“Tidak banyak yang berubah, kota
kecil ini masih sama dinginnya”, ujarku tanpa melepaskan pandangan dari arah
jendela.
“Tapi kau banyak berubah”,
suaranya terdengar lembut, persis seperti yang kuingat.
Aku menoleh. “Begitulah hidup,
harus ada yang berubah”, matanya bertemu dengan mataku.
“Kau pergi terlalu lama”, tukasnya
kemudian.
“Aku tidak pernah memintamu
menunggu!”
“Tapi aku harus….”
“Sudah kubilang jangan!” jawabku
bersikukuh. Tidak tega jika harus mneyakitinya lagi, aku ingin mengakhiri
apapun namanya ini secepatnya.
“Ini tidak benar, Anggun!
Hentikan!”, dia menunduk lesu.
“Aku mencintaimu”, ujarnya lemah.
Aku menatapnya sedikit lama
sebelum mengucapkannya. “Aku punya suami dan anak sekarang!”, jawabku dengan
hati-hati.
Dia mendongak, terkejut.
“Sudah sepuluh tahun, Anggun. Yang
terjadi dulu adalah sebuah kesalahan, harusnya kau mengerti”, timpalku
kemudian. Air matanya menggenang. Ah, aku benci jika harus ada tangis seperti
ini.
“Mulailah hidup, aku sudah
melakukannya bertahun-tahun lalu”, aku berusaha menjaga suaraku agar tetap
tenang.
“Tapi aku mencintaimu”, tangisnya
hampir pecah.
“Tidak seharusnya kau mencintai seperti
ini!”, aku berusaha meyakinkannya.
“Kenapa???”, ujarnya nyaris
berteriak. Matanya semakin berkaca-kaca.
Aku diam sejenak, menghela nafas
seraya memperhatikan sekeklilingku. Kedai kopi ini masih dipenuhi puluhan
manusia dan hujan diluarpun mulai mereda. AKu tahu, apa yang akan kukatakan ini
akan menyakitinya, tapi aku harus melakukannya.
“Karena kau perempuan”, ucapku
perlahan, dia menatapku lekat. “Dan kau tidak seharusnya mencintaiku seperti
itu, karena aku juga perempuan, cinta tidak semestinya begitu”, ujarku pada
akhirnya.
Air mata mengalir deras di
wajahnya yan cantik. Aku segera beranjak, melangkah meninggalkannnya lalu menembus
gerimis yang menyisa. Dia tidak menahanku, entah itu pertanda mengerti atau
apa. Yah, semoga saja.
Lubuksikaping, 29th Jan
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar