Kembali lagi ke awal, dimana
kakiku sempat berpijak dulu, namun urung menemui ujung, sempat kehilangan jejak
dan beberapa kali ditelan pekat, lalu lenyap ditengah gamang senja. Seringkali
gumamku ingin menceritakan lagi, bagaimana dulu hatiku yang lugu disapa rindu
dan asaku mulai mengeja rasa. Sebuah senyawa aneh yang menyekapku dalam khayal
namun tak memahami bahwa sebagaimana cinta itu mampu melengkapi, ia pun mampu
menyakiti. Dan pada saatnya, yang luput diketahui pun dimengerti pada akhirnya.
Aku diselamatkan rasa sekaligus ditenggelamkannya hingga jauh kedasar perih.
Ah, itu awal yang terdahulu. Kali
ini ada baiknya aku dan waktu berdamai sejenak, lantas baru memutuskan untuk
memilih awal yang seperti apa. Karena meskipun tidak sepenuhnya mampu mengurai
makna rasa ataupun menerjemahkannya dalam bentuk yang lebih sederhana,
setidaknya aku tahu, bahwa jika saat bahagia itu pernah ada begitupun adanya
luka. Kadangkala sempat terbesit dibenakku untuk membaca esok, namun mampuku
masih terlalu jauh dibawah harapku, aku tidak tahu apa-apa selain apa yang
ditorehkan waktu saat ini. Andai ada jawab atas semua ketidakmengertianku.
Sebuah buku lagi selesai kutulis,
telah kusematkan tanda tamat diakhir halamannya, telah sempurna kurelakan
kisahnya. Hanya saja untuk kali ini, buku itu tidak lagi ingin kubuka, karena
sungguh, aku tidak lagi ingin mengingat indah awalnya lalu mengukir sakit lagi
mengenang akhirnya.
Lubuksikaping 28th Jan 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar