Rindu Ramadhan seperti dulu, teman!
Aku tersenyum menatap layar ponselku. Pesan singkatmu sedikit terlambat kubaca, ah tapi kerinduanku tentangmu masih tetap sama, tidak berubah pun tiada mereda.
Aku lebih rindu lagi, ukhti cantik.
Kubalas cepat pesanmu sembari melangkah pulang.
Wajah bundarmu membayang di pelupuk mata. Ah, bisa kubayangkan Ramadhanmu tanpa aku di rantau sana, Zul. Tidak seru, bukan?
Ini ramadhan ke-5 semenjak negeri seribu satu kenangan itu kita tinggalkan. Ramadhan ke-5 pula tidak ada engkau menyerobot menu buka puasaku. Sungguh setiap Ramadhan itu istimewa bagiku, tapi kenangan yang ada engkau di dalamnya seperti membuatku merindu sedemikian dalam. Rindu tentang masa indah persahabatan kita.
Menu buka puasamu masih air putih hangat suam-suam kuku kah? Seperti halnya aku yang tetap tidak bisa berdamai dengan segala penganan mengandung gula.
Cerita Ramadhan kita mungkin tidak cukup menarik untuk di jadikan skenario iklan minuman bersoda menanti berbuka puasa, juga tidak cukup menggugah untuk di perankan model iklan sirup manis atau biro perjalanan mudik. Karena ini bukan hanya tentang "Buka puasa dengan siapa hari ini?" atau tentang "Kebaikan apa yang sudah anda tebar hari ini?" Tidak, ini bahkan lebih dari itu.
Ini tentang Ramadhan kita, yang kita duduk berdua di antara ratusan siswa lainnya memandang jam dinding, menghitung setiap detiknya dengan tidak lupa beristighfar serempak saat iman mulai tergoda beragam ta'jil yang tersedia di hadapan mata. Karena dengan siapa lagi kuhabiskan waktu berbuka puasaku di asrama itu kalau bukan denganmu. Karena denganmu, kebaikan seperti mengikutiku pula, sebab ada engkau yang senantiasa mengingatkan perihal ibadahku, perihal apa yang baiknya kita lakukan selama Ramadhan berkah ini.
Aku ingat saat kita berlomba-lomba untuk khatam qur'an sebelum nuzul qur'an. Ingat juga tatapan sadismu ke arahku tatkala terlalu asyik menggeluti novel ketimbang sholat dhuha.
Kau tentu juga ingat bagaimana perjuanganku membuka mata tatkala bel sahur berbunyi. Bahkan kau harus mengguncang-guncang tempat tidurku dulu, menyubit jempol kakiku, atau juga menggelitik pinggangku hingga terjaga. Sampai suatu hari kau memberiku pelajaran berharga perihal menahan kantuk. Sebab tertidur di tengah keramaian tidaklah lucu, tapi memalukan.
Aku ingat jelas itu terjadi di tahun kedua kita di asrama, ketika itu pembina mengadakan muhasabah sebelum semua siswa di pulangkan untuk libur lebaran. Jam setengah tiga pagi bel berbunyi pertanda berkumpul di aula asrama, kau sudah rapih dengan mukenamu, siap-siap tahajud, sementara aku terkantuk-kantuk mengambil wudhu.
Muhasabah akan di laksanakan setelah sahur, aku tidur teralu larut demi menamatkan novel yang baru ku beli sehari sebelumnya hingga tak sedikitpun mataku mampu terbuka walau barang lima menit saja. Mengantuk sekali rasanya.
Suara pembina yang kita panggil Bunda mulai bergema, instrumental sedih sekali yang aku lupa judulnya apa, tapi yang pasti lagu itu ada di album kesekian Hadad Alwi, mulai bergaung memenuhi seantero aula. Semua siswi terlihat larut memeluk al qur'an dengan air mata berlinang. Sumpah demi tuhan, sekuat tenaga kutahan kantukku ini, Zul, tapi kau barangkali teramat hafal kelakuanku yang tak pernah menang melawannya tanpa bala bantuanmu.
Suasana makin haru, aku tidak mengikuti peris apa ya di sampaikan wanita separuh baya itu, hanya saja saat suara tangisan mulai riuh rendah, beliau terdengar mengomandokan semua siswi agar bersujud. Seperti oase di tengah padang pasir, posisi itu sungguh melenakan hingga aku lupa tengah berada dimana. Hingga sentuhan lembut di punggung seperti memanggil-manggilku untuk membuka mata. Sayup sekali hingga semakin lama semakin mendekat.
"Mutia sudah sampai mana, nak? Sudah sampai di Lubuksikaping ya?"
Mataku terbuka pelan, berat rasanya, namun kenyataan di hadapanku sempurna membuatku terjaga, ada kau di sana, Zul. Muka merah, menahan geli. Ada Bunda juga menatapku lembut. Aku kuyu menahan malu. Kau benar-benar menyebalkan hari itu.
Bahkan semua hal menyebalkan tentangmu mampu menghanyutkanku dalam haru setelah sekian lama ini. Kau benar-benar menyebalkan, Zul! Hingga tak tahu apa yang harus ku rapal jika kita bertemu lagi suatu hari nanti. Ujung Sumatera itu tidak seindah negeri kabut kita, bukan? Aku yakin begitu. Sebab tidak ada aku dan kau dengan cerita konyol penghibur hati di kala senja seperti yang terdahulu, tidak ada aku yang akan terus mengomelimu perkara kebiasaan menggerutumu yang tidak hilang-hilang atau kelakuan 'tak pernah rapi'-mu yang terus-terusan membuatku memiliki pekerjaan tambahan jika bertandang ke kamarmu. Tidak ada kita, cerita ini rasanya sungguh berbeda, tetap manis memang, semanis Es Tebak pasar atas menu buka puasa favorit ayahku, tapi tetap saja, ada yang kurang rasanya.
Ah, sahabatku. Kembalilah, jangan pergi terlalu lama.
Ramadhan 2015
Aku tersenyum menatap layar ponselku. Pesan singkatmu sedikit terlambat kubaca, ah tapi kerinduanku tentangmu masih tetap sama, tidak berubah pun tiada mereda.
Aku lebih rindu lagi, ukhti cantik.
Kubalas cepat pesanmu sembari melangkah pulang.
Wajah bundarmu membayang di pelupuk mata. Ah, bisa kubayangkan Ramadhanmu tanpa aku di rantau sana, Zul. Tidak seru, bukan?
Ini ramadhan ke-5 semenjak negeri seribu satu kenangan itu kita tinggalkan. Ramadhan ke-5 pula tidak ada engkau menyerobot menu buka puasaku. Sungguh setiap Ramadhan itu istimewa bagiku, tapi kenangan yang ada engkau di dalamnya seperti membuatku merindu sedemikian dalam. Rindu tentang masa indah persahabatan kita.
Menu buka puasamu masih air putih hangat suam-suam kuku kah? Seperti halnya aku yang tetap tidak bisa berdamai dengan segala penganan mengandung gula.
Cerita Ramadhan kita mungkin tidak cukup menarik untuk di jadikan skenario iklan minuman bersoda menanti berbuka puasa, juga tidak cukup menggugah untuk di perankan model iklan sirup manis atau biro perjalanan mudik. Karena ini bukan hanya tentang "Buka puasa dengan siapa hari ini?" atau tentang "Kebaikan apa yang sudah anda tebar hari ini?" Tidak, ini bahkan lebih dari itu.
Ini tentang Ramadhan kita, yang kita duduk berdua di antara ratusan siswa lainnya memandang jam dinding, menghitung setiap detiknya dengan tidak lupa beristighfar serempak saat iman mulai tergoda beragam ta'jil yang tersedia di hadapan mata. Karena dengan siapa lagi kuhabiskan waktu berbuka puasaku di asrama itu kalau bukan denganmu. Karena denganmu, kebaikan seperti mengikutiku pula, sebab ada engkau yang senantiasa mengingatkan perihal ibadahku, perihal apa yang baiknya kita lakukan selama Ramadhan berkah ini.
Aku ingat saat kita berlomba-lomba untuk khatam qur'an sebelum nuzul qur'an. Ingat juga tatapan sadismu ke arahku tatkala terlalu asyik menggeluti novel ketimbang sholat dhuha.
Kau tentu juga ingat bagaimana perjuanganku membuka mata tatkala bel sahur berbunyi. Bahkan kau harus mengguncang-guncang tempat tidurku dulu, menyubit jempol kakiku, atau juga menggelitik pinggangku hingga terjaga. Sampai suatu hari kau memberiku pelajaran berharga perihal menahan kantuk. Sebab tertidur di tengah keramaian tidaklah lucu, tapi memalukan.
Aku ingat jelas itu terjadi di tahun kedua kita di asrama, ketika itu pembina mengadakan muhasabah sebelum semua siswa di pulangkan untuk libur lebaran. Jam setengah tiga pagi bel berbunyi pertanda berkumpul di aula asrama, kau sudah rapih dengan mukenamu, siap-siap tahajud, sementara aku terkantuk-kantuk mengambil wudhu.
Muhasabah akan di laksanakan setelah sahur, aku tidur teralu larut demi menamatkan novel yang baru ku beli sehari sebelumnya hingga tak sedikitpun mataku mampu terbuka walau barang lima menit saja. Mengantuk sekali rasanya.
Suara pembina yang kita panggil Bunda mulai bergema, instrumental sedih sekali yang aku lupa judulnya apa, tapi yang pasti lagu itu ada di album kesekian Hadad Alwi, mulai bergaung memenuhi seantero aula. Semua siswi terlihat larut memeluk al qur'an dengan air mata berlinang. Sumpah demi tuhan, sekuat tenaga kutahan kantukku ini, Zul, tapi kau barangkali teramat hafal kelakuanku yang tak pernah menang melawannya tanpa bala bantuanmu.
Suasana makin haru, aku tidak mengikuti peris apa ya di sampaikan wanita separuh baya itu, hanya saja saat suara tangisan mulai riuh rendah, beliau terdengar mengomandokan semua siswi agar bersujud. Seperti oase di tengah padang pasir, posisi itu sungguh melenakan hingga aku lupa tengah berada dimana. Hingga sentuhan lembut di punggung seperti memanggil-manggilku untuk membuka mata. Sayup sekali hingga semakin lama semakin mendekat.
"Mutia sudah sampai mana, nak? Sudah sampai di Lubuksikaping ya?"
Mataku terbuka pelan, berat rasanya, namun kenyataan di hadapanku sempurna membuatku terjaga, ada kau di sana, Zul. Muka merah, menahan geli. Ada Bunda juga menatapku lembut. Aku kuyu menahan malu. Kau benar-benar menyebalkan hari itu.
Bahkan semua hal menyebalkan tentangmu mampu menghanyutkanku dalam haru setelah sekian lama ini. Kau benar-benar menyebalkan, Zul! Hingga tak tahu apa yang harus ku rapal jika kita bertemu lagi suatu hari nanti. Ujung Sumatera itu tidak seindah negeri kabut kita, bukan? Aku yakin begitu. Sebab tidak ada aku dan kau dengan cerita konyol penghibur hati di kala senja seperti yang terdahulu, tidak ada aku yang akan terus mengomelimu perkara kebiasaan menggerutumu yang tidak hilang-hilang atau kelakuan 'tak pernah rapi'-mu yang terus-terusan membuatku memiliki pekerjaan tambahan jika bertandang ke kamarmu. Tidak ada kita, cerita ini rasanya sungguh berbeda, tetap manis memang, semanis Es Tebak pasar atas menu buka puasa favorit ayahku, tapi tetap saja, ada yang kurang rasanya.
Ah, sahabatku. Kembalilah, jangan pergi terlalu lama.
Ramadhan 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar