Aku beringsut
mendekat. Memandangi kedua bola matanya yang bundar berbinar. “Kau tahu, aku
benci tipikal wanita seperti itu.”
Maya balik
menatapku, tatapan yang sama seperti biasa. “Dia sudah terlihat seperti
kesalahan yang lain dalam hidupku sejak saat pertama kali melihatnya. Benar
saja, dia mengkhianatiku setelah kencan pertama.” Menggebu-gebu aku bercerita.
Maya kemudian
beranjak ke arah jendela. “Aku benar-benar jengah di keparati seperti ini.
Kurangku dimana?” Aku tertunduk lesu. Maya kembali menoleh padaku, masih saja
dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya. Kosong, tak ada makna, atau
mungkin aku yang tak mampu mengurainya.
“Sedemikian
susahnyakah menemukan wanita yang bisa dengan tulus menerimaku apa adanya?” Aku
nyaris berteriak, lalu perlahan beranjak ke arahnya. Mengusap-usap kepalanya
lembut.
“Kenapa kau
tidak jawab aku, Maya?” Aku melihat kearahnya yang masih saja acuh, tak peduli.
“Ah, percuma
saja kadangkala bercerita padamu yang tak bisa bicara.” Aku melengos.
“Meoong.. “ Maya
menjawab juga akhirnya. Entah mengiyakan atau apa. Tak tahulah, tiada siapa
mampu menerka. Mungkin begitu caranya kucing berbahasa.
Aku putus asa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar