#random
Hampir pukul tujuh, tapi belum ada tanda-tanda percakapan ini akan berakhir segera. Beberapa kali aku melemparkan pandangan pada apapun selainmu. Meja kosong di belakangmu, lalu lalang kendaraan senja itu atau sesuatu yang bukan matamu. Atau bahkan sekedar scrolling up and down layar ponselku, menyesap rokok di tanganku, menaburkan abunya dimanapun sesukaku, lalu membakarnya lagi hingga entah sudah berapa kali. Yang jelas yang di tanganku detik ini barangkali batang yang terakhir.
Hampir pukul tujuh, tapi belum ada tanda-tanda percakapan ini akan berakhir segera. Beberapa kali aku melemparkan pandangan pada apapun selainmu. Meja kosong di belakangmu, lalu lalang kendaraan senja itu atau sesuatu yang bukan matamu. Atau bahkan sekedar scrolling up and down layar ponselku, menyesap rokok di tanganku, menaburkan abunya dimanapun sesukaku, lalu membakarnya lagi hingga entah sudah berapa kali. Yang jelas yang di tanganku detik ini barangkali batang yang terakhir.
Cukup lama diam, saling diam, kau juga diam.
"Aku belum sanggup!" Ujarku akhirnya menegaskan. Ada yang pedih di ujung tenggorokanku, menyesal mengatakan itu.
Kau kulihat cukup tenang, tapi sesuatu pada cara dudukmu cukup membuatku paham kau tidak setenang itu.
"Maka ku anggap itu sebagai tidak". Senyum yang kutahu sudah kau persiapkan sejak sebelum bertemu denganku hari ini melengkung sempurna di bibirmu. Indah seperti biasanya. Aih, kau memang tidak pernah gagal mempesonaku. Lalu tiba-tiba ada rindu yang menyusup tatkala membayangkan ketiadaanmu.
Aku diam, mati kutu. Hubungan semacam ini tidak seharusnya dijalani siapapun di muka bumi ini. Mencintai tanpa tahu arah mana yang harusnya dituju. Aku merasa bodoh sempurna sama sempurnanya dengan luka yang tiba-tiba menganga entah bagaimana.
"Mulailah berhenti dengan rokokmu, wanita manapun selalu suka laki-laki wangi, bukan bau rokok", ujarmu lagi seraya nenyeruput kopi terakhirmu.
"Hentikan juga kopimu", balasku. Entah mengulur waktu agar kau tidak segera beranjak atau sekedar ingin membuatmu kesal, entah. Aku hanya ingin terus mengajakmu bicara, sampai kapan saja, sampai kau lupa, lupa apa yang sedang kau pertanyakan lalu semuanya kembali seperti sedia kala.
Kau kembali tersenyum. "Kopi terakhir hari ini, aku harus segera pergi". Kau kulihat mulai meraih tas di kursi di sebelahmu. Tas biasa yang bahkan tak ada logo mereknya. Entah kau beli dimana.
"Jangan kangen, oke?", kau tertawa.
Ingin kubalas tawa lagi, tapi bisu. Aku hilang akal tak tahu malu justru meraih tanganmu.
Kau menatapku, mata kanak-kanakmu, senyum tipis di wajahmu.
"Kita sudah cukup berusaha bukan?" Kau balik mengenggam tanganku. Hangat, persis seperti yang selama ini yang aku tahu.
"Tapi terkadang apapun itu tidak cukup 'cukup' memberikan kita akhir perjalanan seperti yang kita mau." Kau menatap balik ke arahku, dalam sekali, tepat di bola mataku, tepat di ulu hatiku, ngilu.
"Setidaknya, akan cukup jika saja mata dan hatimu sepakat berkata setuju", tukasmu menurunkan tanganku pelan, masih dengan senyum menawan, lalu aku hilang pijakan.
Kau berlalu..
(Jatinegara, 16 Sept 2016)
"Aku belum sanggup!" Ujarku akhirnya menegaskan. Ada yang pedih di ujung tenggorokanku, menyesal mengatakan itu.
Kau kulihat cukup tenang, tapi sesuatu pada cara dudukmu cukup membuatku paham kau tidak setenang itu.
"Maka ku anggap itu sebagai tidak". Senyum yang kutahu sudah kau persiapkan sejak sebelum bertemu denganku hari ini melengkung sempurna di bibirmu. Indah seperti biasanya. Aih, kau memang tidak pernah gagal mempesonaku. Lalu tiba-tiba ada rindu yang menyusup tatkala membayangkan ketiadaanmu.
Aku diam, mati kutu. Hubungan semacam ini tidak seharusnya dijalani siapapun di muka bumi ini. Mencintai tanpa tahu arah mana yang harusnya dituju. Aku merasa bodoh sempurna sama sempurnanya dengan luka yang tiba-tiba menganga entah bagaimana.
"Mulailah berhenti dengan rokokmu, wanita manapun selalu suka laki-laki wangi, bukan bau rokok", ujarmu lagi seraya nenyeruput kopi terakhirmu.
"Hentikan juga kopimu", balasku. Entah mengulur waktu agar kau tidak segera beranjak atau sekedar ingin membuatmu kesal, entah. Aku hanya ingin terus mengajakmu bicara, sampai kapan saja, sampai kau lupa, lupa apa yang sedang kau pertanyakan lalu semuanya kembali seperti sedia kala.
Kau kembali tersenyum. "Kopi terakhir hari ini, aku harus segera pergi". Kau kulihat mulai meraih tas di kursi di sebelahmu. Tas biasa yang bahkan tak ada logo mereknya. Entah kau beli dimana.
"Jangan kangen, oke?", kau tertawa.
Ingin kubalas tawa lagi, tapi bisu. Aku hilang akal tak tahu malu justru meraih tanganmu.
Kau menatapku, mata kanak-kanakmu, senyum tipis di wajahmu.
"Kita sudah cukup berusaha bukan?" Kau balik mengenggam tanganku. Hangat, persis seperti yang selama ini yang aku tahu.
"Tapi terkadang apapun itu tidak cukup 'cukup' memberikan kita akhir perjalanan seperti yang kita mau." Kau menatap balik ke arahku, dalam sekali, tepat di bola mataku, tepat di ulu hatiku, ngilu.
"Setidaknya, akan cukup jika saja mata dan hatimu sepakat berkata setuju", tukasmu menurunkan tanganku pelan, masih dengan senyum menawan, lalu aku hilang pijakan.
Kau berlalu..
(Jatinegara, 16 Sept 2016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar