Minggu, 18 September 2016

Kedai Kopi Suatu Sore

#random
Hampir pukul tujuh, tapi belum ada tanda-tanda percakapan ini akan berakhir segera. Beberapa kali aku melemparkan pandangan pada apapun selainmu. Meja kosong di belakangmu, lalu lalang kendaraan senja itu atau sesuatu yang bukan matamu. Atau bahkan sekedar scrolling up and down layar ponselku, menyesap rokok di tanganku, menaburkan abunya dimanapun sesukaku, lalu membakarnya lagi hingga entah sudah berapa kali. Yang jelas yang di tanganku detik ini barangkali batang yang terakhir.

Cukup lama diam, saling diam, kau juga diam.
"Aku belum sanggup!" Ujarku akhirnya menegaskan. Ada yang pedih di ujung tenggorokanku, menyesal mengatakan itu.

Kau kulihat cukup tenang, tapi sesuatu pada cara dudukmu cukup membuatku paham kau tidak setenang itu.

"Maka ku anggap itu sebagai tidak". Senyum yang kutahu sudah kau persiapkan sejak sebelum bertemu denganku hari ini melengkung sempurna di bibirmu. Indah seperti biasanya. Aih, kau memang tidak pernah gagal mempesonaku. Lalu tiba-tiba ada rindu yang menyusup tatkala membayangkan ketiadaanmu.

Aku diam, mati kutu. Hubungan semacam ini tidak seharusnya dijalani siapapun di muka bumi ini. Mencintai tanpa tahu arah mana yang harusnya dituju. Aku merasa bodoh sempurna sama sempurnanya dengan luka yang tiba-tiba menganga entah bagaimana.

"Mulailah berhenti dengan rokokmu, wanita manapun selalu suka laki-laki wangi, bukan bau rokok", ujarmu lagi seraya nenyeruput kopi terakhirmu.

"Hentikan juga kopimu", balasku. Entah mengulur waktu agar kau tidak segera beranjak atau sekedar ingin membuatmu kesal, entah. Aku hanya ingin terus mengajakmu bicara, sampai kapan saja, sampai kau lupa, lupa apa yang sedang kau pertanyakan lalu semuanya kembali seperti sedia kala.

Kau kembali tersenyum. "Kopi terakhir hari ini, aku harus segera pergi". Kau kulihat mulai meraih tas di kursi di sebelahmu. Tas biasa yang bahkan tak ada logo mereknya. Entah kau beli dimana.

"Jangan kangen, oke?", kau tertawa.

Ingin kubalas tawa lagi, tapi bisu. Aku hilang akal tak tahu malu justru meraih tanganmu.
Kau menatapku, mata kanak-kanakmu, senyum tipis di wajahmu.

"Kita sudah cukup berusaha bukan?" Kau balik mengenggam tanganku. Hangat, persis seperti yang selama ini yang aku tahu.

"Tapi terkadang apapun itu tidak cukup 'cukup' memberikan kita akhir perjalanan seperti yang kita mau." Kau menatap balik ke arahku, dalam sekali, tepat di bola mataku, tepat di ulu hatiku, ngilu.

"Setidaknya, akan cukup jika saja mata dan hatimu sepakat berkata setuju", tukasmu menurunkan tanganku pelan, masih dengan senyum menawan, lalu aku hilang pijakan.

Kau berlalu..

(Jatinegara, 16 Sept 2016)

Selasa, 06 September 2016

Pulang

Dan rembang petang sebagai alun lagu ilalang menghimbau senja, kita masihlah kita, dua pasang kaki yang entah sebagaimana rapuhnya masih saja, semerta merta masih saja laun menapak jejak menuju penutup buku rahasia semesta..

Sebagai rahasia ada menjadi tiada, datang lalu hilang, barangkali kali ini beranjak pergi atau memulai kembali..

Rentang jarak antara, derap langkah sekian hasta, senja luruh digiring gurat mega, dua hati yang entah sebagaimana terlukanya itupun masih saja, semerta merta masih saja, berlari menuju jalan pulangnya.

JGC, 2016

Dimana Muara?

Aliran serupa, barangkali alun riak yang sedikit berbeda. Lalu kita sama-sama hanyut, pada awalnya. Mencoba mengurai rahasia arus mana yang akan membawa kita jauh menuju muara. Muara yang masih dalam dekap rahasia.

Lalu sempat kita berbincang-bincang perkara dulu hati yang pernah di sapa damba, hingga candu, hingga batu, hilang rasa. Persis sama. Entah di bumi ini barangkali ada beberapa pasang manusia yang benar-benar di satukan karena pernah mengintari kesialan yang sama, entah. Barangkali, di suatu dimana.

Kembali lagi kita pada obrolan yang sama. Hanya soal diksi yang di buat seolah-olah berbeda, tapi di baliknya masih saja diskusi serupa. Dimana muara?

Cakung, 2016

(Bait Puisimu Tempo Hari)

.......
Sedang jingga lembayungmu sendu merapal agung semesta..
Samudera, sekian dayung pula barangkali hingga cinta hanyut membawa..

(Rindu Samudera-Jatinegara 2016)

Senin, 29 Agustus 2016

Semisal II

Kau musim yang telah lama tiada, hadir kembali serta merta membawaku jatuh pada cinta. Cinta yang menjadikan kita segala..

(Bogor, August '16)

Semisal I

Kau seumpama semi bunga sebelum gugurnya. Sebagai pendar bulan sebelum redupnya. Sesuatu yang ada dalam segala semesta sebelum menjelma tiadanya.

(Bogor, August 2016)

Hilang

Lebih jauh bayangmu kuhalau kutepis, lebih pekat pula ia membayang menghujam memenjarakan. Penjara pada sepi hati yang separuhnya hampir mati..

(JGC, August 2016)

Surat Cinta

Surat cintamu Desember lalu hilang dalam perjalanan si tukang pos entah terjatuh dimana. Sedang aku mati rindu menantimu. Lalu semusim berikutnya kau hadir tiba-tiba, menusuk belati tepat di dada kiriku, cintamu beku begitupun hadirmu. Kau berlalu..

(Depok, August 2016)

#random Rindu II

#random
Pada robek luka yang sama kita mengeja, merapal meramu waktu biar hadir penawarnya. Agar tak lagi perih, tak lagi sakit.
Pada dingin sepi yang sama kita berlari, kadang jatuh lalu berdiri lagi biar bertemu suka citanya. Agar tak lagi sendiri, tak lagi serasa mati.
Dan pada jerit rindu yang sama kita bersuara, tertatih-tatih dengan asa dalam genggam biar ia bersua. Agar bertemu muara, bertemu penyempurnanya.
...
Ah rindu
Alun lalu dan semu yg tengah ada di hadapku, menghadirkan getar serupa yang sama sekali berbeda geloranya..


Bogor, Agustus 2016

Kamis, 25 Agustus 2016

Let Go!

"Let go! Starts somewhere!" You said.
"Believed me I tried deadly to find a path that lead me home. Completely lost, nowhere to go." I replied

(Dear other me, 2014)

So, there we go then..
But something inside my head still hold a piece of I don't know maybe kinda words that I used to use before, like a pain, stay, hurt that gave me really bad vibe.

"It's a long ride." You whispered.
"I know, just don't stop!"

(Mirror, 2015)

There was some other paths, didn't know where it goes. Time to make decision, but damn right I won't stay too long.

"See? Just say hi back then!" Looked at me.
"Nope, I need a focus."
"Nope, you need a rest." You insisted

---------

"Hi there!"
"Wanna play a game?" He asked
"No thanks, Dude. Just piss off!!"

--------
"See? It sucks!"
"Just give a shoot then." Felt guilty. "And then, what?"
"Just go..!"

(Left, 2015)

Another focus, another path, just another things..
Such a very long ride, the rain has stopped, the rainbow comes up, the sun shines and a life start.

Here I go..

"Ready?"
"Positive!"

---------

"Hi, then!"
"Hello! Need a ride?"
"Depends which way you go."
"You choose and I'll lead." Smiled..

Sweet things happened (again)..

(Sugar, 2016)



Rabu, 22 Juni 2016

He's the one I called DAD

(Tulisan ala-ala, nemu di laptop lama)

Once, I thought about which day would be the best day of my life I just couldn’t decide it at all. It was hard to decide because I thought I didn’t have one. But then I just remembered him, my Dad.

I was not a type of a girl who always made her Dad proud. I was not that smart that I would always be in the top one in my class, not two either. I was much lucky when I could be in big 5 or even 10.  
I remembered he used to take me to my school every morning, but we didn’t talk too much. I just didn’t know how to talk when I was with him. Like no idea at all, I couldn’t even spell a word just about my school day.

Then I moved to another city when I went to Senior High, Mom wanted me to be in a boarding  school, which made me rarely see him. Time flew and I was in college after all. I knew that I was not coming from rich family but it made me become an independent girl. I used to work hard to get the scholarship every year and found some part time jobs to pay my rent house.

Daddy came to see me once a month and sent me allowance every month but I knew it never met my needs well enough, but I never told him. I knew he had been working hard for this family. I swear Mom and Dad would deadly trying to fulfill our needs. I just couldn’t imagine that he, my Dad, always had that proud about his kids in his heart.


In my graduation day, Mom and Dad arrived in my college town, stood in from of the hall gate with their best dress and they were just like the most beautiful couple that I had ever seen in my entire life. Mom held my hand, looked me in the eyes and smile never gone from her face, you knew how a mother, right? She just easily cried with the tears streaming down her face but Dad, he just stood behind Mom, looked around, hiding his feeling like he always used to. Then I saw it, like a crystal on the tip of his eye, he crie.d Ah, Daddy!  ðŸ˜¢

Jumat, 10 Juni 2016

Rumah Teruntuk Asa

Asa laluku bertandang ke rumah baru,

Sempat menjenguk tempat berdiam terdahulu, tapi tak lagi berpenghuni. Hanya kisi-kisi jendela berdebu, serbuk kopi di cangkir kita malam lalu dan kusam dinding kayu bekas bingkai piguramu, tak lagi disitu. Sebab semua kisah butuh pemeran, sedang kita sudah tak lagi dalam babak yang sama. Lalu berlalu..

Kusisir pula halaman depannya, rimbun wangi rumput, sesekali di gelitik mekar portulaca tak tahu siapa menanam, rona kelamnya pun tak terelakan, timbul tenggelam dalam tarian angin di arak serbuk dandelion berterbangan, benar adanya, tak tahu lagi pada siapa ia berpunya.

Hingga sudahlah bagiku, tutup pintu, biar kenang apapun itu lebur seiring gerus waktu..

Kurengkuh segenggam harap yang dulu sempat ku titipkan padamu, tak sempurna kurenggut kembali, sebab kau keburu pergi, sedang aku belum siap, berkata-katapun luput kulakukan. Dan langkah enggan yang dulu dalam kiraku tak akan beranjak sedikit jauh dari jerat masa lalu, sudah sejauh ini pula derapnya, sejauh ini pula asa itu kubawa..

Asa laluku bertandang kerumah baru..

Kueratkan genggamku, agar tak lagi ada yang hilang atau lenyap ditelan penantianku..
Mulai kusapa, ku eja nama, sedikit tawa, sedikit menerima..

Namun entah,
ada yang membebani dalam kepal tanganku, seperti kesepakatan gagal yang otak dan hati ciptakan hingga perlahan, waktu mencoba menjelaskan, ini saatnya melepas genggaman. Genggaman eratku padamu, asa lalu. Cukup membebani, membatasi, hingga penat hati.

Pada langkahku yang kesekian, genggam itupun kulepaskan, membiarkannya tergeletak jatuh di tanah pijakan. Dan satu-satunya yang terang dalam pahamku, langkah yang telah kujejal ini belum lagi tiba di ujung pemcapaianya. Sebab beban tak bijak jikalau dipikul terlalu lama, sebab sudah seharusnya asa lalupun tertinggal di rumah sebelumnya.

Entah jadi penanda, sebagai yang berjalan ini pernah jua menulis kata tentang mekar portulacanya..
Entah sebagai lagu senja perihal tenggelam mentarinya..
Entah..
Hanya sebaiknya ia tetap tinggal..

Karena rumah baru yang belum berpenghuni ini, sungguh sudah sedemikian lama barangkali mendamba empunya. Sebab jendelanya lebar terbuka, damai angin menyegarkannya, adukan kopi belum lagi terseduh, rapi tersusun di meja, serta bingkai pigura belum lagi terisi wajah siapa..

Sebab babak lama yang sudah lapuk kertasnya, tidak lagi layak dibuka, tidak lagi bijak di kotori kisah yang sama..

Sebab sebagai tempat berpulangnya sudah baru adanya, bijak jika demikian pula asanya..

Asa baruku pada akhirnya, bersua rumahnya..


Jakarta, 2016

Selasa, 10 Mei 2016

Bayang..

Hilang, Tiada! (2016)

Kusam pada raut
Hambar pada rona
dia gelora pada gempita semerta-merta lenyap..
hilang tiada..

Depok-10 Mei 2016

#Random RINDU

Rinduku beku! (2016)

dan dari inipun aku tahu
dari semenjak jejakku masih basah membekas
hingga kering hilang tak ada nafas
'rindu' itu sudahlah rindu..

lantas apa yang kau upaya jelaskan padaku perihal versi rindumu?
hanya sejumput kenang lenyap di tepi senja atau serupa himbau pulang burung pada sarangnya?

engkau tahu teramat tahu..

rinduku beku,
sudah lama beku

FKM, UI - Depok, 10 Mei 2016

Rabu, 06 April 2016

Random #4

Langit gaduh
Surya terpagut gegap gempita guruh
Tanah basah
Genang merambah arah..
Linu aku terkecam gema, sebab ada yang menyahut himbau, tak tahu sosok serupa apa..
Diam saja
Geming tak bernada
Aku diam
Dia diam
Bumi diam..
(Alai-16 Maret)

Random #3

Pada gegap gempita tabuh hujan, diam bersuara..
Tapi tak tahu apa..
Serupa lalu lalang manusia dalam ocehan..
Terjemah mengalah padan..
Hilang aksara
Hiba di tinggal makna..

Halah!
Tak bicara barangkali bertemu paras bisa..
Artikan yang tertera
Maknakan yang punya rupa..
Tapi jua
Lelah..
Tak berkesudah

Random #2

Kita tidak pernah bersepakat apa-apa sebelumnya, memang. Barangkali saat itu hanya hati yang saling menyapa, bertukar cerita tentang asa-asa yang bagai bersua jalan pulangnya. Lantas, tiba-tiba rasa yang barangkali sempat singgah itu sudah sebesar itu adanya, tapi nyatanya tidak tentang rasaku, rasamu saja..
Lalu aku bungkam beberapa jenak, melerai-lerai gejolak yang ada, namun tak ada jawab, hanya tidak.. Kuselami lagi, tetap saja, tidak. Entah aku salah terjemah atau memang nyatanya hanya tidak? Entah, tidak bisa ku tebak.
Oh, barangkali terlalu cepat..
Iya. Terlalu cepat!
Sedang kau dan aku masih saja serupa dua pengembara yang tengah membelah pekat..
Sendiri-sendiri saja, kau di setapak yang satu, aku di setapak yang lainnya yang bahkan jaraknyapun tidak terhitung dekat..
Setidaknya aku masih bisa menggunakan 'kita', meski 'kita' kali ini masih belum lagi faham, jalan mana kiranya barangkali yang bisa membawaku menujumu, atau mungkin menunggumu dalam remang senja yang kian rembang ketika hatiku mulai mau, sedang langkahmu masih tetap teratur berjejal di belakangku, menungguku yang barangkali mulai sadar perihal adamu..
Aih, serumit ini kah jalan hati? Sedang sosokmu, masih serupa bias-bias aneh di otakku, apalagi rupamu..

Random #1

Ok, here's the thing. To be honest I don't want to tell anything about this anymore, not just because the wound is still there but it's more like, I don't want to look back any longer, it's suck! But somehow the whole world don't really understand how hard is it for me. No one.
More than a year I know (I've removed 6,8,12 Brian McNight from my playlist, BTW) and I am doing good lately, about my life, my dream and my future soon, though it's not 100% done but at least I could go to sleep with all good stories that I made all day or woke up in the morning and tell my self "here comes the sun, girl!" 

I am more than OK, for sure.

But it seems like I miss one part, I don't notice the fact that you've been infected the people around me that much too. No matter how hard I am trying to sweep out all those memories, it's still there, left on everyone's mind, anyone who had ever involved in the story that you made for me years ago. I know, it sounds stupid but the only thing that I hope could help just this random writing (sorry for the inconvenience that might be exist-just ignore if you don't mind)..

At first, I thought that I've gone too far but the fact I haven't, cause somehow I left in somewhere..
Somehow some people are still talking about you and I hate it. Even just remind me about the place where you used to be or the company where you work or someone who meet your Mom accidently then she told me that, "Wow can't believe that everything has changed, Tia! I just met his Mother", snap! Would everybody really understand for not talking anything about you (anymore) when they see me. Or asking about anything else after long term unseeing each other, just anything, anything without a name that I don't want to spell anymore for the rest of my life. Or could everybody just stop for giving me advice about healing this broken hearted, well yeah I am a broken hearted girl but I am not kinda silly girl who can't do anything to calm herself down. Call me selfish, but I love my self too much and wouldn't ruin my beautiful life just because a man let me down.
Is it that hard?? Come on!

I know, it's truly impossible having you out completely from my life while I am not living alone and we've created that story with all those people too. But nothing I could say, maybe that's the world desire to let me in this story (with you) and let me alone in this story (without you) at the end.
Yah!
But for sure, I am not stay, I've taken my first step, leaving, since the day when you went away (or in fact when someone told me that you should've said done). I've left. Left and no way back.
And memories about you would be gone too, right? Maybe a year is too early for hoping it that much but there's always time and there's always place to begin.

I've begun another story and I beg you My Rabb.. Let me begin it without any regret, without any bad memories. No more. If you're that happy today, I could be too, even more. Yes, more..

Sabtu, 12 Maret 2016

Keliru

Keliru yang menjadi awal segala macam jenis prasangka pada dasarnya. Salah menaruh pemahaman pada yang benar. Lalu kusut masai, lalu sama-sama meninggalkan, tidak ada yang berniat mengurai
Kalut sudah,
Satu cerita tak berpenghujung kembali usai.
Hilang, diam, tak pulang! (2016)

Sabtu, 27 Februari 2016

Belum Lagi Bermula

Satu-satunya yang kupahami, setidaknya saat ini adalah bahwa hal pertama yang akan terjadi ketika mulai menerima seseorang (pasangan) adalah  harus (entah kenapa harus) membuka diri, lalu tak lama mulai bergantung dengan sendirinya, lalu segala sesuatunya seperti terbiasa, lupa akan masalah bahwa kemungkinan kecewanya, tak peduli seberapa persennya, akan selalu ada.

Seperti menjawab teki-teki yang kucipatakan sendiri, tidak lagi ada rasa baru ketika yang hadir justru menawarkan cerita yang sama. Persis sama, hanya beda tokoh dan latarnya saja. Ya tuhan, tidak adakah cerita lain yang barangkali bisa kita tulis bersama selain gumam rayu, ungkap tak tercerna akal sehat serta lagu picisan dengan kadar bikin 'enek' yang sama?? Ayolah..

Dan 'kembali bermula' seperti masih sekian tapak lagi jauhnya dari jangkau deret aksara yang telah kupersiapkan adanya..
Sekian kenyataan lain pula untuk nyatanya..

Padang-28th 2016


 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang