Aku selalu mengagumi caranya
bertutur lewat aksara. Apik, begitu kira-kira kata yang bisa mewakilinya.
Baris-baris yang lahir dari hati
dan fikirannya seperti mengalir saja. Tanpa banyak bicara, dari deretan kata
itupun lahirlah sebuah prosa indah sempurna bernyawa. Hidup, begitulah
kesannya.
“Ajari aku, Kang!” Pintaku suatu
ketika.
Senyum mengembang di wajahnya.
“Kau sudah hebat, ulasanmu sudah pernah kubaca, nyaris tak ada cela!”
“Tapi aku ingin seperti akang,
penulis terkenal.”
Lagi-lagi ia tersenyum. “Jangan
pegang kata ‘terkenalnya’, kau bisa mati gila. Kalau ingin menulis,
menulislah.”
“Tapi..”
“Aku menulis bukan karena kata
‘terkenal’, Ji! Kalau boleh kuceritakan sejarahnya, ini semua karena tiga kata
saja.” Tukasnya kemudian.
Aku memperhatikannya dengan
seksama.
“Aku, Alam dan Bahasa. Cukuplah
tiga.”
Aku mengerinyitkan dahi, tak
mengerti.
“Tulisan itu adalah Kau. Disanalah
sinergi fikir dan hati berimaji, terlepaslah nantinya kisah itu nyata atau
fiksi. Lalu pandangi sekitarmu, alam memberimu ruang yang luas untuk menemukan
kata dan ia pun berbahasa jika saja kau pintar menyibak makna dibalik
peristiwanya.” Ia mengkhiri ucapannya dengan lugas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar