Kamis, 12 Maret 2015

Maya



Aku beringsut mendekat. Memandangi kedua bola matanya yang bundar berbinar. “Kau tahu, aku benci tipikal wanita seperti itu.” 

Maya balik menatapku, tatapan yang sama seperti biasa. “Dia sudah terlihat seperti kesalahan yang lain dalam hidupku sejak saat pertama kali melihatnya. Benar saja, dia mengkhianatiku setelah kencan pertama.” Menggebu-gebu aku bercerita. 

Maya kemudian beranjak ke arah jendela. “Aku benar-benar jengah di keparati seperti ini. Kurangku dimana?” Aku tertunduk lesu. Maya kembali menoleh padaku, masih saja dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya. Kosong, tak ada makna, atau mungkin aku yang tak mampu mengurainya.

“Sedemikian susahnyakah menemukan wanita yang bisa dengan tulus menerimaku apa adanya?” Aku nyaris berteriak, lalu perlahan beranjak ke arahnya. Mengusap-usap kepalanya lembut.

“Kenapa kau tidak jawab aku, Maya?” Aku melihat kearahnya yang masih saja acuh, tak peduli.

“Ah, percuma saja kadangkala bercerita padamu yang tak bisa bicara.” Aku melengos.

“Meoong.. “ Maya menjawab juga akhirnya. Entah mengiyakan atau apa. Tak tahulah, tiada siapa mampu menerka. Mungkin begitu caranya kucing berbahasa.

Aku putus asa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang