Selasa, 24 Februari 2015

Tentangmu, Zul



Entah sudah berapa lama kita bertegur sapa, entah sejak kapan pula cerita ini bermula, segala sesuatunya seperti terjadi begitu saja, seperti memang sudah seharusnya. Namun walau tidak sedemikian persisnya, aku masih ingat bagaimana dulu senyum lugumu menegur lucu. Ah, pendek sekali kau menurutku. Kau pun kuyakin berfikir aku sedemikian gendutnya kala itu. Seperti itulah rasanya bagaimana awalnya nama yang dalam hematmu cetar membahana itu kau eja pada awal perkenalan kita.

“Zulhasni.“ Begitu ujarmu
“Meiva Mutia R.“ Begitu pula balasku.

Kalau boleh kutambahkan, lokasi peristiwa itu tepat didepan asrama kita, asrama putri tiga, rumah yang kita tinggali bersama tiga tahun lamanya. Kau bahkan tak marah saat kupanggil Zul, nama yang lebih sering kutemui melekat pada tubuh seorang laki-laki. Zulhamdi misalnya, seperti nama guru bahasa Arab kita. Tapi secuilpun kau bahkan tidak menyiratkan rasa tidak suka. Tawamu yang benar-benar luar biasa itu menjelaskan semuanya.
“Nama keren itu hadiah dari bapakku, teman.“ Itu yang selalu kau rapal.
Aku seringkali mencandaimu perihal namamu, namun sekali lagi kukatakan, tak juga hendak kau marah padaku barang sekalipun mengenai hal itu.

Berawal dari nama, cerita-cerita lain pun kita rangkai seiring perjalanan masa SMA kita berdua. Sempat juga kita menabur benih mimpi sembari duduk-duduk di pelataran laman belakang dimana gunung Singgalang, ikon kota kita berdiri dengan gagahnya. Membelai angin yang lalu lalang menyapu wajah kita sementara sore menanjak menuju senja dan dingin semakin menggigit pori-pori kita. Lantas adzan mangrib yang di suarakan kakak-kakak putra yang menurutmu layak di jadikan suami dunia akhirat itu membahana memecah langit merah saga, kita pun berlarian, menuju sujud kepadaNya.

Pernah juga kita tergopoh-gopoh menuju ruang pustaka, hanya untuk menyambangi majalah Horison, karya Asrul Sani, Sutan Takdir Alisyahbana, Buya Hamka dan sederet nama sastrawan lainnya yang entah mengapa senantiasa membuat kita terpesona akan kata-katanya. Seringkali itu terjadi saat bel tanda istirahat yang jarang-jarang sampai suaranya ke kelas kita berdering. Berdering hanya hingga sebatas batin, karena lebih sering kita terlambat dan semua kursi di ruangan surga buku itu sudah penuh di duduki massa. Sudah sekian kali pula kita mencak-mencak pada kepala sekolah minta di pindahkan kelas. Karena kelas kita yang tepat di ujung perbatasan sekolah itupun, seringkali luput dari bel pertanda istirahat siang atau jam pulang. Waktu-waktu penting selama masa bersekolah kita.

Ingatkah juga kau Zul saat dengan sukarela kubiarkan kau menduduki satu-satunya kursi yang tersisa di ruang pustaka. Karena tak tega melihat tubuhmu yang selalu tenggelam ditengah lautan manusia itu harus berdiri lebih lama. Namun entah karena niat baikku tidak didukung fakta bahwa kursi tersisa itu sengaja tak di duduki karena sungguh memiliki cela. Jadilah kau Zul, korban satu-satunya yang harus berlapang dada menahan merah muka saat kursi tanpa dosa itu justru patah tepat saat pantatmu baru saja menyentuhnya. Tapi lagi-lagi, dengan ikhlas kau menerima semuanya.

Cerita tentangmu seperti tak ada habis-habisnya. Belia berganti dewasa, dan kita masih saja bak duo sejoli yang ketika berpapasan orang-orang akan berkata, “Dimana ada Zul sudah barang tentu ada Mutia.“ Namun waktu kiranya sudah cukup puas membiarkan kita membunuhnya berdua, karena itulah mungkin kita dipisahkan setelah sekian lama. Menapaki jejak- baru di kota yang berbeda, tapi kita masih saja Zul dan Mutia yang lama. Zul, masa depan seperti apa yang kiranya singgah dalam selaksa do’a yang pernah kau rapalkan hingga sekarang jarak ini terbentang membungkam cerita kita beberapa jenak. Dalam bayangan yang sempat singgah, kugambarkan kau dan aku bersama lagi memandang langit kota kita. Ah, sepertinya hanya tinggal khayal saja. Usia tengah meredam suka hati kita. Kelak, jika kita sama-sama sudah tua, dendangkan jugalah senandung kalbu kita yang terdahulu menjelang lelap anak dan cucumu. Setidaknya dengan begitu, kau akan terus mengingatku Zul, teman sekaligus saudaraku..

Bukittinggi, Akhir Ferbruari 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang