“Tidak perlu
menatapku seperti itu.” Ujarmu tenang.
“Tetap saja,
sikapmu itu tidak bisa dibenarkan.” Aku bersikeras, jengah dengan raut wajah
tanpa dosamu itu.
“Kenapa tidak?”
Ada tawa tertahan yang kutangkap dalam nada bicaramu.
“Harusnya kau
minta persetujuanku dulu.” Suaraku sedikit meninggi.
Kau malah
tertawa. “Ah, sudahlah, kenapa harus di perpanjang.” Aku cemberut. Benar-benar
kesal.
“Setidaknya kau
bisa memberitahunya tentang betapa bahagianya kita, bukan?“ Dahiku berkerut.
“Atau kau tidak
bahagia denganku?” Dudukmu tegak sekarang, menghadap lurus ke arahku.
“Aku bahagia,
tentu saja. Tapi..” Aku masih saja bertahan dengan argumenku.
“Ya sudah,
biarkan sedikit kubagi bahagiamu dengan dia yang dulu menyakitimu.” Matamu
sedemikian berbinar-binarnya.
"Tapi, tidak
perlu juga mengundang mantan ke pernikahan, bukan?" Aku tertunduk lesu.
Kau kembali
tersenyum. "Aku ingin mereka tahu, kita bisa bahagia walau seberapapun dulu
terkhianatinya." Tandasmu menang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar