(Suara hati seorang perempuan yang tengah tercabik hatinya..)
Sudah kudengar ucapanmu
petang kemarin. Sudah pula kupahami maksud dan tujuannya. Namun apa hendak
kukata perihal ungkapan hati tuan, sedang aku belum lagi selesai mengurai sedu
sedanku akibat hujan lebat yang mengguyur pada musim lalu. Aku tak hendak
membawamu hanyut dalam pusaran dukaku. Tak hendak juga membebanimu dengan
malang hidupku. Sungguh tak adil rasanya jika tulus rasamu harus dibalasi
dengan separuh hati yang belum lagi sempurna mampu kubenahi.
Jika kukatakan aku butuh
waktu, maka akupun tak tahu sampai berapa lama harusnya kubiarkan kau menunggu.
Karena kuyakin kau atau siapa saja yang pernah mencinta tahu benar mengenai
perkara hati. Sebab itu janganlah kau tambatkan hatimu di tepian hatiku secepat
itu. Karena sungguh tak kuasa bagiku jika kau ikut terluka di tengah
pengembaraanku menengahi lukaku.
Jika kau berkeinginan
menunggu, tunggulah. Namun aku tak pernah mengikatmu untuk terus bersandar di
pelabuhanku. Tunggulah jika hatimu berkesempatan melakukannya. Namun apabila di
tengah penantianmu, hatimu dihinggapi lelah atau bahkan putus harapan. Maka
akupun tak hendak juga menahanmu jika akhirnya kau memutuskan untuk beranjak
pergi. Karena apapun namanya ini, aku tak pernah membebanimu dengan sebuah
ikatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar