustaka. Karena tak tega melihat tubuhmu yang selalu tenggelam ditengah
lautan manusia itu harus berdiri lebih lama. Namun entah karena niat baikku
tidak didukung fakta bahwa kursi tersisa itu sengaja tak di duduki karena
sungguh memiliki cela. Jadilah kau Zul, korban satu-satunya yang harus berlapang
dada menahan merah muka saat kursi tanpa dosa itu justru patah tepat saat
pantatmu baru saja menyentuhnya. Tapi lagi-lagi, dengan ikhlas kau menerima
semuanya.
Cerita tentangmu seperti
tak ada habis-habisnya. Belia berganti dewasa, dan kita masih saja bak duo
sejoli yang ketika berpapasan orang-orang akan berkata, “Dimana ada Zul sudah
barang tentu ada Mutia.“ Namun waktu kiranya sudah cukup puas membiarkan kita
membunuhnya berdua, karena itulah mungkin kita dipisahkan setelah sekian lama.
Menapaki jejak- baru di kota yang berbeda, tapi kita masih saja Zul dan Mutia
yang lama. Zul, masa depan seperti apa yang kiranya singgah dalam selaksa do’a
yang pernah kau rapalkan hingga sekarang jarak ini terbentang membungkam cerita
kita beberapa jenak. Dalam bayangan yang sempat singgah, kugambarkan kau dan
aku bersama lagi memandang langit kota kita. Ah, sepertinya hanya tinggal
khayal saja. Usia tengah meredam suka hati kita. Kelak, jika kita sama-sama
sudah tua, dendangkan jugalah senandung kalbu kita yang terdahulu menjelang
lelap anak dan cucumu. Setidaknya dengan begitu, kau akan terus mengingatku
Zul, teman sekaligus saudaraku..
Bukittinggi, Akhir
Ferbruari 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar