Minggu, 13 Agustus 2017

Setahun Lalu




Hatimu jatuh kali ini,
Bukan berupa sedu sedan ketika saat masa kehilanganmu dahulu. Ini semacam jatuh yang lain. Jatuh yang cukup mendebar dalam dadamu, lalu kau berujar, "aku jatuh cinta lagi."

Aug, 2016 setahun lalu

Tanda Mata dari Timur


Kata kawanku ini buah tangan, tanda dia mengingatku selama perjalanan.

"Kalau dariku kau bisa dapat apa?" kutanya.
"Ah, jadi kawan saja senantiasa, cukuplah segitu saja." jawabnya.


("Dari NTT kawan." Kata dia) :D

Hujan



Rinduku menghujan,
Sore kemarin, pagi tadi, sesiang ini
Tak meneduh sama sekali..

Depok, Aug 2017

Minggu, 23 Juli 2017

Ayah

Bukittinggi, 2017
"Ayah itu rindu, tapi malu kalau kakak tahu." Itu yang sering ibu bilang tiap kali berkelakar perihal Ayah, yang sejak tanggal kepulanganku lebaran tahun ini sudah ditentukan, tak lagi berhenti memelototi kalender. Menghitung mundur hari-hari yang tersisa. Menunggu anak gadisnya pulang.
Setiap kali aku dan Ibu mulai tertawa perihal ini, beliau tak pernah marah, tapi bisa-bisanya menyangkal, "Siapa yang rindu? Ngarang!" Begitu jawab Ayah ditingkahi sesimpul senyum khas yang aku hafal betul. Selalu begitu. Tidak pernah mau mengaku.

Tabiat lain Ayah yang tidak berubah dari dulu, Ayah  jarang sekali mau berbicara denganku lewat telfon. Selalu via juru bicara pribadinya, Ibu. "Kakak sudah dimana? Sudah pulang kerja? Ini loh, Ayah Kakak, nanti Ibu dimarahin kalau lupa nanya." Ungkapan wajib Ibu setiap kali memulai percakapan rutin di telfon setiap harinya. Aku yakin betul Ayah duduk di dekat Ibu, mencuri-curi dengar aku dan Ibu ngobrol apa. Penasaran, tapi gengsian kalau harus nanya sendiri.

Entah mungkin semua Ayah di dunia ini sedemikian pintar bersembunyi di balik sedu sedan perasaannya sendiri. Entah mungkin malu dan beranggapan urusan rasa dan segala macam bentuk ekspresinya sebaiknya diserahkan pada kaum hawa saja, sementara para ayah menetap pada urusan-urusan logika. Aku juga tidak paham. Samudra pikiran Ayah seperti sulit untuk diselami. Bahkan oleh anak gadisnya sendiri.

Aku ingat ketika Ayah dan Ibu menjemputku di bandara, sosok pertama yang kulihat di antara kerumunan orang yang menunggu di terminal kedatangan adalah Ayah. Tidak susah menemukan beliau dengan mataku yang rabun-rabun tanggung ini. Postur tubuhnya masih sama, walaupun sedikit lebih gemuk sejak ayah berhenti merokok 5 bulan belakangan. Setelah kutemukan Ayah, tepat disampingnya adalah Ibu. Dua orang di dunia ini yang tidak sanggup kuurai bagaimana berartinya mereka bagiku dengan kata-kata.

Hal pertama yang kulakukan saat itu adalah memeluk dan mencium Ibu, menikmati ternyata begini rasanya rindu. Sedangkan Ayah berdiri dibelakang Ibu mengambil alih troli yang masih dalam genggaman satu tanganku. Aku tertawa melihat gelagat kikuk Ayah, menyembunyikan sesuatu. Aku beralih ke arahnya, lalu bilang "Ini Ayahnya Kakak yang katanya rindu?" Sembari memeluknya. Ayah merangkulku balik sebelah tangan, sedang tangan satu lagi tetap di troli.  Selang sebentar saja, "Ayo ke mobil!" Acara kangen-kangenan dengan Ayah hanya sekian dan terima kasih. Kalo kata kang Emil pelukan itu baiknya 15-20 detik. Gengsi Ayah ternyata lebih tinggi hingga 10 detik saja sudah cukup lama untukku bisa bersandar di dada Ayah. Sekedar menghirup aroma tubuhnya yang nyaris sama semejak lama berselang. Campuran wangi detergen favorit Ibu dan keringat Ayah. Baunya sesuatu di ingatanku. Ibu tersenyum melirik, menggoda lagi, "Malu tuh." Aku dan Ibu tertawa, Ayah pura-pura lupa.

Dirumahpun sama halnya. Ayah dengan cueknya dan Ayah dengan segala perhatiannya. "Ayah masak apa? Masak sop daging ya?" Tanyaku suatu hari menjelang buka puasa. Dari kecil aku sudah biasa melihat Ayah dan Ibu berdua di dapur. Bantu membantu memasak. Dan tanpa kuminta, apapun yang kuinginkan akan disiapkan. "Kata Ayah, kakak pasti kangen sop daging Ayah. Makanya bikin." Celetuk Ibu. Aku tersenyum sumringah, sedang Ayah diam saja di sebelah Ibu. Pura-pura tidak dengar. Lalu setelah itu biasanya aku dan Ibu akan liat-liatan sambil mengangkat alis. Kode-kodean menggoda Ayah. "Wuaaah, kalo Ayah yang masak pasti enak." Ujarku sambil menyenggol bahu Ayah. Lalu Ayah akan tertawa kecil sambil bilang, "Iya lah, Ayah gitu." Jawabnya bangga. Aku dan Ibu tertawa.

Para Ayah barangkali cenderung menganggap urusan rasa adalah tabu setabu-tabunya. Aku kadang jadi mikir-mikir sendiri. Hingga aku, anak gadisnya ini pun bahkan tak boleh tahu. Sekalipun itu haru rindu. Padahal ayah paling tidak jago menyembunyikan, tapi gengsi abis-abisan kalo diminta pengakuan. Perhatian-perhatian semacam yang Ayah berikan yang barangkali setiap anak perempuan tidak akan pernah dapatkan dari laki-laki lain di hidupnya. Aku bahkan tidak mampu membayangkan seperti apa suamiku kelak memperlakukan. Tapi setidaknya dari Ayah, pertama kalinya aku belajar. Kalau kata Ayah, cinta itu kadang tidak butuh di ungkapkan, cukup perlihatkan dan rasakan.

Curhat ke Ayah memang tidak seseru ke Ibu, tapi percayalah di balik cueknya di akan selalu tahu.
"Kakak disana punya teman siapa aja? Seru tidak?", ibu dengan segala kekepon ala Ibunya tidak akan berhenti bertanya detail bagaimana hidupku selama jauh dari rumah. Aku wajib cerita, tidak boleh tidak. Aku bisa cerita apa aja kalau ke Ibu, tapi tidak kalau ke Ayah. Walau mungkin tidak semua hal bisa kuceritakan pada Ayah, percayalah dia akan selalu tahu. Ayah tahu pertama kali aku jatuh cinta juga tahu pertama kali aku patah hati. Ayah juga yang paling paham kapan saatnya mulai bicara dan kapan saatnya memengerti.

Aku juga tidak bisa memungkiri akan selalu ada kekhawatiran Ayah tentangku yang hidup sendiri di kota sebesar ini. Anak gadisnya jauh dari rumah, tengah mencoba belajar hidup, apalagi yang bisa dia upayakan selain percaya dan berhimpun-himpun doa. Sedang kadang aku masih saja suka telat memberi kabar di penghujung senja. Sekedar mengabarkan aku baik-baik saja. Sementara Ayah akan selalu menikmati rindunya, meredakan khawatirannya dan mengungkapkan cintanya yang entah bagaimana caranya hanya dia sendiri yang tahu. Dia seperti tidak butuh apapun, tidak butuh bantuan siapapun, dia hanya perlu menjadi Ayah, selalu menjadi Ayah.

Banyak yang berubah memang setelah sekian lama, yang lebih sering kadang membuat anak-anak Ayah lupa kalo beliau tidak lagi bertambah muda, usia mulai menuakan, mengikis perlahan waktu-waktu yang tersisa, tapi Ayah masih saja tetap sebagaimana Ayah, sama sekali tidak ada yang berbeda. Walaupun aku tahu, Ayah itu setelah tiga kali sebutan Ibu. Tapi semua pertamaku ada bersamanya. Sebagaimana Ibu, bagiku keduanya adalah semestaku. Karena sebagaimana tangis dan tawa pertamaku dalam dekapnya, hingga detik ini padanya juga bermuara segalaku. Tidak ada yang mampu melebihi itu. Bagiku, selalu Ayah dan selalu Ibu.


Padang, 02 Juli 2017

Sabtu, 15 April 2017

Sepotong Rindu di Ujung Sabtu

Senja sudah kian pekat, mari kita pulang!

"Senja kian pekat, mari kita pulang!" Lalu kau berjalan mendahuluiku.

Aku diam tak beranjak. Kau menoleh ke belakang.

"Kenapa?"

Aku diam. Kaku.

Kau tersenyum.

"Bahkan cemberutmu saja masih tetap cantik. Ayo pulang, biar Sabtu datang lagi, dan kita bertemu kembali."

Tentang matamu yang tak pernah gagal membuatku setuju.

Aku pun berjalan disampingmu. Walau rindu masih berkata tak mau..


Bogor, 2017

Rabu, 22 Maret 2017

Aih, Ibu (2)

"Kakak nanti kalo udah nikah gak usah tinggal jauh-jauh ya dari Ibu, disini-sini aja."

Aku cuma ketawa seadanya. Kadang suka gak bisa jawab kalo entah kenapa tiba-tiba obrolan ringan di telfon menjelma sedemikian haru birunya. Ibu dengan segala ketakutan akan sendirinya masa tua. Aku dengan ketidaksiapan berakhirnya masa muda untuk tanggung jawab yang lebih dari sebelumnya. Kadang kalo dipikir-pikir, gak ketemu ujungnya.

Kadang aku suka iri sama temen yang punya kakak perempuan. Pasti seru. Seenggaknya bisa cerita lah gitu. Seenggaknya aku bisa observasi dulu dia gimana naggepin Ibu. Seenggaknya bisa ngadu soal Ibu, karena dia lebih dahulu tahu. Tapi ya gak mungkin. Anak pertama kok ngimpi punya kakak, gimana ceritanya. Ujung-ujungnya ya belajar paham sendiri. Menerka-nerka barangkali begini sebaiknya atau begitu seharusnya. Improvisasi sendiri ajalah intinya.

"Kok rasanya baru kemarin Ibu liat kakak pake baju TK, eh sekarang udah kerja aja."

Biasanya kalo udah pake kalimat semacam ini, suara Ibu agak sendu-sendu gimana gitu. Tinggal tambahin backsound sedih ala-ala drama korea udah lah itu. Acara telfonan sama Ibu bisa berakhir sedemikian drama.

Kadang sempat terfikir, barangkali semua Ibu di dunia ini sama. Barangkali akupun begitu nantinya. Perasaan-perasaan semacam itu yang saat ini hanya Ibu yang tahu. Sedang aku masih takut keliru kalo mencoba-coba paham.  Ya udah jawabnya cuma senyum. Senyum manis ala anak Ibu. *lol

Ibu sering bilang suka nyesel kadang gak terlalu banyak waktu sama anak-anaknya. Katanya kok kalian cepet banget gitu gedenya. Ibu sampe gak berasa. Kadang aku pun juga kepikiran hal yang sama, Ibu sama aku gak terlalu punya banyak waktu berdua. Maksudnya kayak anak-anak perempuan lain yang kemana-mana ditemenin Ibunya. Dari kecil Ibu bilang anak gadis gak boleh manja. Dari kecil aku biasa sendiri. Ke sekolah sendiri, pergi ngaji sendiri, les sendiri, kemana-mana sendiri. Cuma pas SMP karena sekolahnya agak jauh dan takut telat, aku dianter Ayah. Itupun pulangnya lebih sering jalan kaki ditemenin Dwinda* (Dwinda aku ceritain di tulisan selanjutnya). Waktu SMA lebih-lebih lagi, aku diasramain. Lebih sendiri-sendiri lagi. Ibu itu bakal ke sekolah cuma tentang dua perkara, pertama daftarin anaknya, kedua pertemuan orang tua yang kadangkala suka nitip juga hasil rapatnya sama ibu tetangga. Selebihnya urus sendiri. Aku mau ikut kegiatan apa selagi bisa ngurus diri sendiri silahkan aja.

Dulu itu aku suka sebel, kok Ibu harus kerja. Gak kayak teman-teman lain yang Ibunya di rumah. Yang nemenin semua kegiatan anak-anaknya. Yang kalo ada acara sekolah rame-rame nungguin Ibunya datang di gerbang sekolah. Sementara Ibu lebih sering telat, datang pas acara hampir selesai atau bahkan gak hadir sama sekali. Ibu gak kayak Ibu temenku. Kesal sekali rasanya saat itu. Tapi walau begitu, entah bagaimana caranya sejak dahulu tanpa aku tahu, Ibu selalu ada dengan caranya sendiri. Ga pernah gak ada.

Iya, Ibu gak pernah gak ada. Ibu selalu ada sebuntu-buntunya aku ketika mencoba mengambil keputusan. Ibu selalu ada memberikan pilihan, bahkan memilihkan. Ibu selalu ada sekalipun saat terbahagia dan tersedih dalam kehidupan anak-anaknya. Ibu selalu tau arah mana yang harusnya aku tuju ketika bahkan aku mulai tak mau tahu. Sebosan-bosannya waktu dalam hidupku adalah yang bisa ibu semangatkan dengan hanya mendengar tawa Ibu. Seletih-letihnya pekerjaannku adalah yang bisa Ibu bantu istirahatkan dengan hanya melihat senyum Ibu. Ibu selalu ada, bahkan tanpa aku minta.

Hingga hari ini saat Ibu mulai bertanya-tanya anak gadisnya ini akan tinggal dimana nantinya, jauhkah? dengan siapakah? Rasanya perasaaan sebalku tentang absennya Ibu di rapat orang tua di sekolahku dulu sungguh tidak ada apa-apanya dengan ingin Ibu yang berharap selalu dekat dengan anak-anaknya.

Iya Ibu, rasanya kakak juga gak mau tinggal jauh-jauh dari Ibu. Sejauh mana jugakah kiranya kakak mampu meninggalkan Ibu, jikalau untuk memutuskan hari ini baiknya kakak pakai baju apa juga masih suka nanya ke ibu.

(Pulang kerja ketika rindu akan Ibu sebegitu menderu-deru)

Senin, 13 Maret 2017

Aih, Ibu

00:15 lewat tengah malam. Tiba-tiba handphoneku bergetar. Ada yang telfon.

"Halo!"
"Sudah tidur kak?" (Suara ibu)

Langsung duduk. "Sudah bu, kebangun kakak. Ibu kenapa? Ada apa?" (Panik)

Ibu ketawa. "Dak apa-apa. Ibu dak bisa tidur. Mau gangguin kakak."

"Hufft! Kakak kira ada yang sakit. Tumben Ibu dak ngantuk?"

"Tadi ketiduran abis Isya, eh dak mau tidur lagi".

Akhirnya obrolan panjang lebar, bahas mulai menu makan malam hari ini sampai rencana buat nyicil tempat tidur sama lemari (dengan hashtag #rencanapernikahan)

02:20 lebih dari dua jam, handphone nggak lepas dari tangan. Ambil handphone satu lagi Iseng-iseng buka WA. Eh ada yang online.

.... mengetik...

"Kok belum tidur, udah setengah 3."

"Hehe. Tadi udah tidur, kebangun, Ibu telfon."

"Ada apa? Ada yang sakit?" (Panik sesi kedua)

"Engga, Ibu katanya dak bisa tidur."

"Haih, kirain ada apa-apa."

(Senyum sendiri, at least gaya panik kita sama. Eaakk)

"Masih telfonan?"

"Masih."

"Udah dari kapan?"

"Jam 12an"

"Haha! Udah kaya orang pacaran."

"Haha! Paan sikk." (Literally ngetik sambil ketawa)

(Masih ada Ibu di telfon)

"Ketawa kenapa kak?"

"Dak ada bu, ini ada temen di WA chat."

"Siapa? Temen yang 'kemaren' (Ibu kepo)

"Ho'oh temen kakak."

"Oh bilang apa?"

"Nanya kok belum tidur".

"Trus bilang apa kakak?"

"Lagi telfonan sama Ibu."

(Ibu ketawa-renyah sekali macam kerupuk udang yang biasa ia beli)

"Trus bilang apa lagi?"

"Katanya kaya orang pacaran telfonan jam segini sama Ibu".

"Haha! Bilang Ibu kangennya kadang dak kenal jam gitu".

(Ketawa bareng)

Aih, Ibu..

Senin, 27 Februari 2017

Yang Lebih Romantis

Udah lama ngga nulis random lagi. Gayanya sibuk, padahal males. Bener-bener ngga produktif. Bahkan untuk sekedar nulis buat pengingat diri sendiri. Hentahlah ya, makin kesini rasanya kok makin males. Alesan kerjaan, cape, ga ada ide, padahal kadang ada, tapi buat mulai ngetik kalimat pertama itu rasanya enggan setengah mampus.

Mut, kok ga nulis lagi? Mba An, salah satu fans garis kerasnya Muti *halaaah, suka nanya tiap kali ada kesempatan. Jawabnya, eng ing eng, trus senyum lebar ga jelas minta pengampunan. Lagi ngga ada ide mba, gitu doang jawabnya tiap kali, ngga kreatip.

Suka juga kadang yang sekedar komen di IG nyempil nanya, kok tulisannya udah ga muncul lagi. Kemana aja? Ga kemana-mana mba orangnya. Tulisannya aja yang ngga tau rimba.

Aih, kangen kadang. Tapi ya gitu.. (terlalu banyak excuse) 😆

Nah, walopun nulisnya kurang tapi bacanya rada (walau tak serajin sebelumya juga) rajin. Satu buku lah seminggu (jauh dari standar sebenernya), lumayan lah ngebunuh waktu selama di kereta perjalanan ke kantor. Seninya di kereta depok-manggarai kalo ga game ya buku. Karena ga suka game ya sudah buku aja. Suka rajin beli belakangan, bacanya juga belakangan belakangan *eeihh. Tapi ya seenggaknya adalah gitu. Suka juga kadang nulis random di gadget kalo lagi pengen, pless ada ide mampir, 100-200 kata, engga ada judul, engga ada rasa. Hampa. Asek!  Padahal dulu nulisnya niat subhanalloh, begadang sampe pagi depan laptop. Kumpulin referensi. Baca sana sini buat bisa nulis sekian lembar. Beda dulu beda sekarang.

Ngomong-ngomong soal buku, sebenernya ga addict-addict banget. Tapi suka aja. Kalo menarik ya dibaca. Tapi karena belakangan ada temen diskusinya, selera beli (baca ga terlalu *lol) jadi makin ada. Ciee temen diskusi. Seenggaknya kalo mo cerita ada yang denger gitu. Kalo mo komen ada yang nimpalin. Jadi ga ngomong sendiri.

Buku itu romantis loh (buat Mutia) entah bagaimana. Ga lebay, ini beneran. Yang katanya-katanya ga bakal hilang, ga bakal lenyap dan selalu diingat ya buku. Lebih-lebih wangi buku baru itu bikin candu. Sampe ada yang ngomong, "kamu ngapain sih bukunya dicium-cium?" Aku nyengir, "wangi.." dianya ketawa. Ngabisin waktu sekian jam di toko buku (walopun ga beli), muter-muter liat-liat referensi, atau sekedar baca cover bagian belakangnya barangkali menarik hingga tergoda untuk membeli, rasanya itu beyond something *elaaahh lebay amat. Mutia ga suka mall, suka bosenan kalo cuma jalan-jalan kaya anak hilang, kecuali pada bagian tempat makan (yang ada soto Padangnya) sama toko buku yang semerbak wangi bukunya.

Jadi inget kata-katanya bulek Kirana si baby cat, Hana. Katanya, ada yang lebih romantis dari seikat bunga, lebih romantis dari makan malam ditengah lilin nyala, yaitu buku yang ada catatan kecil di halaman pertamanya. Lebih bahagianya lagi yang ngasih bukunya nulis katanya spesial buat Mutia (sebagaimana martabak *lol).

Buat yang suka ngasi Mutia buku, yang suka dengerin Mutia ngoceh soal buku, yang meskipun genre buku nya beda (bahkan ga ngerti Mutia ngomong apa), yang suka rekomend Mutia baiknya beli buku apa, makasi ya. Hehe. Makasi aja. 😁

Senin, 20 Februari 2017

Kau 3

Aku,
Dengan ingin-ingin sederhanaku..
Tetiba bertemu kamu, dengan angan-angan nyatamu..
Tuhan selalu baik tauk, ungkapmu.
Benar, kau sama sekali tidak keliru..

JGC, Jan 2017

Kau 2

Dan bulanku kembali bersemu merah jambu..
Sebagai entah sebetapa lugu hati yang kembali disapa rindu..

(Depok, September 2016)

Kau


Kau, genggam pada sela jari..
Yang padanya haru rindu semacam ini sama-sama kita sepakati..

(Leah pada Sam, 2016)

Di Kereta

Kau dan aku di kereta Minggu..

Genggam pada tanganku, kaku. Ada debar serupa antara dadaku dan dadamu. Aku tahu.

Senyum di wajahmu terpaku, sorot pada mata. Ada hangat senada. Aku tertawa.

Kau menoleh, kenapa?

Aku jatuh cinta pada pandang ketiga hingga selanjutnya..

Jatinegara, Desember 2016

Dear 'R'

Thank you,
It's not that simple to say most of the days I didn't recognize me. Not easy to say that I was not anything to anyone. Kinda messy up but I am quite kind (I think). Lonely most of the time.
I had never been attention's sweet center. Knew that I'm imperfect no matter how I tried. I was good but I kinda lied. Broken but won't crying for help. I do remember that girl. I do.

I knew it was not what I asked for but sometimes life just slips into the back door that makes me believe it's all true. And now I've got you. I've got you that leads me to the girl that I know (now) who'll be reckless just enough, who'll get hurt but learns to taughen up, who won't be scared of the life inside her, who's growing stronger each day till it finally reminds her to fight just a little and to bring back the fire in her eyes.

Thank you to put that smile back to the place it used to..
To bring the brightness no matter how dark it was. To put the joy back to the right where it should be,

And for being (always) you, the version that I like the most. The same person that I met in the airport on July, 17.

Because the girl that I was. She's gone now. But she used to be mine.

Feb, 2017

------
Now playing: Sara Barellies - She used to be mine..

Sabtu, 14 Januari 2017

Hello January!

Too late I know (you don't need to judge)
Well, welcome the next year. 20s something has no different for me. Just the new calendar on the desk. Some random new year eve party photos or some wishes that you say silently before the day on 31 of December ended which you know exactly it wouldn't be happen this year.

Well, last year wasn't that bad. Got lot of surprise. Life is full of surprise you know. I am doing good lately. My job is good. Get enough money to pay my bill. Got new friend (some stayed some left). Visited the new place. Taste some new food. But lack of writing (damn). I just didn't know where to start. I was supposed to sit in front of my computer for hours, typed several words, deleted it all and started to write again and stuck, ended by clicking the button 'shut down', done!

I've got a lot of stories to tell but dunno why just have no idea at all where to begin.

Hi January, nice to see you again! Let's start it all over again.
and this year, please be good to me.
 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang