Tapi apa memang
persahabatan bisa kendur karena jarak? Aku yakin inti persahabatan tentu tidak
rusak, tapi jarak dan tempat tidak bisa berdusta, berpisah secara fisik bisa
merenggangkan keintiman persahabatan karena tidak lagi disirami oleh pertemuan,
canda dan diskusi. (Ranah Tiga Warna-A.Fuadi,
Halaman 36)
Aku menutup buku itu sejenak, mendekapnya dalam pelukan paling erat.
Membiarkan khayalku berenang kemanapun ia mau, namun tetap saja semuanya
bermuara padamu, Zul. Kau tentu ingat buku ini, ini lanjutan dari Negeri 5
Menara, buku pertama dari trilogi Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna dan Rantau 1
Muara yang senantiasa kita tunggu kedatangannya. Buku ini kubeli tidak lama
setelah ia terbit dan entah sudah berapa kali rasanya halamannya kubolak-balik,
membacanya lagi dan lagi hingga bertambah tebal juga kacamataku. Seperti Negeri
5 Menara yang terdahulu, kisahnya masih saja memikat hatiku. Begitupun tali
pertemanan yang sempat kita jalin di waktu lalu ,sedemikian kuatnya pula mengikat
kalbuku, bagaimana denganmu?
Kau yang memperkenalkanku pada buku ini 5 tahun lalu, Negeri 5
Menara judulnya, hadiah ulang tahun dari Unimu, aku ingat betul. Entah saat itu
punya buku baru adalah prestasi terbesar dalam hidup kita, kau menang saat
mendapatkannya lebih dahulu dariku. Aku misah-misuh tidak terima di kalahkan
olehmu yang biasanya tidak sekalipun melewatkan buku-buku baru.
“Wuah, kau pasti belum tahu
perihal buku ini bukan? Penulisnya orang kampungku, teman. Di tepian danau
Maninjau sana” Ujarmu membangga. Aku mendengus kesal. Ah, aku kalah. Menjaga
gengsi kulawan juga kau.
“Ah, belum mengalahkan Marry Higgins Clark juga lah kupikir.” Kau
tentu hafal senjataku. Bacaan luar negeriku sering kali membuatmu takjub, pun
gayaku menandaskan buku-buku terjemahan itu tak jarang pula membuatmu takluk.
Hal ini tentu tak kauingkari, karena acap kali kau terlalu cepat bosan jikalau
membaca buku-buku koleksiku itu.
“Kau baca dulu lah, Mut. Terpesona, kujamin.” Kau benar-benar
mengundang penasaran. Aku benar-benar tidak sabar ingin tahu bagaimana kiranya
cerita si penulis asal negerimu itu. Namun, kau justru semakin membuatku sebal
karena tak kunjung juga menamatkannya.
“Tidak bisakah lebih di percepat, teman. Aku juga ingin membaca.”
Aku merengek di kamarmu nyaris seharian. Tapi kau tetap saja enggan
menyelesaikannya, tahu barangkali aku ingin meminjam.
“Kau hafal dululah rumus Matematika untuk ujian besok, setelah itu
baru baca novel. Ah kau!” Kau acuh saja, bahkan tidak menoleh padaku. Asyik
sendiri membolak-balik halamannya. Aku tentu tidak lupa bahwa besok adalah hari
pertama Ujian Nasional. Matematika pula. Kau sudah tentu hafal kerut keningku
jikalah berhadapan dengan angka-angka. Tak heran juga jika dari semua hal yang
mungkin ada dalam daftar black list-ku,
Matematika adalah salah satunya.
“Mana bisa konsentrasi aku, kau bahkan tak ingin mengajariku.
Ayolah, Zul. Aku baca dulu sebentar.” Aku terus-terusan mengganggumu. Nilai
Matematikamu nyaris sempurna tiap semesternya, sementara aku pas-pasan, ala kadarnya.
Terang saja peringkatku tak mampu menggesermu dari Top One.
Kau tertawa memandangiku. “Kalau kubiarkan kau membaca, jangan
kambinghitamkan aku di depan ibumu jikalau nilaimu kacau.” Kau mulai memberi
penawaran. Aku menangkap secercah harapan.
“Tak akan lah, walaupun tak sehebat kau, akupun tidak seburuk
itulah, teman.” Aku menjawab cepat seraya beringsut kesebelahmu. Kau tersenyum
geli melihat tingkahku.
“Kita baca bersama ya.” Timpalmu masih saja tersenyum. Jadilah
sepanjang sore kita melahap buku itu berdua. Duduk bersebelahan, bergantian
memeganginya, membalik halamannya, tertawa-tawa karena kocak tokohnya dan
tercenung juga kadangkala akan kekuatan kata-katanya. Pundakku bahkan
sedemikian pegalnya setelah kita menamatkan roman karya A.Fuadi setebal 416 itu
setelah hampir tengah malam. Itupun hanya berhenti saat jam makan dan waktu
sholat saja. Kau tidak berbohong ternyata, aku benar-benar terpesona akan
kisahnya.
“Huah, menara mana kiranya yang bisa kita kunjungi, Zul?” Seperti
biasa aku pasti mengkhayal-khayal jika menemui cerita yang memikat seperti ini.
Kau pun sama ternyata. Kita terperangah memandang langit-langit kamar asrama
kita yang mulai sepi penghuni, sudah mengarungi mimpi barangkali.
“Mereka mirip kita, bukan?” Ujarmu sengau, sepertinya mulai
mengantuk.
“Siapa?”
“Sohibul menara.” Timpalmu mulai menguap. “Mimpi-mimpi mereka mirip
dengan kita kurasa, Sayangnya, kita hanya berdua, yang bisa-bisanya hampir
tengah malam masih juga terjaga demi membaca cerita. Kau tidak lupa kan besok
ujian Matematika?” Tanyamu. Aku menelan ludah, sungguh aku tidak lupa, tapi di
ingatkan seperti ini rasanya kaget juga. Oh Matematika, esok hari, entah
bagaimana kejadiannya.
“Negeri apa yang akan kita tapaki esok ya, Zul? Tanyaku lagi.
“Entahlah, aku juga tidak tahu.” Tukasmu benar-benar pelan. Nyaris
terlelap. Aku hanya tersenyum memandangi satu per satu menara yang menghiasi
sampul buku tebal yang masih dalam genggamanku itu. Lalu membiarkan asaku
menembus ruang bayangku tentang sebuah masa depan. Laun, mataku terpejam.
Esok harinya, tergopoh-gopoh aku menuju ruang ujian dengan kerudung
yang tak sempurna rapi terpasang, sedikit terlambat akibat setelah shubuh
keasyikan belajar sendiri dan lupa kau ingatkan. Namun nasib baik masih
berpihak juga padaku, nilai Matematikaku tidak buruk juga ternyata meski
terkantuk-kantuk menyelesaikan soalnya.
Kau memang menang karena mendahuluiku memiliki buku luar biasa itu,
Zul. Namun aku mengalahkanmu juga dengan cara yang berbeda. Kau dapat bukunya
lebih dahulu dariku, tapi belum pernah bertemu sosok Alif dalam cerita itu
bukan? Ah, kuyakin kau pasti sebal membaca paragraf ini. Karena aku
mengalahkanmu kali ini. Aku bertemu dengannya, Zul. A. Fuadi yang sempat juga
kupanggil Uda itu sudah pula kujabat tangannya, bertegur sapa walau hanya
sesaat saja. Dia mengunjungi kamp seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN)
yang sempat juga kuikuti beberapa tahun silam. Sebuah jalan yang sama yang dulu
juga telah membawa A.Fuadi, pujaanmu itu, hingga ke Kanada, Amerika sana, kau tahu?
Amerika, teman!. Saat kuceritakan padamu dulu, kau gemas bukan kepalang bukan?
Akan kuulangi lagi sekarang. Dia idolamu, aku tahu, Karena itu sedikit
kuingatkan jugalah baiknya perihal beruntungnya aku di sempatkan bersua secara
langsung dengan si pemilik karya. (Aku tertawa menuliskannya, hingga orang
rumah, terutama Ayah, terheran-heran melihaku, Zul.)
Aku tersenyum sendiri mengingat peristiwa itu. Melirik sebentar
kearah meja, Negeri 5 Menara dan Rantau 1 Muara tengah tergeletak disana,
menungguku meraihnya. Lalu kupandangi lagi Ranah 3 Warna dalam pelukanku.
Rinduku semakin menggebu jua padamu, Zul. Aku lanjut membalik halamannya,
mengagumi setiap baris yang tertulis disana dan melayangkan fikir sejenak
kembali ke masa dimana berjayanya kita. Bersama kita bisa. Aku lupa itu slogan
siapa, kupinjam jugalah sebentar untuk kusematkan dalam tulisanku tentangmu
yang kesekian ini.
Bagaimanakah kiranya tanah rantau? Langitnya secerah langit kitakah?
Kau tentu tengah berdiam disana mengarungi mimpimu. Ah, betapa jarak ini
sedemikian kejamnya. Siapa saja yang kau temui disana? Mereka semenyebalkan
akukah? Jikalau sebalmu padaku dalam arti yang sebenarnya selama ini, beri maaf
jugalah, Zul. Sunguh kadangkala tiada jarak lagi rasanya hingga kadang yang
terlontar bahkan yang kulakukan lebih sering mengundang kesalmu ketimbang
bahagia bagimu. Tapi, apakah benar begitu? Bukankah hal menyenangkan dan
menyebalkan tentangku berada pada porsi yang sama? Begitu bukan yang terendap
dalam ruang rasa dan fikirmu? Ah, kau jawab sajalah sendiri, aku pun tak ingin
mendiktemu perihal pertemanan kita. Namun satu hal yang pasti, jika boleh di
beri kesempatan sekali lagi kita bersama seperti saat di KotoBaru dulu, ingin
rasanya memulai lagi menjadi sebaik-baiknya sahabat bagimu, Zul. Teman dan
saudaraku yang sudah lama tak kulihat rupa dan kujitak kepalanya.
Aku rindu..
(Sudut Kamar-10 Maret 2015-22:44)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar