Rabu, 22 Maret 2017

Aih, Ibu (2)

"Kakak nanti kalo udah nikah gak usah tinggal jauh-jauh ya dari Ibu, disini-sini aja."

Aku cuma ketawa seadanya. Kadang suka gak bisa jawab kalo entah kenapa tiba-tiba obrolan ringan di telfon menjelma sedemikian haru birunya. Ibu dengan segala ketakutan akan sendirinya masa tua. Aku dengan ketidaksiapan berakhirnya masa muda untuk tanggung jawab yang lebih dari sebelumnya. Kadang kalo dipikir-pikir, gak ketemu ujungnya.

Kadang aku suka iri sama temen yang punya kakak perempuan. Pasti seru. Seenggaknya bisa cerita lah gitu. Seenggaknya aku bisa observasi dulu dia gimana naggepin Ibu. Seenggaknya bisa ngadu soal Ibu, karena dia lebih dahulu tahu. Tapi ya gak mungkin. Anak pertama kok ngimpi punya kakak, gimana ceritanya. Ujung-ujungnya ya belajar paham sendiri. Menerka-nerka barangkali begini sebaiknya atau begitu seharusnya. Improvisasi sendiri ajalah intinya.

"Kok rasanya baru kemarin Ibu liat kakak pake baju TK, eh sekarang udah kerja aja."

Biasanya kalo udah pake kalimat semacam ini, suara Ibu agak sendu-sendu gimana gitu. Tinggal tambahin backsound sedih ala-ala drama korea udah lah itu. Acara telfonan sama Ibu bisa berakhir sedemikian drama.

Kadang sempat terfikir, barangkali semua Ibu di dunia ini sama. Barangkali akupun begitu nantinya. Perasaan-perasaan semacam itu yang saat ini hanya Ibu yang tahu. Sedang aku masih takut keliru kalo mencoba-coba paham.  Ya udah jawabnya cuma senyum. Senyum manis ala anak Ibu. *lol

Ibu sering bilang suka nyesel kadang gak terlalu banyak waktu sama anak-anaknya. Katanya kok kalian cepet banget gitu gedenya. Ibu sampe gak berasa. Kadang aku pun juga kepikiran hal yang sama, Ibu sama aku gak terlalu punya banyak waktu berdua. Maksudnya kayak anak-anak perempuan lain yang kemana-mana ditemenin Ibunya. Dari kecil Ibu bilang anak gadis gak boleh manja. Dari kecil aku biasa sendiri. Ke sekolah sendiri, pergi ngaji sendiri, les sendiri, kemana-mana sendiri. Cuma pas SMP karena sekolahnya agak jauh dan takut telat, aku dianter Ayah. Itupun pulangnya lebih sering jalan kaki ditemenin Dwinda* (Dwinda aku ceritain di tulisan selanjutnya). Waktu SMA lebih-lebih lagi, aku diasramain. Lebih sendiri-sendiri lagi. Ibu itu bakal ke sekolah cuma tentang dua perkara, pertama daftarin anaknya, kedua pertemuan orang tua yang kadangkala suka nitip juga hasil rapatnya sama ibu tetangga. Selebihnya urus sendiri. Aku mau ikut kegiatan apa selagi bisa ngurus diri sendiri silahkan aja.

Dulu itu aku suka sebel, kok Ibu harus kerja. Gak kayak teman-teman lain yang Ibunya di rumah. Yang nemenin semua kegiatan anak-anaknya. Yang kalo ada acara sekolah rame-rame nungguin Ibunya datang di gerbang sekolah. Sementara Ibu lebih sering telat, datang pas acara hampir selesai atau bahkan gak hadir sama sekali. Ibu gak kayak Ibu temenku. Kesal sekali rasanya saat itu. Tapi walau begitu, entah bagaimana caranya sejak dahulu tanpa aku tahu, Ibu selalu ada dengan caranya sendiri. Ga pernah gak ada.

