Ini
perihal kecamuk hatiku yang belum lagi padam. “Maafkan”, begitu suara itu
membelai jauh kedalam kalbuku, namun yang tertinggal, masih saja selaksa dendam.
Tak jua mampu diredam. Pengap, hingga sesak semua ruang dalam dadaku, menyekap
seperti jelaga pekat. Menghempaskanku dalam kubangan duka tak bertepi. Nyatanya
aku belum lagi berhenti, berhenti menggeluti setiap sayatan luka bernanah yang
sempat kau tinggalkan di waktu lalu. Saat kutahu bahagiaku padam dalam
kesedihan yang berpendar-pendar. Aku gamang, seperti meniti sebuah titian kecil
nyaris tak ada tapakan, sewaktu-waktu bisa saja lepas pegangan lalu jurang
menganga seperti hendak menelan, merengkuhku dalan balutan belukar penuh onak,
jadi pesakitan dalam setiap hempasan. Seperti itulah aku setelah kau
tinggalkan, kau tahu? Ah tidak, kau tak akan tahu, tidak akan pernah tahu.
Karena bahagiamu sudah sedemikian sempurnanya mendekap. Siapa aku untuk terus
ada dalam lembaran hidupmu. Seperti kataku, aku hanya yang sempat kau menangkan
mengisi senggangmu, lalu abai kau ingat di waktu depanmu. Ah, aku tak ingin
benci. Sumpah, tak ingin benci. Kumohon, bayangan, enyahlah!
Ah, Biar!
-
Meski hujan belum lagi reda, biar gundah berlabuh pada tepi senja..
Sebab malam kian cekam, kian kejam menelisik helai-helai rindu,
Berbagi kabar perihal ped...
10 tahun yang lalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar