Kamis, 12 Maret 2015

Sebuah Percakapan



“Tidak perlu menatapku seperti itu.” Ujarmu  tenang.

“Tetap saja, sikapmu itu tidak bisa dibenarkan.” Aku bersikeras, jengah dengan raut wajah tanpa dosamu itu.

“Kenapa tidak?” Ada tawa tertahan yang kutangkap dalam nada bicaramu. 

“Harusnya kau minta persetujuanku dulu.” Suaraku sedikit meninggi.

Kau malah tertawa. “Ah, sudahlah, kenapa harus di perpanjang.” Aku cemberut. Benar-benar kesal.
“Setidaknya kau bisa memberitahunya tentang betapa bahagianya kita, bukan?“ Dahiku berkerut.
 
“Atau kau tidak bahagia denganku?” Dudukmu tegak sekarang, menghadap lurus ke arahku.

“Aku bahagia, tentu saja. Tapi..” Aku masih saja bertahan dengan argumenku.

“Ya sudah, biarkan sedikit kubagi bahagiamu dengan dia yang dulu menyakitimu.” Matamu sedemikian berbinar-binarnya.

"Tapi, tidak perlu juga mengundang mantan ke pernikahan, bukan?" Aku tertunduk lesu.

Kau kembali tersenyum. "Aku ingin mereka tahu, kita bisa bahagia walau seberapapun dulu terkhianatinya." Tandasmu menang.  

(Meja Kerja-08 Maret 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang