Sabtu, 04 Agustus 2018

DWIND



"Dwind, aku ke Jakarta."
"Sudah mantap?"
"Inshaallah"
"Kalo gitu Bismillah"

~~~

"Dwind bole pinjem duit dak?"
"Kirim no rek"

~~~

"Dwind, laper.."
"Mau makan dimana? Aku yang bayar."

~~~

"Dwind, aku sakit."
"Tunggu, aku kesana sekarang."

The most repotable girl in ma life, Dwind.

Namanya Dwind, huruf vokal a di belakang n tak usah dituliskan biar keren. Kaya nama-nama apa gitu. Karena kalo namaku jadi Meiv bunyinya tak bagus. Baiklah, kali ini aku ingin bercerita perkara si Dwind ini.

Alkisah, pada apapun dalam hidupmu akan selalu ada yang senantiasa bisa kau bagi letih, bahagia, sedih, tawa, air mata dan semua dramamu (mukamu pasti gini, halaaah 😝) Baiklah, singkatnya Dwind itu seorang teman baik. Seorang teman baik sekali. Seorang teman sangat baik sekali. Deskripsinya cukup?

Sejujurnya ini barangkali tulisan tentangmu yang bakal berakhir di folder draftku, setelah sekian yang sudah-sudah. Bukan apa-apa, jangan tersinggung dulu. Aku selalu gagal bertemu awal yang bagus untuk mulaku denganmu. Entah mungkin karena kita sama-sama tak tahu cerita ini darimana mula perkaranya. Barangkali ini cukup menjawab tanyamu kenapa aku tidak pernah menulis yang ada namamu di dalamnya. Tapi baiklah, kali ini kucoba.

Ada yang bilang jika persahabatan itu berlangsung hingga 10 tahun, besar kemungkinannya akan berlangsung seumur hidup. Rasa-rasanya mulai benar kan? Maksudku bahkan setelah sekian lama masih saja kamu yang ada di deretan atas list chatku, dengan interval chat kira-kira (kalkulasiku agak kacau) seper dua puluh empat jam. Kira-kira tiap harilah. Tidak bisa dipercaya bahwa 10 tahun belakangan ini aku benar-benar mendengar semua ceritamu, eng maksudku kamu mendengar semua ceritaku, walaupun aku tahu kamu akan lebih sering lupa demikian saja. Tak apa, setidaknya aku punya tempat bercerita dan lebih tak kusangka sudah sedemikian lama ternyata, ternyata aku (eng maksudku kita) mulai tidak muda. Bhaak!

Kapan tepatnya kita ketemu aku juga tidak begitu ingat. Ada beberapa ingatan memang, tapi tidak yakin tepat kapan. Pokoknya waktu kita masih bocah sekali lah.
Lucunya, kita tidak pernah benar-benar berada dalam satu cerita, contohnya sejak SMA pun sudah  punya alam berbeda, aku di kampus satu kamu di kampus satunya. Kamu ke Jakarta, aku di Depok, agak kesananya Jakarta. Kamu kerja, aku juga kerja, lagi-lagi beda tempatnya. Ga pernah sama.

Nah yang sama apa? Endak tau. Rasanya ada yang sama saja setiap kali sama-sama membagi cerita. Rasanya ada yang kurang saja kalo tiap hari mulai sibuk dan tak tahu menahu, lalu salah satu dari kita tiba-tiba chat,

"Oi, kemana aja? Dak kangen?"

Haha. Kamu sebel kan tiap kali chat bunyinya begini. Kalo udah beberapa hari nggak sempet chat mengingat auditor sibuk sepertimu yang mau tak mau harus gentayangan di seantero Jakarta atau gegara chat manager atau klienmu lebih penting daripada akuh (drama session satu) atau apapun lah itu yang membuatmu abai sedikit perkara chat-chat lain di handphonemu. Lebih jelasnya, ada yang ganjil kalau tidak bertanya kabarmu setiap hari.

Aku tidak punya banyak teman, tidak sepertimu. Temannya dimana-mana. Tapi aku ingat persis muka cemberutmu kalo aku pergi dengan teman lain tanpa memberitahumu. Setelah kupikir-pikir yang lebih drama dalam cerita ini itu kamu, bukan aku.

"Kamu dimana? Dengan siapa? Lagi apa?" Dengan hashtag #temanposesif. Bhak! Apa-apaan ini? Tapi ya gitu, endak Dwind namanya kalo ndak gini.

Lalu aku ingat kata ibu, ibu bilang cari teman itu yang bisa jadi sodara. Nah kalau kupikir-pikir kamu itu paket komplitnya, Dwind. Meski agak random (bahkan sangat tidak jelas) Dwind itu bisa tetiba menjelma apa saja. Kakak, adik, emak-emak, bapak-bapak, teman, sahabat, ibu kos galak, kuli angkut, tukang pijit, tetiba jadi ratu, kadang jadi kacung, lengkap gitu, multiinterpreted. Kalaupun lebih sering marah-marah tapi sayang ke temennya nomor satulah (jijik kali baca part ini, itu pikiranmu kan?) 🤣

Tapi benar kata Ibu, cari teman itu yang bisa dijadikan saudara. Tidak apa hanya punya beberapa. Tapi sejawatan seumur hidup. Kadang apa yang tidak bisa kita bagi dengan yang bertalian darah, jadi leluasa di bagi pada sejawat. Tak lain yang kupahami selain Ibu benar. Rasanya semakin bertambah usia kita semakin banyak hal yang kadang tak mampu dicerna akal sehat, tapi rasanya damai-damai saja jika ada yang selalu bersedia mendengar segala cerita.

Tentangmu Dwind,
Untuk tahun-tahun yang hebat ini, tahun-tahun yang apapun terjadi denganku, orang pertama yang kuingat adalah kau di negeri entah berantah ini. Tahun-tahun yang kadang mengepungku dengan segala ragam kekhawatiran, lalu ketika aku ingat aku punya sahabat hebat sepertimu segala sesuatunya membaik sendiri. Tahun-tahun yang tidak ingin rasanya kuhitung lagi sekedar akumulasi perjalanan hidup yang aku bersyukur ada seorang sahabat sepertimu, lebih ingin kubiarkan tahun-tahun hebat ini menjadi tahun-tahun hebat selanjutnya. Walaupun kadang ada ketakutan sendiri bahwa suatu hari kau akan hidup dengan jalanmu sendiri lalu entah bagaimana engkau mungkin lupa akan aku. Mungkin saja barangkali jarak tempat menetapmu dan aku sedemikian jauh secara harfiah, lalu kau menemukan lingkaranmu yang baru yang tidak ada aku didalamanya. Entah mungkin suatu hari ada seorang lelaki yang memintamu ikut dengannya ke negeri yang jauh yang mungkin tak bisa kukunjungi. Kita tidak pernah tahu. Kalaupun suatu hari kau jauh Dwind, ingat-ingat jugalah aku.

Teman yang lebih sering merepotkan ketimbang membantumu. Teman yang lebih sering menyusahkan ketimbang menyenangkanmu. Tulisan ini barangkali sedikit menjelaskan bagaimana pertalian saudara ini sedemikian berarti buatku.

Bahwa pada saatnya ada yang rumpang tentangku, selalu ada kau yang merampungkan..
Bahwa pada waktunya raungku menggerus rongga dada, selalu ada kau yang membawa lapang semua ruang..
Bahwa saat rasanya semua mimpi dalam kepalaku ini berubah buruk, selalu ada kau yang sekuat tenaga membawaku percaya bahwa apapun itu selalu ada jalannya untuk terwujud.

Dan untuk hari berbahagia ini, selamat ulang tahun Dwind! Kau hebat!


05.08.18



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang