![]() |
| Bukittinggi, 2017 |
Setiap kali aku dan Ibu mulai tertawa perihal ini, beliau tak pernah marah, tapi bisa-bisanya menyangkal, "Siapa yang rindu? Ngarang!" Begitu jawab Ayah ditingkahi sesimpul senyum khas yang aku hafal betul. Selalu begitu. Tidak pernah mau mengaku.
Tabiat lain Ayah yang tidak berubah dari dulu, Ayah jarang sekali mau berbicara denganku lewat telfon. Selalu via juru bicara pribadinya, Ibu. "Kakak sudah dimana? Sudah pulang kerja? Ini loh, Ayah Kakak, nanti Ibu dimarahin kalau lupa nanya." Ungkapan wajib Ibu setiap kali memulai percakapan rutin di telfon setiap harinya. Aku yakin betul Ayah duduk di dekat Ibu, mencuri-curi dengar aku dan Ibu ngobrol apa. Penasaran, tapi gengsian kalau harus nanya sendiri.
Entah mungkin semua Ayah di dunia ini sedemikian pintar bersembunyi di balik sedu sedan perasaannya sendiri. Entah mungkin malu dan beranggapan urusan rasa dan segala macam bentuk ekspresinya sebaiknya diserahkan pada kaum hawa saja, sementara para ayah menetap pada urusan-urusan logika. Aku juga tidak paham. Samudra pikiran Ayah seperti sulit untuk diselami. Bahkan oleh anak gadisnya sendiri.
Aku ingat ketika Ayah dan Ibu menjemputku di bandara, sosok pertama yang kulihat di antara kerumunan orang yang menunggu di terminal kedatangan adalah Ayah. Tidak susah menemukan beliau dengan mataku yang rabun-rabun tanggung ini. Postur tubuhnya masih sama, walaupun sedikit lebih gemuk sejak ayah berhenti merokok 5 bulan belakangan. Setelah kutemukan Ayah, tepat disampingnya adalah Ibu. Dua orang di dunia ini yang tidak sanggup kuurai bagaimana berartinya mereka bagiku dengan kata-kata.
Hal pertama yang kulakukan saat itu adalah memeluk dan mencium Ibu, menikmati ternyata begini rasanya rindu. Sedangkan Ayah berdiri dibelakang Ibu mengambil alih troli yang masih dalam genggaman satu tanganku. Aku tertawa melihat gelagat kikuk Ayah, menyembunyikan sesuatu. Aku beralih ke arahnya, lalu bilang "Ini Ayahnya Kakak yang katanya rindu?" Sembari memeluknya. Ayah merangkulku balik sebelah tangan, sedang tangan satu lagi tetap di troli. Selang sebentar saja, "Ayo ke mobil!" Acara kangen-kangenan dengan Ayah hanya sekian dan terima kasih. Kalo kata kang Emil pelukan itu baiknya 15-20 detik. Gengsi Ayah ternyata lebih tinggi hingga 10 detik saja sudah cukup lama untukku bisa bersandar di dada Ayah. Sekedar menghirup aroma tubuhnya yang nyaris sama semejak lama berselang. Campuran wangi detergen favorit Ibu dan keringat Ayah. Baunya sesuatu di ingatanku. Ibu tersenyum melirik, menggoda lagi, "Malu tuh." Aku dan Ibu tertawa, Ayah pura-pura lupa.
Dirumahpun sama halnya. Ayah dengan cueknya dan Ayah dengan segala perhatiannya. "Ayah masak apa? Masak sop daging ya?" Tanyaku suatu hari menjelang buka puasa. Dari kecil aku sudah biasa melihat Ayah dan Ibu berdua di dapur. Bantu membantu memasak. Dan tanpa kuminta, apapun yang kuinginkan akan disiapkan. "Kata Ayah, kakak pasti kangen sop daging Ayah. Makanya bikin." Celetuk Ibu. Aku tersenyum sumringah, sedang Ayah diam saja di sebelah Ibu. Pura-pura tidak dengar. Lalu setelah itu biasanya aku dan Ibu akan liat-liatan sambil mengangkat alis. Kode-kodean menggoda Ayah. "Wuaaah, kalo Ayah yang masak pasti enak." Ujarku sambil menyenggol bahu Ayah. Lalu Ayah akan tertawa kecil sambil bilang, "Iya lah, Ayah gitu." Jawabnya bangga. Aku dan Ibu tertawa.
Para Ayah barangkali cenderung menganggap urusan rasa adalah tabu setabu-tabunya. Aku kadang jadi mikir-mikir sendiri. Hingga aku, anak gadisnya ini pun bahkan tak boleh tahu. Sekalipun itu haru rindu. Padahal ayah paling tidak jago menyembunyikan, tapi gengsi abis-abisan kalo diminta pengakuan. Perhatian-perhatian semacam yang Ayah berikan yang barangkali setiap anak perempuan tidak akan pernah dapatkan dari laki-laki lain di hidupnya. Aku bahkan tidak mampu membayangkan seperti apa suamiku kelak memperlakukan. Tapi setidaknya dari Ayah, pertama kalinya aku belajar. Kalau kata Ayah, cinta itu kadang tidak butuh di ungkapkan, cukup perlihatkan dan rasakan.
Curhat ke Ayah memang tidak seseru ke Ibu, tapi percayalah di balik cueknya di akan selalu tahu.
"Kakak disana punya teman siapa aja? Seru tidak?", ibu dengan segala kekepon ala Ibunya tidak akan berhenti bertanya detail bagaimana hidupku selama jauh dari rumah. Aku wajib cerita, tidak boleh tidak. Aku bisa cerita apa aja kalau ke Ibu, tapi tidak kalau ke Ayah. Walau mungkin tidak semua hal bisa kuceritakan pada Ayah, percayalah dia akan selalu tahu. Ayah tahu pertama kali aku jatuh cinta juga tahu pertama kali aku patah hati. Ayah juga yang paling paham kapan saatnya mulai bicara dan kapan saatnya memengerti.
Aku juga tidak bisa memungkiri akan selalu ada kekhawatiran Ayah tentangku yang hidup sendiri di kota sebesar ini. Anak gadisnya jauh dari rumah, tengah mencoba belajar hidup, apalagi yang bisa dia upayakan selain percaya dan berhimpun-himpun doa. Sedang kadang aku masih saja suka telat memberi kabar di penghujung senja. Sekedar mengabarkan aku baik-baik saja. Sementara Ayah akan selalu menikmati rindunya, meredakan khawatirannya dan mengungkapkan cintanya yang entah bagaimana caranya hanya dia sendiri yang tahu. Dia seperti tidak butuh apapun, tidak butuh bantuan siapapun, dia hanya perlu menjadi Ayah, selalu menjadi Ayah.
Banyak yang berubah memang setelah sekian lama, yang lebih sering kadang membuat anak-anak Ayah lupa kalo beliau tidak lagi bertambah muda, usia mulai menuakan, mengikis perlahan waktu-waktu yang tersisa, tapi Ayah masih saja tetap sebagaimana Ayah, sama sekali tidak ada yang berbeda. Walaupun aku tahu, Ayah itu setelah tiga kali sebutan Ibu. Tapi semua pertamaku ada bersamanya. Sebagaimana Ibu, bagiku keduanya adalah semestaku. Karena sebagaimana tangis dan tawa pertamaku dalam dekapnya, hingga detik ini padanya juga bermuara segalaku. Tidak ada yang mampu melebihi itu. Bagiku, selalu Ayah dan selalu Ibu.
Padang, 02 Juli 2017

Tidak ada komentar:
Posting Komentar