Tentang
yang datang setelah yang pergi hilang, sedikit kesusahan juga rasanya mencoba
kembali memulakan. Pasalnya, semakin pekat saja sakit terdahulu itu membayang.
Takut tanpa sengaja yang tak punya salah pun justru ikut kulukai juga dalam
pengengahan lukaku sendiri. Ah, tak inginlah rasanya harus sampai sedemikian,
sebab betapa tahunya aku perih dan sakit itu siksaannya seberat apa. Jadi, mari
berkawan saja dahulu, asal muasal dimana rasa bisa saja terpancar sebelum
selamanya dalam ikatan. Mungkin dengan begitu kita tak perlu sama-sama terluka
lagi. Kau tidak, akupun tidak. Dan bahagia bisa kita reguk berdua setelahnya.
Memulakan
kembali itu bukan perkara mudah, kau tahu itu bukan? Seperti ketika pertama
kali mendapat buku baru lagi, aku pasti mematut-matutnya sedemikian lama,
memikirkan baris apa yang bagusnya kutuliskan di halaman pertamanya. Merasa
takut jikalau setelahnya, baris-baris itu tak kusuka namun sayang juga harus
merobeknya. Karena saat kurobek, hatiku ikut robek juga bersamanya kadang,
mengingat indahnya lembaran-lembaran itu dan sesal yang menyambangi datang saat
akan kubuang. Selalu begitu, terlalu berhati-hati tidak ada salahnya juga untuk
beberapa hal. Karena rasanya bercermin pada yang lalu itu jadi judul besar
kisah hidupku sekarang. Aku tak ingin lagi seperti yang sudah-sudah, tak ingin
lagi berkisah pada yang sesuatu entah.
--2 Maret 2015--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar