Jumat, 27 Februari 2015

Hadiah Menanti



Tak ada kabar adalah kabar, yaitu kabar: tak ada kabar
Tidak ada kepastian juga adalah kepastian, yaitu kepastian: tidak ada kepastian-HUJAN.

Kututup buku itu rapat-rapat, kudekap erat hingga sedikit kusut ujung sampulnya.  Nama Tere Liye tertera indah di halaman depannya. Sekali lagi tulisannya membuatku terpesona. Aku menghela nafas panjang, menyandarkan bahuku di tepian jendela., menengadah, merasa kosong dan tak mampu menerjemah apa yang tengah kurasa. Tak ada kabar lagi, begitu gumamku hampa.
Entah ini kecamuk rindu atau apa, hambar yang kurasa nyaris mencapai titik kritisnya. Aku mencintainya, namun tak mengerti cara apa yang tengah diketengahkannya hingga membiarkanku menanti dalam genggaman asa yang nyaris sirna. Aku rindu, tidak tahukah kau nelangsanya tak bersua itu seberat ini siksaannya? Batinku berteriak.

“10 bulan lagi saja, aku yakin kau bisa menunggu.” Begitu ungkapnya suatu ketika. Ada sesimpul senyum yang terukir di wajah teduhnya. Aku hanya cemberut. 

“Ayolah, wajahmu jelek kalau begitu.” Dia mulai menggodaku.

“Bagaimana aku bisa mengenalimu lebih jauh kalau begini, tak pernah ada kabar, tak pernah punya waktu, bertemu pun tidak.” Aku bersuara juga akhirnya.

“Sepuluh bulan lagi saja cinta, kita akan bersama setelah itu.” Dia masih tersenyum, masih dengan senyum yang sama. Aku tetap tidak menerima. Aku malah menyesalkan sikap tenangnya, seperti tidak terjadi apa-apa saja. Hey, aku tengah kau siksa, kau tahu? Rasanya aku ingin sekali berteriak padanya. 

Kuraih hp-ku yang tergeletak pasrah di atas meja. Memencet tombolnya, lalu memperhatikan apa saja yang tertera di layarnya. Ada beberapa panggilan telfon yang tak terjawab, tak ingin kujawab lebih tepatnya. Lalu beberapa pesan pendek yang belum lagi kubalas, enggan saja melakukannya. Lebih-lebih, tak satupun yang pengirimnya dia. Aku mendengus kesal.
Ah, tak jugakah dia mengerti sesaknya dadaku akibat rindu yang mendera disetiap kali aku terjaga. Sejak kumulai hubungan ini dengannya, tak pernah sekalipun ada waktu untukku berdua dengannya. Hanya sebuah janji bahwa dia akan mengikatku selamanya dalam akad. Itupun sepuluh bulan lagi. Sedemikian lama rasanya. 

Kamu dimana? Aku kangen.

Pesan itu kukirim juga akhirnya, menepikan egoku sesaat, tak kuasa menahan lebih lama. Aku ingin bertemu dengannya.
Lama tak ada balasan, aku hampir marah. Nada yang kutunggu berdering juga akhirnya. Dengan sigap kuraih benda mungil itu tanpa banyak tanya. Satu-satunya nama yang tengah kufikirkan hanya namanya. Namun balasan itu lebih membuatku sebal ternyata.

:)

Hanya itu yang tertulis disana. Benar-benar singkat. Senyum, yang bahkan bukan dia pemiliknya. Hanya ilustrasi emoticon tak berdosa yang bisa digunakan siapa saja. Aku mencak-mencak, ingin kabur rasanya. Tak bisa kugambarkan misah-misuhnya aku gara-gara balasan diluar perkiraan itu. 

“Jangan seperti anak kecil begitu.” Mbak Hanin mulai jengah juga setiap kali kuungkit lagi perihal, Ardi. 

“Aku nggak mungkin bisa mengenali dia lebih jauh kalau begini ceritanya, mbak.” Aku menggerutu terus sepanjang siang.

“Kan sudah mau nikahan, ya sudah kenalnya ntar pas udah nikah aja, udah halal, udah sah, lebih bagus begitu kan.” 

“Tapi kan tetap saja, aku butuh kenal dulu, kalau begini ceritanya nggak ada bedanya seperti orang asing lah.” Aku tetap saja tidak terima. 

“Mbak kenal Ardi udah sejak jaman kapan, ndah. Dia nggak neko-neko orangnya, percaya saja. Kamu di bilangin suka ngeyel gitu.” Mbak Hanin mulai lagi kuliahnya. 

“Ah, mbak nggak akan ngerti juga kalau aku jelasin.” Aku melengos. Mbak Hanin geleng-geleng kepala.

Huah, benar-benar jenuh. Aku sudah berkali-kali mencoba berdamai dengan laraku perihal rindu, namun tetap saja dia memaksa untuk bertahta disana. Hari-hariku seperti berlalu begitu saja, Senin sampai Senin lagi, tak ada yang berbeda. 

