Iya!
Aku belum sempat,
Belum lagi sempat mengurai helai hujan sebagai bias embun, sebab kecamuk rinai yang luruh masih serupa gaduh menabuh..
Sedang aku, duduk diam dada bergemuruh. Ah, masihkah? Atau sudahkah?
Aku belum sempat,
Belum lagi sempat mengurai helai hujan sebagai bias embun, sebab kecamuk rinai yang luruh masih serupa gaduh menabuh..
Sedang aku, duduk diam dada bergemuruh. Ah, masihkah? Atau sudahkah?
Namun sesudahnya, ada nada pelipur berceletuk datar, nyaris tanpa ritme suara, barangkali bisik-bisik di otak, katanya biar saja menggenang, menghalau kenang yang mendiami jejak..
Biar..
Biar ia hilang!
Biar ia hilang!
![]() |
| Alai, Dec 2015 |