Iya, Ibu gak pernah gak ada. Ibu selalu ada sebuntu-buntunya aku ketika mencoba mengambil keputusan. Ibu selalu ada memberikan pilihan, bahkan memilihkan. Ibu selalu ada sekalipun saat terbahagia dan tersedih dalam kehidupan anak-anaknya. Ibu selalu tau arah mana yang harusnya aku tuju ketika bahkan aku mulai tak mau tahu. Sebosan-bosannya waktu dalam hidupku adalah yang bisa ibu semangatkan dengan hanya mendengar tawa Ibu. Seletih-letihnya pekerjaannku adalah yang bisa Ibu bantu istirahatkan dengan hanya melihat senyum Ibu. Ibu selalu ada, bahkan tanpa aku minta.

Hingga hari ini saat Ibu mulai bertanya-tanya anak gadisnya ini akan tinggal dimana nantinya, jauhkah? dengan siapakah? Rasanya perasaaan sebalku tentang absennya Ibu di rapat orang tua di sekolahku dulu sungguh tidak ada apa-apanya dengan ingin Ibu yang berharap selalu dekat dengan anak-anaknya.

Iya Ibu, rasanya kakak juga gak mau tinggal jauh-jauh dari Ibu. Sejauh mana jugakah kiranya kakak mampu meninggalkan Ibu, jikalau untuk memutuskan hari ini baiknya kakak pakai baju apa juga masih suka nanya ke ibu.

(Pulang kerja ketika rindu akan Ibu sebegitu menderu-deru)

Senin, 13 Maret 2017

Aih, Ibu

00:15 lewat tengah malam. Tiba-tiba handphoneku bergetar. Ada yang telfon.

"Halo!"
"Sudah tidur kak?" (Suara ibu)

Langsung duduk. "Sudah bu, kebangun kakak. Ibu kenapa? Ada apa?" (Panik)

Ibu ketawa. "Dak apa-apa. Ibu dak bisa tidur. Mau gangguin kakak."

"Hufft! Kakak kira ada yang sakit. Tumben Ibu dak ngantuk?"

"Tadi ketiduran abis Isya, eh dak mau tidur lagi".

Akhirnya obrolan panjang lebar, bahas mulai menu makan malam hari ini sampai rencana buat nyicil tempat tidur sama lemari (dengan hashtag #rencanapernikahan)

02:20 lebih dari dua jam, handphone nggak lepas dari tangan. Ambil handphone satu lagi Iseng-iseng buka WA. Eh ada yang online.

.... mengetik...

"Kok belum tidur, udah setengah 3."

"Hehe. Tadi udah tidur, kebangun, Ibu telfon."

"Ada apa? Ada yang sakit?" (Panik sesi kedua)

"Engga, Ibu katanya dak bisa tidur."

"Haih, kirain ada apa-apa."

(Senyum sendiri, at least gaya panik kita sama. Eaakk)

"Masih telfonan?"

"Masih."

"Udah dari kapan?"

"Jam 12an"

"Haha! Udah kaya orang pacaran."

"Haha! Paan sikk." (Literally ngetik sambil ketawa)

(Masih ada Ibu di telfon)

"Ketawa kenapa kak?"

"Dak ada bu, ini ada temen di WA chat."

"Siapa? Temen yang 'kemaren' (Ibu kepo)

"Ho'oh temen kakak."

"Oh bilang apa?"

"Nanya kok belum tidur".

"Trus bilang apa kakak?"

"Lagi telfonan sama Ibu."

(Ibu ketawa-renyah sekali macam kerupuk udang yang biasa ia beli)

"Trus bilang apa lagi?"

"Katanya kaya orang pacaran telfonan jam segini sama Ibu".

"Haha! Bilang Ibu kangennya kadang dak kenal jam gitu".

(Ketawa bareng)

Aih, Ibu..
 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang