Minggu, 01 Februari 2015

Fiksi # Antara Kau, Aku dan KUA itu #



“Kapan nikah?” Pertanyaan itu sudah wara-wiri ditelingaku sejak lama berselang. Bukan tak ada niat sebenarnya, hanya jodoh saja yang sepertinya enggan mendekat. Aku biasa menimpali dengan enggan pertanyaan seperti itu, namun tidak kali ini, ketika kalimat itu keluar dari mulut seorang Juna, pemuda yang pernah kutolak cintanya. Terang saja aku gondok setengah mati.

Aku ingin berbohong, tapi lidahku tertahan, aku tidak biasa melakukannya. Jadilah sekarang aku hanya mampu menikmati senyuman kemenangan di wajahnya.

“Perkenalkan istriku, Hanin!” Ujarnya membangga. Aku menyambut uluran tangan perempuan itu setengah hati. Kalau boleh aku berkomentar, dia tidak lebih cantik dariku. Ah, pede sekali aku. Tapi setidaknya itu sedikit menengahi rasa sebalku.

“Semoga kamu ketemu jodoh secepatnya” ujarnya kemudian seraya berlalu. Hatiku ciut mendengarnya. Terbayang usia yang tidak lagi belia, nyaris kepala tiga. Tapi laki-laki terakhir yang berusia mendekatiku tak lebih dari duda beranak tiga. Apakah stok perjaka didunia ini sudah sedimikian menipisnya untuk perempuan seusiaku?

Aku mengurung diri hampir seharian, membuat semua orang dirumah berbisik-bisik mengira-ngira apa yang menimpaku kali ini. Kurasa mereka tidak perlu berfikir jauh-jauh, ingat saja satu kata jodoh. Itu akan menjawa semuanya.

“Ibu besok mau kerumahnya Bu Asih, yang tinggal di kampung sebelah.” Ibu berkata sesaat sesudah makan malam. Aku menoleh sebentar, mengiyakan.
“Masih ingat anaknya? Yang kerja jadi akuntan di kota, katanya sekarang lagi cuti. Kamu ikut ibu ya.” Aku mendongak, ada secercah harapan dalam hatiku. Samar-samar kuingat wajahnya, namun alangkah lebih baik jika esok aku bertemu langsung dengannya. Sedikit bersemangat, aku mengangguk.

Jadilah esok, aku bedandan sedikit berlebihan dari biasanya. Tidak bisa kuingkari ada getar-getar aneh dalam diriku, gugup, malu bercampur jadi satu. Rumah sederhana nan asri itu jadi saksi bisu pertemuanku dengan Arya. Pemuda gagah, mapan yang pantas diidamkan. Aku menyetujui rencana perjodohan keluarga pada pertemuan ketiga. Aku kejar tayang. Nyaris salah niat, nikah karena deadline bukan mencari ridho Allah.

Ada desas-desus terdengar ditengah ibu-ibu tentang Arya, si pemuda kota, calon suamiku. Namun tak satupun yang mengusikku. Aku terlalu bersemangat mempersiapkan segalanya. Aku pun calon pengantin pada akhirnya. Andai Juna atau siapalah yang kemaren merapal senyum cemooh padaku disini, sudah pasti kumekarkan senyuman terindah diwajahku, tanda kemenangan.

Pernikahan sudah diputuskan akan dilaksanakan di KUA saja, menghemat biaya, begitu kira-kira alasannya. Aku sudah cantik sedari pagi. Layaknya seorang pengantin. Iring-iringan sudah siap sedia menunggu komando. Aula KUA dipenuhi kerabat dan kawan sejawat yang rata-rata sudah pumya dua anak. Aku duduk disamping ibu. Mulutnya terus merapalkan do’a. Bahagia, anak gadisnya bertemu jodoh akhirnya. Arya kulihat gugup duduk persis didepan penghulu. Sesimpul seyum kulontarkan padanya.

Namun suasana khidmat menjelang akad itupun tiba-tiba riuh. Sumbernya, perempuan muda berpakaian seronok diantara kerumunan manusia diruangan sakral KUA tiba-tiba bersorak, mengakui bahwa Arya sebagai ayah dari anaknya. Semua orang bersuara hampir bersamaan. Aku gemetar, ibuku nyaris pingsan. Sempat kutatap wajah laki-laki yang nyaris jadi suamiku itu lekat-lekat. Pucat, nyaris tak bewarna.

Harusnya pertanyaanku sebelumnya diubah, “Apakah stok pemuda baik didunia in sudah sedemikian menipisnya untuk perempuan yang hanya berharap bertemu seseorang untuk menjadi imam dunia akhirat ini?”

Aku mengubur harapku lagi, berlapang dada untuk kembali menanti. Yah, kembali menanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang