Sabtu, 28 Februari 2015

Lembayung Koto Baru



Masih tentangmu, Zul..

Aku berdiri di luar ruangan itu dengan kaki serasa tak menapak, melayang-layang. Selera makanku hilang, perasaan tak karuan, semua ini sidang sarjanalah yang punya pasal. Saat kurobek lembaran kalender pagi ini, tanggal 12 Agustus 2014, konsentrasiku buyar, sungguh hari ini sudah menjadi daftar rencana jangka panjangku semenjak lama berselang, namun rasanya sedikit sesak tatkala menyambutnya datang. Dadaku bergemuruh saat mengumpulkan semua buku-buku yang kuharap mampu menengahi gusarku saat di uji nanti, namun tumpukan buku setebal dinding itu tak juga memberiku ruang. Aku semakin blingsatan.

Semoga sidangnya berjalan lancar, nak. Ibu mendo’akan dari jauh.

Ah, pesan singkat itu cukup mampulah rasanya mengurai gamang. Ibu, doakan aku, nyaris tak terdengar aku berbicara sendiri. Cukup lama aku memejamkan mata, mencoba mengumpulkan semua energi positif disekitarku. Semua bayangan bermain seperti kilasan film kolosal, berganti-ganti menampilkan semua moment yang telah membawaku pada hari ini. Salah satunya kau, Zul. Disana kuyakin kau juga tengah mengarungi gejolak yang sama. Sidang sarjana, seberapa menakutkankah ia? Namun gambaran-gambaran itu semakin memelam tatkala menampilkan memoriku 2009 silam. Kita juga pernah mengalami ini sebelumnya bukan? Yah, itu terjadi saat cerobohmu justru menjadi malapetaka bagiku.
***
“Kita menyanyi saja.” Ide yang kau tahu akan kutolak ini justru kau lontarkan tanpa rasa bersalah. Dahiku mengerinyit, tanda tak suka. Kau tentu hafal raut seperti ini di wajahku, terang saja karena dia sudah menemani pemandanganmu bertahun-tahun lamanya. Ini berkenaan dengan dua hal saja, pertama jikalau ada orang-orang tak begitu penting mengusik hidupku atau yang kedua saat melerai ide gilamu disetujui otakku. Kali ini, alasan yang kedua ini perkaranya. 

“Menyanyi? Kau gila?” Aku sepuluh ribu  persen menolak mentah. 

“Kenapa?” Matamu yang kekanak-kanakan itu kadangkala membuatku jengah juga. Pernahkah terfikir olehmu jika aku tak lebih dari tumbal dari segala ide-ide yang senantiasa blusukan di otakmu itu, Zul? Menyanyi? Di depan ratusan orang? Yang benar saja.

“Ayolah, kau hanya perlu menyanyikan satu lagu saja, ini demi harga diri kita. Semua orang sudah mempersiapkan segalanya untuk acara minggu depan, tinggal kita teman.” Begitu rengekmu. Namun belum kuasa juga merobohkan kebertahanan ‘tidak’-ku. 

“Ah, tidak.. tidak.., ini juga perihal harga diriku, enak saja.” Aku terus saja dengan pekerjaanku, mengabaikanmu. 

“Ayolah, jangan bikin aku hilang muka di depan panitia lah, Mut. Kita tampilnya sesi ke dua kok, ba’da dzuhur, pasti penontonnya mulai sepi.” 

“Apa??” Rasanya ingin keluar kedua bola mataku memelototimu yang sama sekali merasa tak berdosa telah mendaftarkan nama kita sebagai pengisi acara tanpa sepengetahuanku. Kau senyam-senyum tanpa sedikitpun peduli padaku. Begitulah kau, Zul. Entah kenapa sikap memaksamu itu tak jua hendak hengkang dari kepalamu itu. Menyanyi itu pilihan terakhir dalam hidupku, sungguh panggung sudah bermusuhan denganku semenjak lama. Lantas, kenapa harus lagi-lagi. Ah Zul, entah sumpah serapah apa yang bagusnya kurapal demi membuatmu membatalkannya, namun sepertinya kau sudah terlalu biasa menanggapi sikap meledak-ledakku. 

Hari itu datang juga pada akhirnya. Lima belas menit yang sudah sukses menyita kenyamananku seminggu itupun tiba. Kau sudah siap dengan dandanan terbaikmu, menyandang sebuah gitar yang ujung-ujungnya akan kau pindah tangankan juga padaku.

“Siap?” Kau terlihat berbinar-binar

Aku melihatmu dengan dahi mengerinyit itu lagi. Kau memainkan kedua alismu naik turun, mencoba menggodaku. Aku menatapmu marah. Kau diam, pasang tampang lugu dan manis.
Gelegar suara MC memecah lamunanku seketika, nama kita terpanggil lewat pengeras suara. Akh, tenggorokanku tercekat. Apa yang harus kulakukan? Gitar dalam genggaman mulai basah karena keringat di tanganku. Aku Phobia tampil, punya riwayat demam yang tak ada pil pengobatnya di apotik manapun, demam panggung. Namun yang membuatku semakin geram, kau dengan lincahnya berjalan ke arah depan penonton meraih mikrofon dan berbicara ini itu perihal penampilan yang akan segera kita suguhkan, kita? Bukan, lebih tepatnya yang aku suguhkan, karena kenyataannya setelah cuap-cuapmu yang sedemikian lama itu, kau justru meninggalkanku disana sendirian. 

“Aku backing vocal ya.” Begitu bisikmu menepuk bahuku. Sial! Ini benar-benar jebakan. Aaargh Zul, tunggu balasanku selepas ini. Batinku menjerit histeris. 

Walau menggigil kuraih juga mikrofon itu mendekat, menggeser standing mic-nya sesuai posisi berdiriku, memukul-mukulnya dengan telunjukku ala-ala Bupati sebelum berpidato. Demi tuhan segala cara sudah kukerahkan untuk menenangkan gemuruh dalam dadaku. Namun tetap saja, aku ketakukan setengah mati saat mataku bertemu mata penonton. Ini yang namanya sepi? Penonton malah lebih membludak selepas sholat dzuhur dan makan siang. Aku seperti di lumat hidup-hidup. Kumohon, gempa bumi, putting beliung atau apa saja, selamatkan aku dari sini. Aku bahkan merapal do’a yang tidak-tidak.

Jreng.. Petikan gitar pertamaku bergema sudah. Semua hening, menatapku. Alamak, aku lupa kuncinya. E kah C kah G kah, semua berenang-renang dalam kepalaku. Aku nyaris menyerah saat tiba-tiba kau melangkah kedepan.
“Sambutan yang meriah untuk rekan kita, Mutia…” Suaramu yang cempreng itu cukup membantu juga ternyata. Penonton riuh bertepuk tangan menyambutku. Kuhela nafas paling panjang yang kubisa, memejamkan mata, membiarkan jari-jariku memainkan musiknya dan nada yang kuingat mengiringi liriknya.

Menatap lembayung di Koto Baru.. (Harusnya kita minta izin dulu pada Saras Dewi, karena Lembayung Bali-nya kita ganti. Ini gubahanmu, kau tau?)
Dan kusadari, betapa berharga kenanganmu
Dikala jiwaku tak terbatas bebas berandai mengulang waktu
Hingga masih bisa kuraih dirimu, sosok yang mengisi kehampaan kalbuku
Bilakah diriku berucap maaf, masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu, oh cinta
Teman yang terhanyut arus waktu, mekar mendewasa masih kusimpan suara tawa kita
Kembalilah sahabat lawasku semarakkan keheningan lubuk,
Hingga masih bisa kurangkul kalian sosok yang mengaliri jawara hidupku
Bilakah kita menangis bersama tegar melawann tempaan semangatmu itu oh jingga
Hingga masih bisa kuraih dirimu sosok yang mengisi kehampaan kalbuku
Bilakah kini berucap maaf, masa yang kuingkari dan meninggalkanmu, oh jingga
Hingga masih bisa kurangkul kalian sosok yang mengaliri jawara hidupku
Bilakah kita menangis bersama tegar melawann tempaan semangatmu itu oh jingga
Hingga masih, bisa kujangkau cahaya senyum yang menyalakan hasrat diriku,
Bilakah kuhentikan pasir waktu tak terbendung dari khayal keajaiban ini, oh mimpi..
Andai ada satu cara, tuk kembali menatap agung suryamu, lembayung kotobaru…
Petikan gitarku berakhir dramatis, lagu itu berakhir sempurna tak ada cela. Sedang kau Zul, kulihat mengusap-ngusap sudut matamu yang mulai di genangi cairan tak disangka. Air mata. Kita berjanji bahwa tak akan pernah menangis bukan? Tapi kau melanggar janji kita. Gemuruh sorak-sorak penonton lebih menggila lagi, sepertinya keharuan yang dihadirkan senandung dadakan kita barusan mulai menulari naluri mereka. Aku turun panggung, megah dengan puja dan puji tak berkesudahan sepanjang sore. Hantu-hantu itu hilang seketika, aku melenggang ringan, beban berat itupun lenyap tanpa di duga. Aku berhasil menyanyikannya. Benar-benar menyanyikannya, harga diriku terselamatkan.

“Ah, Gita Gutawa, kubilang juga apa.” Kau merangkul bahuku, meski agak kesusahan menaikkan tumitmu demi menyamaiku. Kau benar-benar pendek, Zul. Aku menjitak kepalamu. Namun kau tidak peduli, senyum sumringahmu menari-nari di pelupuk mataku.

“Kau benar-benar tega, membiarkanku disana sendirian saja.”

Lagi-lagi kau tersenyum. “Jangan sampai suara Sang Dewi-ku menggeser posisi Gita Gutawa-mu, aku hanya menghargaimu, teman.” Aku kembali menjitak kepalamu. 

“Kan sudah kubilang, aku backing vocal. Posisiku ya dibelakang. Ini soal harga diri, kau tahu? Ah lembayung KotoBaru, kamu benar-benar memesona Meivaaaaaa.” Sambungmu berjingkrang-jingkrak kegirangan, mencubiti kedua pipiku. Aku lupa harus marah tadinya, hanya tawa yang mengiringi kelakuanmu.

Tak pernahkan kau sadari itu, Zul. Kau selalu saja bisa memaksaku untuk melakukan semua hal yang menurut kamusku haram untuk dilakukan. Cara seperti itu tak lagi kutemui disini. Tak ada semangat membara sepertimu yang mampu mengaliriku sampai urat nadi, tidak lagi, Zul. Hanya kau. Semangat itu yang tengah kubutuhkan saat ini. Saat aku tengah dihinggapi demam panggung lagi menjelang sidang skripsi.
***
Seperti yang terdahulu, seperti ketika aku tengah di kuliti ketakutan ditengah panggung sendiri, kembali kuhela nafas paling panjang yang kubisa sebelum memasuki ruangan bertuah ini. Di depan pintunya tertera SIDANG SKRIPSI MEIVA MUTIA R. Kupejamkan mata sejenak, mencoba menyenandungkan kembali nada-nada yang dulu kita mainkan melodinya dan dikta rapal liriknya. Hal itu setidaknya mampu mendamaikan hatiku barang sejenak. Aku membuka pintu, membiarkan apapun namanya ini berakhir seperti alunan Lembayung KotoBaru kita bertahun-tahun lalu. Semoga berakhir sempurna juga dan segera, aku jadi sarjana. Seperti halnya kau, Zul, teman tergilaku sepanjang masa.

(Meja Kerja-Malam Satu Maret yang Basah di Guyuri Hujan, 2015)



Jumat, 27 Februari 2015

Hadiah Menanti



Tak ada kabar adalah kabar, yaitu kabar: tak ada kabar
Tidak ada kepastian juga adalah kepastian, yaitu kepastian: tidak ada kepastian-HUJAN.

Kututup buku itu rapat-rapat, kudekap erat hingga sedikit kusut ujung sampulnya.  Nama Tere Liye tertera indah di halaman depannya. Sekali lagi tulisannya membuatku terpesona. Aku menghela nafas panjang, menyandarkan bahuku di tepian jendela., menengadah, merasa kosong dan tak mampu menerjemah apa yang tengah kurasa. Tak ada kabar lagi, begitu gumamku hampa.
Entah ini kecamuk rindu atau apa, hambar yang kurasa nyaris mencapai titik kritisnya. Aku mencintainya, namun tak mengerti cara apa yang tengah diketengahkannya hingga membiarkanku menanti dalam genggaman asa yang nyaris sirna. Aku rindu, tidak tahukah kau nelangsanya tak bersua itu seberat ini siksaannya? Batinku berteriak.

“10 bulan lagi saja, aku yakin kau bisa menunggu.” Begitu ungkapnya suatu ketika. Ada sesimpul senyum yang terukir di wajah teduhnya. Aku hanya cemberut. 

“Ayolah, wajahmu jelek kalau begitu.” Dia mulai menggodaku.

“Bagaimana aku bisa mengenalimu lebih jauh kalau begini, tak pernah ada kabar, tak pernah punya waktu, bertemu pun tidak.” Aku bersuara juga akhirnya.

“Sepuluh bulan lagi saja cinta, kita akan bersama setelah itu.” Dia masih tersenyum, masih dengan senyum yang sama. Aku tetap tidak menerima. Aku malah menyesalkan sikap tenangnya, seperti tidak terjadi apa-apa saja. Hey, aku tengah kau siksa, kau tahu? Rasanya aku ingin sekali berteriak padanya. 

Kuraih hp-ku yang tergeletak pasrah di atas meja. Memencet tombolnya, lalu memperhatikan apa saja yang tertera di layarnya. Ada beberapa panggilan telfon yang tak terjawab, tak ingin kujawab lebih tepatnya. Lalu beberapa pesan pendek yang belum lagi kubalas, enggan saja melakukannya. Lebih-lebih, tak satupun yang pengirimnya dia. Aku mendengus kesal.
Ah, tak jugakah dia mengerti sesaknya dadaku akibat rindu yang mendera disetiap kali aku terjaga. Sejak kumulai hubungan ini dengannya, tak pernah sekalipun ada waktu untukku berdua dengannya. Hanya sebuah janji bahwa dia akan mengikatku selamanya dalam akad. Itupun sepuluh bulan lagi. Sedemikian lama rasanya. 

Kamu dimana? Aku kangen.

Pesan itu kukirim juga akhirnya, menepikan egoku sesaat, tak kuasa menahan lebih lama. Aku ingin bertemu dengannya.
Lama tak ada balasan, aku hampir marah. Nada yang kutunggu berdering juga akhirnya. Dengan sigap kuraih benda mungil itu tanpa banyak tanya. Satu-satunya nama yang tengah kufikirkan hanya namanya. Namun balasan itu lebih membuatku sebal ternyata.

:)

Hanya itu yang tertulis disana. Benar-benar singkat. Senyum, yang bahkan bukan dia pemiliknya. Hanya ilustrasi emoticon tak berdosa yang bisa digunakan siapa saja. Aku mencak-mencak, ingin kabur rasanya. Tak bisa kugambarkan misah-misuhnya aku gara-gara balasan diluar perkiraan itu. 

“Jangan seperti anak kecil begitu.” Mbak Hanin mulai jengah juga setiap kali kuungkit lagi perihal, Ardi. 

“Aku nggak mungkin bisa mengenali dia lebih jauh kalau begini ceritanya, mbak.” Aku menggerutu terus sepanjang siang.

“Kan sudah mau nikahan, ya sudah kenalnya ntar pas udah nikah aja, udah halal, udah sah, lebih bagus begitu kan.” 

“Tapi kan tetap saja, aku butuh kenal dulu, kalau begini ceritanya nggak ada bedanya seperti orang asing lah.” Aku tetap saja tidak terima. 

“Mbak kenal Ardi udah sejak jaman kapan, ndah. Dia nggak neko-neko orangnya, percaya saja. Kamu di bilangin suka ngeyel gitu.” Mbak Hanin mulai lagi kuliahnya. 

“Ah, mbak nggak akan ngerti juga kalau aku jelasin.” Aku melengos. Mbak Hanin geleng-geleng kepala.

Huah, benar-benar jenuh. Aku sudah berkali-kali mencoba berdamai dengan laraku perihal rindu, namun tetap saja dia memaksa untuk bertahta disana. Hari-hariku seperti berlalu begitu saja, Senin sampai Senin lagi, tak ada yang berbeda. 

“Hargai saja niatnya, Ibu yakin dia bukan tipikal pria yang mau main-main dengan perasaan wanita.” Ungkap ibu menasehati. Aku hanya membisu. Mencerna perlahan-lahan maksud perkataan Ibu.

“Biarkan dulu kalau memang begitu inginnya. Indah sudah bersedia menunggu, bukan? Penantian yang berdasarkan hati yang tulus itu tidak akan sia-sia akhirnya, percaya sama Ibu.” Suara itu mengalun lembut menembus kedalam relung. Seperti itukah kiranya? Batinku masih saja bergolak, bertanya-tanya.

“Jangan berprasangka buruk dengan niat baiknya. Ardi mungkin lebih ingin menjagamu ketimbang menghabiskan waktu untuk hura-hura berdua.” Aku terkesiap, kali ini seperti benar-benar terjaga dari ninabobo pikiran sempitku. Ibu tersenyum menatapku tulus seperti bermohon agar percaya pada apa yang baru saja dikatakannya. Aku mencoba menerima. 

Sudahlah, aku ikut saja kalau begitu inginnya. Tak lagi berusaha mengusiknya atau mengganggunya dengan rengekan-rengekanku seperti biasa. Berat, tapi kutahan. Jika memang mencinta itu sebegini dahsyatnya, kumohon tuhan, jangan biarkan penantianku berujung luka. Hanya itu do’a yang senantiasa mengalun dalam tiap sujudku. Hari-hariku mengalir seperti biasa, sesak-sesak yang pekat dahulu itu semakin memberi ruang, leluasa mencoba menerima apapun kiranya yang direncanakanNya. 10 bulan lagi, yah, selama apakah kiranya waktu itu jika aku terus berlapang dada menjalaninya. Aku terus menenangkan kalbuku yang sebegitu rapuh adanya.

Entah hari yang keberapa, aku mulai berhenti menghitungnya. Sepucuk surat datang berserta sekotak bingkisan yang belum lagi kuketahui isinya apa. Surat? Entah siapa yang masih memakai cara ini kiranya dalam memberi kabar. Aku tersenyum kecil saat mengetahui siapa pengirimnya. Ardi. Yah, nama itu. Aku sedikit tertawa melihat sampul biru muda bercorak angsa putih itu terukir “teruntuk adinda” di depannya. Ah, Ardi. Kuno sekali caranya, namun tak kusangkal ada binar tak biasa yang menyisip kedalam kalbuku, bahagia yah aku bahagia.
Kubuka perlahan sampulnya, berniat tidak merobeknya, namun hatiku sedemikian tidak sabarnya hingga sedikit rusak juga tepian bekas lemnya. Tergesa-gesa aku membukanya dengan senyum yang tak sedikitpun lepas dari muka.
Indah…, begitu sapanya di awal kata. Oh, tuhan aku berbunga-bunga.

Apa kabar cinta?
Apakah hatimu sudah sedemikian lelahnya? Kumohon jangan. Sebagaimana rindumu menyiksa, akupun tak ada bedanya. Tak kuasa rasanya terus membayangkan terpisah denganmu sedemikian lama. Tak ada maksud menjauh demi meninggalkanmu, lebih-lebih aku harus mendekap perihku dalam kesendirian tanpamu di kejauhan sana. Aku lebih merana lagi, cinta. Satu-satunya yang terus membayang di pelupuk mata hingga datang senja hanya kau, namun kutahan jua gelora ini hingga saatnya tiba. Aku tak hendak mengenalimu dalam masa sebelum halal segala yang diharamkan selama ini bagi kita. Sungguh niatku hanya ingin menghormati rasa yang ada, tak ingin meninggalkan cela padanya. Harapku jika diperkenankan, hanya adanya kau mendampingiku dalam perjalanan kita. Hebat rasanya jika diberi kesempatan untuk lebih mengenalimu dalam penyatuan yang benar dalam agama kita. Sebab itu, baiknya aku berkelana dulu. Menyiapkan hatiku seutuhnya untuk kuserahkan seutuhnya pula padamu, gadis yang terus menemaniku dalam mimpi-mimpi tidurku.
Indah, aku kembali. Setelah mungkin kecamuk hatimu nyaris tak mampu kau redam mencoba mengertiku. Namun terima kasih, jika detik ini hatimu masih tertambat di tepian hatiku. Aku kembali, indah. Kembali untuk segera bisa menggelar sajadah bersamamu.
Ardi

Air mataku merebak, bukan haru biru dengan luka menganga, namun merebak menyambut bahagiaku. Kubuka bingkisan putih bersih itu, selembar sajadah lembut berdiam didalamanya. Aku berlari memeluk ibu, tak berkata apa-apa. Hanya mengiyakan dalam hati saja, bahwa apa yang beliau prasangkakan benar adanya. Ardi, sudah benar menapaki jalannya. Segera, aku akan halal bersamanya.

“Allah, satukan hati kami berdua, jika cintanya kelak menuntun ke surga”---twitografi---(Sakinah Bersamamu-Asma Nadia)

Selasa, 24 Februari 2015

Telor Dadar Landasan Pesawat dan Bakwan Tiket ke Mesir

Ini karena kau merengek memintaku menceritakannya lagi. Baiklah Zul, kupenuhi permintaanmu yang kesekian ini..

Kau tentu ingat menu favorit kita selama di asrama bukan? Telur dadar. Yah, benar sekali. Entah pesona apa yang di bawa penganan dari telur itu hingga kita begitu tergila-gila padanya. Ups, tapi benarkah begitu? Kita sebegitu sukanya? Atau memang karena satu-satunya menu yang akan selalu tersedia pada jam makan hanya itu? Kau jawab saja sendiri !

Telur dadar itu setidaknya pernah menjadi saksi kerelaanku menerima segala sesuatu tentangmu. Kau tentu masih ingat suatu kali entah lelucon apa kiranya yang kuceritakan padamu saat jam makan malam, aku sedikit lupa, lalu kau yang tengah dengan lahapnya menandaskan makan malam bermenukan telur dadar itu justru terbatuk dahsyat, tak kuat menahan tawa. Jadilah aku, Zul, yang baru saja selesai mandi dan harum mewangi kau sembur dengan lumatan makanan penuh di mulutmu tepat di mukaku. Bukannya menolongku membersihkannya, kau malah tertawa terpingkal-pingkal membiarkanku begitu saja. Ini juga salah satu cerita berkesan tentang kita yang tak lekang di gerus masa. Karena kau akui atau tidak begitulah persahabatan kita. Indahnya hanya dimengerti oleh kita sendiri.

“Telur dadar Bu e, nduk!” Kau pasti hafal pemilik suara itu. Dia Bu e, sang juru dapur warga asrama yang jasanya senantiasa dikenang sepanjang masa. Entah siapa nama lengkapnya, kita hanya kenal Bu e panggilannya.
“Ini ada telur dadar selebar landasan pesawat, Zul.” Begitu ungkap wanita separuh baya berdarah Jawa kental itu tatkala kau tanya menu hari itu apa. Telur dadar itu memang dibuat sedemikian lebarnya hingga nyaris menutupi seluruh nasi di atas piringmu. Seperti landasan pesawat, begitu gurau Bu e. Kau tentu masih ingat bagaimana sinyal lapar itu menggerogoti kita, hingga kadang tanpa sadar berlari-lari mengejar Bu E demi bisa makan dengan selembar telur dadar buatannya. Jangan tertawa dulu, begitu kenyataannya bukan? Ah, kita memang tidak di desain untuk kuat menahan lapar. Ditambah hawa dingin Padang Panjang yang kadangkala hingga sore kabutnya tak jua hilang, siapa yang rela keroncongan kalau seperti itu ceritanya bukan? Aku hafal sekali muka kelaparanmu, Zul. Karena tak pernah sekalipun ia berhasil mebohongiku. Aku ingat jelas bagaimana lahapnya kau memusnahkan sepiring nasi dengan sebuah telur dadar lebar bundar itu saat makan, mengundang lapar bagi siapapun yang melihatnya.

Tidak pagi, siang ataupun malam, Bu E begitu setianya menyenangkan cacing-cacing di perut kita. Jika ada telur dadar selebar landasan pesawat, maka sudah pasti ada bakwan tiket ke Mesir. Ah, benar sekali. Itu desert wajibku setelah makan. Mengenyampingkan penganan pencuci mulut yang seharusnya manis, aku memilih bakwan sebagai suguhan terakhir di setiap jam makanku. Perihal bakwan inipun membawa cerita tersendiri. Kenapa tiket ke Mesir? Kau tentu ingat, tujuan kita berkuliah selepas sekolah dulu. Yah, Alexandria, teman. Kota terbesar kedua di Mesir yang terkenal dengan perpustakaan megahnya, Bilbiotecha Alexandria, surga dunia impian kita. Kuyakin kau hafal betul sorak-sorak bergembira kita bahwa suatu saat kita akan merambah benua Afrika yang hanya pernah kita lihat bentuknya di peta. Kita sama-sama berharap kala itu, agar mampu menyusul alumni kita yang telah lebih dahulu manapakkan kaki di negeri piramida, nun jauh disana.

“Ayo makan bakwan Bu e nduk, bakwan tiket ke Mesir.” Dengan tulus ikhlas Bu E menyertakan gorengan panas itu di atas piring kita. Ah, bakwan itu benar-benar sesuatu bagiku. Yang membuatku heran, dengan menu biasa seperti itu, kita tergolong sejahtera kehidupannya selama hidup disana. Bukti nyatanya, bobot tubuh kita yang tak henti-hentinya bertambah hari ke hari. Tidak heran kalau kau sempat juga kuledeki Doraemon, tokoh kartun pujaanmu. Sebab kau persis terlihat sepertinya. (Jangan marah cerita ini kubuka, ini permintaanmu kan? Aku jujur orangnya). Namun jangan bayangkan sekarang kita masih seperti Doraemon dan Dorayaki lagi. Keganasan bangku kuliah mampu juga menggerus tumpukan-tumpukan lemak di tubuh kita. Kabar baiknya, kita bisa kurus tanpa diet tersiksa. grin emoticon
Zul, walau Afrika belum lagi sempat kita jajaki tapi setidaknya mimpi itu masih saja tersimpan rapi dalam palung hatiku yang paling dalam. Mungkin kau juga berfikir begitu. Kau yang nyatanya punya kesempatan lebih besar dariku kala itu justru menyerah juga di akhirnya, ini perihal ridho orang tua. Bapak-bapak kita tercinta sungguh belum kuasa berjauahan dengan anak gadisnya, inilah yang menjadi perkara. Ridho Allah tergantung ridho orang tua, bukan? Tak bisa Afrika, Indonesia pun jadi. Begitu kira-kira. Ah, kita sarjana juga pada akhirnya dan bahkan mulai berharap kehadiran ‘Ridho-Ridho’ lain di hidup kita (Kutahan malu saat menuliskannya, Zul, ini aibmu aku tahu). 

Perkara Bu e dan menu fenomenalnya ini seringkali mengusik rinduku yang terus terpendam hingga beberapa lama. Bagaimana denganmu, Zul? Sebuah perjalanan yang sedemikian indahnya berlalu jua dari jalan hidup kita. Kadang dalam perjalanan pulangku antara Padang-Bukittinggi, seringkali aku berdebar-debar melengong ke sebelah kiri. Berharap bisa menemukan Bu e dengan bakul plastik merah menyalanya ditengah pasar sayur Kotobaru, negeri kecil kita. Seperti biasanya beliau memangku bakul cukup besar itu lalu dipenuhi berbagai macam bahan makanan untuk nantinya di masak demi kita para warga asrama. Namun sepertinya, tidak lagi, tidak ada Bu E disana. Aku luput melihatnya, namun senantiasa berharap punya waktu untuk berkunjung sekiranya bisa.

Selepas melewati pasar itupun hatiku lebih berdebar lagi, Karena setelah itu, sekolah kebanggaan kita akan segera kulewati, namun tanpa sempat kusinggahi. Bangunannya semakin gagah saja kulihat, Zul. Semarak hijaunya masih saja diselimuti kabut seperti biasa. Lalu anganku melayang jauh seketika, apakah ada Zul dan Mutia lain yang sekarang tengah menghuni kamar kita kira-kira? Kamar 4a dan 5b, aku tidak salah kan? Aku warga lantai dua sedangkan kau warga lantai pertama. Ah, aku masih ingat saja ternyata. Seperti apa kira-kira mereka? Persahabatannya sekonyol kita jugakah? Entahlah, kuyakin kaupun tak mampu menjawabnya.

Menjelang Shubuh, hari ke-25 di bulan Februari yang ceria di tahun 2015

Tentangmu, Zul



Entah sudah berapa lama kita bertegur sapa, entah sejak kapan pula cerita ini bermula, segala sesuatunya seperti terjadi begitu saja, seperti memang sudah seharusnya. Namun walau tidak sedemikian persisnya, aku masih ingat bagaimana dulu senyum lugumu menegur lucu. Ah, pendek sekali kau menurutku. Kau pun kuyakin berfikir aku sedemikian gendutnya kala itu. Seperti itulah rasanya bagaimana awalnya nama yang dalam hematmu cetar membahana itu kau eja pada awal perkenalan kita.

“Zulhasni.“ Begitu ujarmu
“Meiva Mutia R.“ Begitu pula balasku.

Kalau boleh kutambahkan, lokasi peristiwa itu tepat didepan asrama kita, asrama putri tiga, rumah yang kita tinggali bersama tiga tahun lamanya. Kau bahkan tak marah saat kupanggil Zul, nama yang lebih sering kutemui melekat pada tubuh seorang laki-laki. Zulhamdi misalnya, seperti nama guru bahasa Arab kita. Tapi secuilpun kau bahkan tidak menyiratkan rasa tidak suka. Tawamu yang benar-benar luar biasa itu menjelaskan semuanya.
“Nama keren itu hadiah dari bapakku, teman.“ Itu yang selalu kau rapal.
Aku seringkali mencandaimu perihal namamu, namun sekali lagi kukatakan, tak juga hendak kau marah padaku barang sekalipun mengenai hal itu.

Berawal dari nama, cerita-cerita lain pun kita rangkai seiring perjalanan masa SMA kita berdua. Sempat juga kita menabur benih mimpi sembari duduk-duduk di pelataran laman belakang dimana gunung Singgalang, ikon kota kita berdiri dengan gagahnya. Membelai angin yang lalu lalang menyapu wajah kita sementara sore menanjak menuju senja dan dingin semakin menggigit pori-pori kita. Lantas adzan mangrib yang di suarakan kakak-kakak putra yang menurutmu layak di jadikan suami dunia akhirat itu membahana memecah langit merah saga, kita pun berlarian, menuju sujud kepadaNya.

Pernah juga kita tergopoh-gopoh menuju ruang pustaka, hanya untuk menyambangi majalah Horison, karya Asrul Sani, Sutan Takdir Alisyahbana, Buya Hamka dan sederet nama sastrawan lainnya yang entah mengapa senantiasa membuat kita terpesona akan kata-katanya. Seringkali itu terjadi saat bel tanda istirahat yang jarang-jarang sampai suaranya ke kelas kita berdering. Berdering hanya hingga sebatas batin, karena lebih sering kita terlambat dan semua kursi di ruangan surga buku itu sudah penuh di duduki massa. Sudah sekian kali pula kita mencak-mencak pada kepala sekolah minta di pindahkan kelas. Karena kelas kita yang tepat di ujung perbatasan sekolah itupun, seringkali luput dari bel pertanda istirahat siang atau jam pulang. Waktu-waktu penting selama masa bersekolah kita.

Ingatkah juga kau Zul saat dengan sukarela kubiarkan kau menduduki satu-satunya kursi yang tersisa di ruang pustaka. Karena tak tega melihat tubuhmu yang selalu tenggelam ditengah lautan manusia itu harus berdiri lebih lama. Namun entah karena niat baikku tidak didukung fakta bahwa kursi tersisa itu sengaja tak di duduki karena sungguh memiliki cela. Jadilah kau Zul, korban satu-satunya yang harus berlapang dada menahan merah muka saat kursi tanpa dosa itu justru patah tepat saat pantatmu baru saja menyentuhnya. Tapi lagi-lagi, dengan ikhlas kau menerima semuanya.

Cerita tentangmu seperti tak ada habis-habisnya. Belia berganti dewasa, dan kita masih saja bak duo sejoli yang ketika berpapasan orang-orang akan berkata, “Dimana ada Zul sudah barang tentu ada Mutia.“ Namun waktu kiranya sudah cukup puas membiarkan kita membunuhnya berdua, karena itulah mungkin kita dipisahkan setelah sekian lama. Menapaki jejak- baru di kota yang berbeda, tapi kita masih saja Zul dan Mutia yang lama. Zul, masa depan seperti apa yang kiranya singgah dalam selaksa do’a yang pernah kau rapalkan hingga sekarang jarak ini terbentang membungkam cerita kita beberapa jenak. Dalam bayangan yang sempat singgah, kugambarkan kau dan aku bersama lagi memandang langit kota kita. Ah, sepertinya hanya tinggal khayal saja. Usia tengah meredam suka hati kita. Kelak, jika kita sama-sama sudah tua, dendangkan jugalah senandung kalbu kita yang terdahulu menjelang lelap anak dan cucumu. Setidaknya dengan begitu, kau akan terus mengingatku Zul, teman sekaligus saudaraku..

Bukittinggi, Akhir Ferbruari 2015.
 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang