Selasa, 03 Februari 2015

Fiksi # Tiga Kata #



Aku selalu mengagumi caranya bertutur lewat aksara. Apik, begitu kira-kira kata yang bisa mewakilinya.
Baris-baris yang lahir dari hati dan fikirannya seperti mengalir saja. Tanpa banyak bicara, dari deretan kata itupun lahirlah sebuah prosa indah sempurna bernyawa. Hidup, begitulah kesannya.

“Ajari aku, Kang!” Pintaku suatu ketika.

Senyum mengembang di wajahnya. “Kau sudah hebat, ulasanmu sudah pernah kubaca, nyaris tak ada cela!”

“Tapi aku ingin seperti akang, penulis terkenal.”

Lagi-lagi ia tersenyum. “Jangan pegang kata ‘terkenalnya’, kau bisa mati gila. Kalau ingin menulis, menulislah.”

“Tapi..”

“Aku menulis bukan karena kata ‘terkenal’, Ji! Kalau boleh kuceritakan sejarahnya, ini semua karena tiga kata saja.” Tukasnya kemudian.

Aku memperhatikannya dengan seksama.

“Aku, Alam dan Bahasa. Cukuplah tiga.”

Aku mengerinyitkan dahi, tak mengerti.

“Tulisan itu adalah Kau. Disanalah sinergi fikir dan hati berimaji, terlepaslah nantinya kisah itu nyata atau fiksi. Lalu pandangi sekitarmu, alam memberimu ruang yang luas untuk menemukan kata dan ia pun berbahasa jika saja kau pintar menyibak makna dibalik peristiwanya.” Ia mengkhiri ucapannya dengan lugas.

Aku tersadar akan sesuatu. Ah, alam pun berbahasa. Benar juga. Yang juga entah mengapa, selalu kukagumi caranya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang