Separuh hatiku tertinggal padamu,
kata-kata itu kedengaran lebih bodoh sekarang. Sekian tahun, namun jejakku
masih saja berkisar ditempat yang sama.
“Move on Bunga! Sudah terlalu
lama”, sekian kalinya kakakku menasehati, namun aku hanya diam tergugu. Hanya genangan
tak terbendung dipelupuk mata ini yang dengan lugas menegaskan
ketidakberdayaanku. Aku membenci diriku sendiri, membenci kenapa sesulit ini?
“Kumohon jangan lakukan itu!”,
ujarku terbata ditengah gerimis Agustus 3 tahun lalu.
“Aku akan menikah”, ungkapnya
datar. Aku mengerti arti kalimat itu, namun terlalu takut untuk memahami
maknanya.
“Lalu aku?”, air mataku merebak.
Seulas senyum yang tak kupahami
maknanya terukir diwajah yang amat kukenal itu. “Kamu masih punya banyak waktu
untuk melihat dunia, Bunga!”, ujarnya. “Mungkin beginilah jawaban tuhan untuk
kita”, ada kebencian yang menyesak didadaku saat kalimat itu kudengar.
Semudah itu? Setelah sekian ribu
hari kuhadapi segalanya untukmu. Batinku berontak, tangis dihatiku lebih keras
dibanding yang diungkapkan mataku. Namun semuanya memang terjadi, dia menikah
dan mengubur semua janjinya bertahun-tahun ini dengan pengkhinatan. Beginilah
harga setiaku baginya. Habis sudah kata-kataku saat itu, yang tertinggal hanya
perih yang tak mampu kutengahi saat ini.
“Tidak baik selamanya memenjarakan
hati seperti ini”, suara Mba Melati terdengar sayup menembus ruang dengarku.
“Kamupun berhak bahagia!”, ujarnya kemudian lalu meremas bahuku, sedikit kuat
namun kupahami maknanya. Mungkin sudah saatnya, batinku berbisik.
Aku menghela nafas panjang,
melirik ponselku yang berkedip tanda pesan masuk. “Aku ingin bicara”, begitu
bunyinya. Ada yang tengah menungguku, aku tahu. Gamang, itu yang diisyaratkan
hatiku. Logika dan hatiku bertengkar hebat. Namun ada sapaan lembut direlung
terdalam hatiku yang disambut baik akal sehatku, “sudah saatnya”, begitu
kira-kira ungkapnya.
Sejurus kemudian, kuinjak pedal
gas mobilku lalu bergabung ditengah hiruk-pikuk manusia dijalanan sore ini. Menepis
semua ragu lalu memberi kesempatan bagi waktu untuk menghapus jejak-jejak lalu
itu.
Laki-laki itu duduk dengan
gelisah, Hadi, begitu aku memanggilnya, dia adalah laki-laki baik yang beberapa
hari lalu menyatakan niatnya untuk menikahiku. Sempat dilanda kemelut masa
lalu, aku membiarkannya menunggu. Namun pada saatnya hatipun ingin berlabuh
bukan? Semakin melelahkan jika harus terus mengembara sendiri.
Aku menatap matanya lekat,
membiarkan energi dalam dadaku mengumpul sejenak, sebelum ada kata-kata keluar
dari mulutnya, aku pun berucap “Aku bersedia!”, Ah, kata-kata itupun keluar
pada akhirnya. Dia menatapku lebih lekat lagi, lalu senyum itupun terpancar
diwajah teduhnya. Sesalku menguap seketika, rasa sesak itupun perlahan memberi ruang
dan duniaku pun lapang terasa.
Dan pada akhirnya, yang terbuang
pada awalnya akan dimenangkan jua pada akhirnya, begitu kira-kira salah satu
larikku tereja.
Lubuksikaping, 28th Jan
2015