Kamis, 29 Januari 2015

Fiksi # Hati yang baru #



Separuh hatiku tertinggal padamu, kata-kata itu kedengaran lebih bodoh sekarang. Sekian tahun, namun jejakku masih saja berkisar ditempat yang sama.
“Move on Bunga! Sudah terlalu lama”, sekian kalinya kakakku menasehati, namun aku hanya diam tergugu. Hanya genangan tak terbendung dipelupuk mata ini yang dengan lugas menegaskan ketidakberdayaanku. Aku membenci diriku sendiri, membenci kenapa sesulit ini?
“Kumohon jangan lakukan itu!”, ujarku terbata ditengah gerimis Agustus 3 tahun lalu.
“Aku akan menikah”, ungkapnya datar. Aku mengerti arti kalimat itu, namun terlalu takut untuk memahami maknanya.
“Lalu aku?”, air mataku merebak.
Seulas senyum yang tak kupahami maknanya terukir diwajah yang amat kukenal itu. “Kamu masih punya banyak waktu untuk melihat dunia, Bunga!”, ujarnya. “Mungkin beginilah jawaban tuhan untuk kita”, ada kebencian yang menyesak didadaku saat kalimat itu kudengar.
Semudah itu? Setelah sekian ribu hari kuhadapi segalanya untukmu. Batinku berontak, tangis dihatiku lebih keras dibanding yang diungkapkan mataku. Namun semuanya memang terjadi, dia menikah dan mengubur semua janjinya bertahun-tahun ini dengan pengkhinatan. Beginilah harga setiaku baginya. Habis sudah kata-kataku saat itu, yang tertinggal hanya perih yang tak mampu kutengahi saat ini.
“Tidak baik selamanya memenjarakan hati seperti ini”, suara Mba Melati terdengar sayup menembus ruang dengarku. “Kamupun berhak bahagia!”, ujarnya kemudian lalu meremas bahuku, sedikit kuat namun kupahami maknanya. Mungkin sudah saatnya, batinku berbisik.
Aku menghela nafas panjang, melirik ponselku yang berkedip tanda pesan masuk. “Aku ingin bicara”, begitu bunyinya. Ada yang tengah menungguku, aku tahu. Gamang, itu yang diisyaratkan hatiku. Logika dan hatiku bertengkar hebat. Namun ada sapaan lembut direlung terdalam hatiku yang disambut baik akal sehatku, “sudah saatnya”, begitu kira-kira ungkapnya.
Sejurus kemudian, kuinjak pedal gas mobilku lalu bergabung ditengah hiruk-pikuk manusia dijalanan sore ini. Menepis semua ragu lalu memberi kesempatan bagi waktu untuk menghapus jejak-jejak lalu itu.
Laki-laki itu duduk dengan gelisah, Hadi, begitu aku memanggilnya, dia adalah laki-laki baik yang beberapa hari lalu menyatakan niatnya untuk menikahiku. Sempat dilanda kemelut masa lalu, aku membiarkannya menunggu. Namun pada saatnya hatipun ingin berlabuh bukan? Semakin melelahkan jika harus terus mengembara sendiri.
Aku menatap matanya lekat, membiarkan energi dalam dadaku mengumpul sejenak, sebelum ada kata-kata keluar dari mulutnya, aku pun berucap “Aku bersedia!”, Ah, kata-kata itupun keluar pada akhirnya. Dia menatapku lebih lekat lagi, lalu senyum itupun terpancar diwajah teduhnya. Sesalku menguap seketika, rasa sesak itupun perlahan memberi ruang dan duniaku pun lapang terasa.
Dan pada akhirnya, yang terbuang pada awalnya akan dimenangkan jua pada akhirnya, begitu kira-kira salah satu larikku tereja.
Lubuksikaping, 28th Jan 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang