“Kapan nikah?” Pertanyaan itu sudah wara-wiri
ditelingaku sejak lama berselang. Bukan tak ada niat sebenarnya, hanya jodoh
saja yang sepertinya enggan mendekat. Aku biasa menimpali dengan enggan
pertanyaan seperti itu, namun tidak kali ini, ketika kalimat itu keluar dari
mulut seorang Juna, pemuda yang pernah kutolak cintanya. Terang saja aku gondok
setengah mati.
Aku ingin berbohong, tapi lidahku tertahan, aku
tidak biasa melakukannya. Jadilah sekarang aku hanya mampu menikmati senyuman
kemenangan di wajahnya.
“Perkenalkan istriku, Hanin!” Ujarnya membangga.
Aku menyambut uluran tangan perempuan itu setengah hati. Kalau boleh aku
berkomentar, dia tidak lebih cantik dariku. Ah, pede sekali aku. Tapi
setidaknya itu sedikit menengahi rasa sebalku.
“Semoga kamu ketemu jodoh secepatnya” ujarnya kemudian
seraya berlalu. Hatiku ciut mendengarnya. Terbayang usia yang tidak lagi belia,
nyaris kepala tiga. Tapi laki-laki terakhir yang berusia mendekatiku tak lebih
dari duda beranak tiga. Apakah stok perjaka didunia ini sudah sedimikian
menipisnya untuk perempuan seusiaku?
Aku mengurung diri hampir seharian, membuat semua
orang dirumah berbisik-bisik mengira-ngira apa yang menimpaku kali ini. Kurasa
mereka tidak perlu berfikir jauh-jauh, ingat saja satu kata jodoh. Itu akan
menjawa semuanya.
“Ibu besok mau kerumahnya Bu Asih, yang tinggal di
kampung sebelah.” Ibu berkata sesaat sesudah makan malam. Aku menoleh sebentar,
mengiyakan.
“Masih ingat anaknya? Yang kerja jadi akuntan di
kota, katanya sekarang lagi cuti. Kamu ikut ibu ya.” Aku mendongak, ada
secercah harapan dalam hatiku. Samar-samar kuingat wajahnya, namun alangkah
lebih baik jika esok aku bertemu langsung dengannya. Sedikit bersemangat, aku
mengangguk.
Jadilah esok, aku bedandan sedikit berlebihan dari
biasanya. Tidak bisa kuingkari ada getar-getar aneh dalam diriku, gugup, malu
bercampur jadi satu. Rumah sederhana nan asri itu jadi saksi bisu pertemuanku
dengan Arya. Pemuda gagah, mapan yang pantas diidamkan. Aku menyetujui rencana
perjodohan keluarga pada pertemuan ketiga. Aku kejar tayang. Nyaris salah niat,
nikah karena deadline bukan mencari ridho Allah.
Ada desas-desus terdengar ditengah ibu-ibu tentang
Arya, si pemuda kota, calon suamiku. Namun tak satupun yang mengusikku. Aku
terlalu bersemangat mempersiapkan segalanya. Aku pun calon pengantin pada
akhirnya. Andai Juna atau siapalah yang kemaren merapal senyum cemooh padaku
disini, sudah pasti kumekarkan senyuman terindah diwajahku, tanda kemenangan.
Pernikahan sudah diputuskan akan dilaksanakan di
KUA saja, menghemat biaya, begitu kira-kira alasannya. Aku sudah cantik sedari
pagi. Layaknya seorang pengantin. Iring-iringan sudah siap sedia menunggu
komando. Aula KUA dipenuhi kerabat dan kawan sejawat yang rata-rata sudah pumya
dua anak. Aku duduk disamping ibu. Mulutnya terus merapalkan do’a. Bahagia,
anak gadisnya bertemu jodoh akhirnya. Arya kulihat gugup duduk persis didepan
penghulu. Sesimpul seyum kulontarkan padanya.
Namun suasana khidmat menjelang akad itupun
tiba-tiba riuh. Sumbernya, perempuan muda berpakaian seronok diantara kerumunan
manusia diruangan sakral KUA tiba-tiba bersorak, mengakui bahwa Arya sebagai
ayah dari anaknya. Semua orang bersuara hampir bersamaan. Aku gemetar, ibuku
nyaris pingsan. Sempat kutatap wajah laki-laki yang nyaris jadi suamiku itu
lekat-lekat. Pucat, nyaris tak bewarna.
Harusnya pertanyaanku sebelumnya diubah, “Apakah
stok pemuda baik didunia in sudah sedemikian menipisnya untuk perempuan yang
hanya berharap bertemu seseorang untuk menjadi imam dunia akhirat ini?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar