Selasa, 03 Maret 2015

Masih Saja Perihal Luka



Ini perihal kecamuk hatiku yang belum lagi padam. “Maafkan”, begitu suara itu membelai jauh kedalam kalbuku, namun yang tertinggal, masih saja selaksa dendam. Tak jua mampu diredam. Pengap, hingga sesak semua ruang dalam dadaku, menyekap seperti jelaga pekat. Menghempaskanku dalam kubangan duka tak bertepi. Nyatanya aku belum lagi berhenti, berhenti menggeluti setiap sayatan luka bernanah yang sempat kau tinggalkan di waktu lalu. Saat kutahu bahagiaku padam dalam kesedihan yang berpendar-pendar. Aku gamang, seperti meniti sebuah titian kecil nyaris tak ada tapakan, sewaktu-waktu bisa saja lepas pegangan lalu jurang menganga seperti hendak menelan, merengkuhku dalan balutan belukar penuh onak, jadi pesakitan dalam setiap hempasan. Seperti itulah aku setelah kau tinggalkan, kau tahu? Ah tidak, kau tak akan tahu, tidak akan pernah tahu. Karena bahagiamu sudah sedemikian sempurnanya mendekap. Siapa aku untuk terus ada dalam lembaran hidupmu. Seperti kataku, aku hanya yang sempat kau menangkan mengisi senggangmu, lalu abai kau ingat di waktu depanmu. Ah, aku tak ingin benci. Sumpah, tak ingin benci. Kumohon, bayangan, enyahlah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang