“Aku kok beda?”, ujar chika
cemberut, mulutnya mengerucut namun menggemaskan. “Liat kulitku, gelap, lalu
ayah, ibu, kakak sama abang putih-putih semua!”, chika kembali merapalkan
orasinya untuk kesekian kalinya.
Ayahnya hanya tersenyum tanpa
mengalihkan mata dari Koran yang dibacanya. Merasa tidak dididengarkan bocah 6
tahun itupun merebut koran ayahnya.
“Ayah, kok gak jawab chika sih?”,
pipinya mneggembung tanda tidak senang. Ibu yang tengah sibuk dengan kue-kue
didapurpun ikutan pasang telinga.
Pak Budi mencubit hidung mungil
chika seraya tertawa kecil. “Emang kenapa kalo chika gelap?
“Aku bukan anak ayah kan?”, Deg,
apa-apaan ini, begitu kira-kira batin Pak Budi bersuara. “Aku pasti ketuker
waktu dirumah sakit kan? Makanya aku beda?” chika melanjutkan dengan ekspresi
ala-ala sinetron di tv.
Hah? Pak Budi benar-benar
kehilangan kata kali ini, bukan karena kenyataan anaknya tidak terima dia
berbeda, namun lebih kepada mengutuki sinetron yang dia tonton setiap hari
dengan istrinya, ini efeknya, masa gadis kecilnya pun malah mengira dia anak
yang tertukar, benar-benar ngaco.
Bu Astri yang tengah sibuk
mengemas kue-kue pesanan pelanggan pun tak kalah kaget. Dia menatap lekat
suaminya dengan pandangan menyerah. Pak Budi pun segera memutar otak untuk memberi
penjelasan yang bisa menenangkan putri bungsunya ini.
“Chika liat ga kue-kue yang lagi
dipanggang ibu di oven?”, ujarnya kemudian
Chika melirik kearah dapur,
mengiyakan.
“Nah, kue-kue itu kita misalkan
kayak chika dalam perut ibu, ga semua kue yang keluar warnanya sama, ada yang
matengnya pas, ada juga yang kelamaan di oven nya, jadi agak gelap, sama kaya
chika”, harap-harap cemas Pak Budi berharap anaknya akan mengerti.
Benar juga, wajah tegang chika
mulai mengendor, berfikir lalu manggut-manggut. Tanpa ba bi bu disertai
ekspresi faham dia berlari ke kamarnya, bermain. Pak Budi dan istrinya pun
menghela nafas, lega.
Keesokannya, Pak Budi serta
istrinya membawa chika ke Rumah Sakit bersalin, melihat sodaranya yang baru
saja melahirkan. Didekat inkubator chika terpana melihat bayi mungil yang
tengah tertidur pulas, matanya memerhatikan dengan seksama seluruh tubuh bayi
tersebut. Tanpa melepaskan mata dari tempat bayi itu tertidur, diapun berujar
“Yah, bayinya putiiiiiiiiiiih banget, belum mateng yah, masukin lagi deh!”
Semua yang diruangan itupun
bengong, Pak Budi menatap anaknya, pias.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar