![]() |
| Just an Antology (Kinda weird since I've never would be a writer) |
Dulu mah saya kekeuh mau jadi cerpenis. Mulai dari waktu SD barangkali, waktu Ibu suka bawain koran harian bekas dari kantor, yang awalnya di niatkan lillahita'ala buat ngelap kaca, akhirnya jatuh ke tangan saya, saya jadi ketagihan baca rubik anak-anak di koran Minggu ataupun baca cerpen-cerpen yang bahasanya kadang untuk anak seusia saya waktu itu agak sulit di mengerti. Mulai deh nulis-nulis pada taraf iseng, eh Ibunya semangat pula, sampe saya di beliin majalah-majalah yang lebih sering ketahuan bekas ketimbang baru (ngirit barangkali) di pasar tidak jauh dari rumah.
Dari sekian naskah cepen yang pernah saya mulakan (lebih sering di tinggal begitu saja tepat saat baru masuk ke ranah konfik), nggak satupun yang di muat. Barangkali karena nulisnya nggak niat. Saya lalu berpindah hati kepada serunya punya sahabat pena yang pada jamannya lagi booming banget,. Excited-nya kalo surat kita ada yang baca, bahkan di balas pula, belum ada apa-apanya di banding euforia senengnya saya waktu pertama kali punya temen di Facebook. Yang ini beda, teman! Ini surat! Yang penulisnya mikir keras buat nulis apa, supaya yang di seberang merasa senang menerima pertemanan. Bukan sekedar klik add, remove, block aja. lalu say hi! leh nalan, namanya capa dan bla bla serentetan bahasa khas media sosial lainnya. Atau bahkan nyampe nyerang seseorang pake kata-kata yang aduh! naudzubillah nggak pernah ada di kamus saya. Hii, ngeri.
Pada dasarnya hal ini juga tidak terlepas dari akibat satu-satunya mainan yang saya punya saat itu cuma sepeda bekas abang sepupu yang di wariskan pada saya setelah dianya di belin sepeda baru yang itupun harus berebutan sama adik laki-laki saya yang usianya cuma beda satu tahun pas sama sayanya. Di keluarga saya, selagi ada yang nyumbang mah ngapain beli. Ini bener loh, saya tergolong yang jarang-jarang di beliin mainan sama orang tua saya, kalo minta di beliin buku mah cepet nyampenya, walaupun kadang-kadang harus dapat yang bekas pula, tapi saya bahagia-bahagia saja. Sebab lain juga mungkin karena saya anak pertama, punya adik tiga orang, masa-masa jadi 'dedek' saya tidak seberapa lama, belum setahun udah jadi kakak. Jadi, pas Ibu pulang bawain majalah anak-anak yang tokohnya kelinci itu loh yang dulunya nggak kalah ngehits dari dua bocah berkepala botak pada zaman sekarang, sayanya jadi punya hobi baru, ngebolak-balik halamannya, liat rubik sahabat (yang ada foto dan sekalian alamatnya), mulai nagih nulis surat. Temanya masih sama, nulis juga, bedanya ini lebih realistis, karena ya cerita-ceria jujur aja sama teman-teman nun jauh di seberang sana.
Sampai pada akhirnya saya tertarik nulis puisi. Awalnya sih cuma denger ada event di Radio di kota saya, yang katanya kita bisa kirim naskah ke studio mereka lalu setiap minggunya naskah terbaik di pilih untuk di bacakan pada satu sesi malam minggu yang kelabu mengharu, haha! Becanda, saya lupa nama sesinya apa yang jelas setelah mengirimkan beberapa naskah saya, nyaris semuanya pernah dibaca penyiarnya. Saya juga agak bingung dampaknya apa, toh cuma di bacain, nggak ada duitnya juga. Tapi senengnya minta ampun.
Sampai jugalah pada hari ini, ketika waktu yang galau-galau itu sayanya jadi aktif nulis, setiap malam pulang kerja, atau bahkan di tempat kerja kalau lagi senggang, saya nulis apapun yang saya mau. Saya nggak bilang sibuk saya di kerjaan itu pake 'banget', jadi kalau ada yang nanya, "kamu nulisnya kapan? Perasaan sibuk-sibuk gitu." Ah, nulis mah nggak perlu waktu. Ada ide, di smartphone saya yang ngak canggih-canggih amat ini juga bisa. Ya kan? :)
Hingga pada hari ini, genre tulisan saya akhirnya berlabuh pada puisi, rasanya nyaman saat berhasil menyelesaiakan rangkain kata yanga awalnya hampa makna itu menjadi sebuah kesatuan yang bagi penikmatnya sesuatu yang menyenangkan untuk di singgahi. Ah, saya agak berlebihan sepertinya, tapi ya jujur pada diri sendiri tidak ada salahnya., bahwa setiap orang pasti punya comfort zone masing-masing, ya kalau saya ya bergelut dengan aksara seperti ini udah lebih dari cukup untuk bisa nyaman. Lagipula, jika harus memaknai bebas, bebas itu ya nulis, kamu bisa jadi apa aja dalam rekaan tokoh kamu sendiri, kamu bisa keluarin apa aja yang bahkan nggak bisa di ceritain. Saya bahkan tidak berharap ada pembaca, tidak juga menulis dengan membawa misi penistaan terhadap sesuatu, selagi hanya sebatas opini atau juga curahan hati (asiik) buat saya mah nggak ada salahnya di negara kita Indonesia yang berdemokrasi ini. Haha! Kalau suka ya silahkan baca, kalu tidak ya klik tanda X di sudut kanan atas layar laptop kamu, selesai perkara.
Satu lagi, terima kasih untuk group Goresan Pena Sang Penulis yang merelakan puisi saya tergabung di dalam ratusan puisi-puisi kece lainnya dalam Antologi Rindu Memaksa, yang pada dahulunya justru lahir dari rindu-rindu yang terpaksa pula. haha! Salam sayang juga buat adik cantikku di Brebes sana, Nahla, bisa berbagi tulisan denganmu begitu hebat bahagianya. Semoga suatu hari Allah Sang Maha Pemilik Waktu mempertemukan kita, bukan sekedar di tulisan saja. Amin
![]() |
| Antologi Rindu mekaksa (GPSP, 2015) |
Rindu Memaksa
By GPSP Lovers, 2015
Editor : Tim Pena
Setting dan Layout : Goresan Pena Publishing
Desain Sampul : C. I. Wungkul
ISBN : 978-602-364-034-8
Cet. I, September 2015
viii + 102 hlm. ; 14 x 21 cm
Diterbitkan Oleh :
Goresan Pena
Jl. Jami no. 230 Sindangjawa – Kadugede -
Kuningan – Jawa Barat 45561
Phone : 085-221-422-416
Email : goresanpena2012@gmail.com
Website : www.goresanpena2012.blogspot.com