“Hargai saja niatnya, Ibu yakin dia bukan tipikal pria yang mau main-main dengan perasaan wanita.” Ungkap ibu menasehati. Aku hanya membisu. Mencerna perlahan-lahan maksud perkataan Ibu.

“Biarkan dulu kalau memang begitu inginnya. Indah sudah bersedia menunggu, bukan? Penantian yang berdasarkan hati yang tulus itu tidak akan sia-sia akhirnya, percaya sama Ibu.” Suara itu mengalun lembut menembus kedalam relung. Seperti itukah kiranya? Batinku masih saja bergolak, bertanya-tanya.

“Jangan berprasangka buruk dengan niat baiknya. Ardi mungkin lebih ingin menjagamu ketimbang menghabiskan waktu untuk hura-hura berdua.” Aku terkesiap, kali ini seperti benar-benar terjaga dari ninabobo pikiran sempitku. Ibu tersenyum menatapku tulus seperti bermohon agar percaya pada apa yang baru saja dikatakannya. Aku mencoba menerima. 

Sudahlah, aku ikut saja kalau begitu inginnya. Tak lagi berusaha mengusiknya atau mengganggunya dengan rengekan-rengekanku seperti biasa. Berat, tapi kutahan. Jika memang mencinta itu sebegini dahsyatnya, kumohon tuhan, jangan biarkan penantianku berujung luka. Hanya itu do’a yang senantiasa mengalun dalam tiap sujudku. Hari-hariku mengalir seperti biasa, sesak-sesak yang pekat dahulu itu semakin memberi ruang, leluasa mencoba menerima apapun kiranya yang direncanakanNya. 10 bulan lagi, yah, selama apakah kiranya waktu itu jika aku terus berlapang dada menjalaninya. Aku terus menenangkan kalbuku yang sebegitu rapuh adanya.

Entah hari yang keberapa, aku mulai berhenti menghitungnya. Sepucuk surat datang berserta sekotak bingkisan yang belum lagi kuketahui isinya apa. Surat? Entah siapa yang masih memakai cara ini kiranya dalam memberi kabar. Aku tersenyum kecil saat mengetahui siapa pengirimnya. Ardi. Yah, nama itu. Aku sedikit tertawa melihat sampul biru muda bercorak angsa putih itu terukir “teruntuk adinda” di depannya. Ah, Ardi. Kuno sekali caranya, namun tak kusangkal ada binar tak biasa yang menyisip kedalam kalbuku, bahagia yah aku bahagia.
Kubuka perlahan sampulnya, berniat tidak merobeknya, namun hatiku sedemikian tidak sabarnya hingga sedikit rusak juga tepian bekas lemnya. Tergesa-gesa aku membukanya dengan senyum yang tak sedikitpun lepas dari muka.
Indah…, begitu sapanya di awal kata. Oh, tuhan aku berbunga-bunga.

Apa kabar cinta?
Apakah hatimu sudah sedemikian lelahnya? Kumohon jangan. Sebagaimana rindumu menyiksa, akupun tak ada bedanya. Tak kuasa rasanya terus membayangkan terpisah denganmu sedemikian lama. Tak ada maksud menjauh demi meninggalkanmu, lebih-lebih aku harus mendekap perihku dalam kesendirian tanpamu di kejauhan sana. Aku lebih merana lagi, cinta. Satu-satunya yang terus membayang di pelupuk mata hingga datang senja hanya kau, namun kutahan jua gelora ini hingga saatnya tiba. Aku tak hendak mengenalimu dalam masa sebelum halal segala yang diharamkan selama ini bagi kita. Sungguh niatku hanya ingin menghormati rasa yang ada, tak ingin meninggalkan cela padanya. Harapku jika diperkenankan, hanya adanya kau mendampingiku dalam perjalanan kita. Hebat rasanya jika diberi kesempatan untuk lebih mengenalimu dalam penyatuan yang benar dalam agama kita. Sebab itu, baiknya aku berkelana dulu. Menyiapkan hatiku seutuhnya untuk kuserahkan seutuhnya pula padamu, gadis yang terus menemaniku dalam mimpi-mimpi tidurku.
Indah, aku kembali. Setelah mungkin kecamuk hatimu nyaris tak mampu kau redam mencoba mengertiku. Namun terima kasih, jika detik ini hatimu masih tertambat di tepian hatiku. Aku kembali, indah. Kembali untuk segera bisa menggelar sajadah bersamamu.
Ardi

Air mataku merebak, bukan haru biru dengan luka menganga, namun merebak menyambut bahagiaku. Kubuka bingkisan putih bersih itu, selembar sajadah lembut berdiam didalamanya. Aku berlari memeluk ibu, tak berkata apa-apa. Hanya mengiyakan dalam hati saja, bahwa apa yang beliau prasangkakan benar adanya. Ardi, sudah benar menapaki jalannya. Segera, aku akan halal bersamanya.

“Allah, satukan hati kami berdua, jika cintanya kelak menuntun ke surga”---twitografi---(Sakinah Bersamamu-Asma Nadia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang