Rabu, 25 Maret 2015

Hujan dan Engkau (Yang Entah Siapa)

Dalam renungku masih jua membayang hujan rinai penyaput kemarau lalu. Entah bahagia atau duka yang di bawanya. Tak tahu!
Hanya saja jalanan basah yang kutapaki ini masih di teduhkan payung yang sempat juga menaungi lelah yang terdahulu. Dan masih, meneduhkan sendiriku.
Ah, sendiri! Sesepi apakah kiranya sunyi?
Dalam gumam do'aku selalu saja ada yang berbisik minta di semogakan, namun entah siapa. Entah bagaimana wujudnya, entah bagaimana rupanya, entah bagaimana suaranya.
Tak tahu!

Masih tak tahu.

Pada Adam (Padam)

Sendu,
Kelabu mengharu
Termanggu, memangku ragu
Tergugu, mereguk rindu


Segurat,
Kemelut langit pucat
Mengharap dalam ratap
Perkara rona yang di lahap pekat
Lenyap dalam gelap

Seberkas,
Asa dan mimpi menjalin laras
Menghalau sesal hingga lunas
Perkara hati yang mengharap balas
Belum lagi tuntas

(Gerimis, 2015)

Kamis, 12 Maret 2015

Maya



Aku beringsut mendekat. Memandangi kedua bola matanya yang bundar berbinar. “Kau tahu, aku benci tipikal wanita seperti itu.” 

Maya balik menatapku, tatapan yang sama seperti biasa. “Dia sudah terlihat seperti kesalahan yang lain dalam hidupku sejak saat pertama kali melihatnya. Benar saja, dia mengkhianatiku setelah kencan pertama.” Menggebu-gebu aku bercerita. 

Maya kemudian beranjak ke arah jendela. “Aku benar-benar jengah di keparati seperti ini. Kurangku dimana?” Aku tertunduk lesu. Maya kembali menoleh padaku, masih saja dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya. Kosong, tak ada makna, atau mungkin aku yang tak mampu mengurainya.

“Sedemikian susahnyakah menemukan wanita yang bisa dengan tulus menerimaku apa adanya?” Aku nyaris berteriak, lalu perlahan beranjak ke arahnya. Mengusap-usap kepalanya lembut.

“Kenapa kau tidak jawab aku, Maya?” Aku melihat kearahnya yang masih saja acuh, tak peduli.

“Ah, percuma saja kadangkala bercerita padamu yang tak bisa bicara.” Aku melengos.

“Meoong.. “ Maya menjawab juga akhirnya. Entah mengiyakan atau apa. Tak tahulah, tiada siapa mampu menerka. Mungkin begitu caranya kucing berbahasa.

Aku putus asa.

Sebuah Percakapan



“Tidak perlu menatapku seperti itu.” Ujarmu  tenang.

“Tetap saja, sikapmu itu tidak bisa dibenarkan.” Aku bersikeras, jengah dengan raut wajah tanpa dosamu itu.

“Kenapa tidak?” Ada tawa tertahan yang kutangkap dalam nada bicaramu. 

“Harusnya kau minta persetujuanku dulu.” Suaraku sedikit meninggi.

Kau malah tertawa. “Ah, sudahlah, kenapa harus di perpanjang.” Aku cemberut. Benar-benar kesal.
“Setidaknya kau bisa memberitahunya tentang betapa bahagianya kita, bukan?“ Dahiku berkerut.
 
“Atau kau tidak bahagia denganku?” Dudukmu tegak sekarang, menghadap lurus ke arahku.

“Aku bahagia, tentu saja. Tapi..” Aku masih saja bertahan dengan argumenku.

“Ya sudah, biarkan sedikit kubagi bahagiamu dengan dia yang dulu menyakitimu.” Matamu sedemikian berbinar-binarnya.

"Tapi, tidak perlu juga mengundang mantan ke pernikahan, bukan?" Aku tertunduk lesu.

Kau kembali tersenyum. "Aku ingin mereka tahu, kita bisa bahagia walau seberapapun dulu terkhianatinya." Tandasmu menang.  

(Meja Kerja-08 Maret 2015)

Menara dan Matematika



Tapi apa memang persahabatan bisa kendur karena jarak? Aku yakin inti persahabatan tentu tidak rusak, tapi jarak dan tempat tidak bisa berdusta, berpisah secara fisik bisa merenggangkan keintiman persahabatan karena tidak lagi disirami oleh pertemuan, canda dan diskusi. (Ranah Tiga Warna-A.Fuadi, Halaman 36)
Aku menutup buku itu sejenak, mendekapnya dalam pelukan paling erat. Membiarkan khayalku berenang kemanapun ia mau, namun tetap saja semuanya bermuara padamu, Zul. Kau tentu ingat buku ini, ini lanjutan dari Negeri 5 Menara, buku pertama dari trilogi Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna dan Rantau 1 Muara yang senantiasa kita tunggu kedatangannya. Buku ini kubeli tidak lama setelah ia terbit dan entah sudah berapa kali rasanya halamannya kubolak-balik, membacanya lagi dan lagi hingga bertambah tebal juga kacamataku. Seperti Negeri 5 Menara yang terdahulu, kisahnya masih saja memikat hatiku. Begitupun tali pertemanan yang sempat kita jalin di waktu lalu ,sedemikian kuatnya pula mengikat kalbuku, bagaimana denganmu?
Kau yang memperkenalkanku pada buku ini 5 tahun lalu, Negeri 5 Menara judulnya, hadiah ulang tahun dari Unimu, aku ingat betul. Entah saat itu punya buku baru adalah prestasi terbesar dalam hidup kita, kau menang saat mendapatkannya lebih dahulu dariku. Aku misah-misuh tidak terima di kalahkan olehmu yang biasanya tidak sekalipun melewatkan buku-buku baru.
 “Wuah, kau pasti belum tahu perihal buku ini bukan? Penulisnya orang kampungku, teman. Di tepian danau Maninjau sana” Ujarmu membangga. Aku mendengus kesal. Ah, aku kalah. Menjaga gengsi kulawan juga kau.
“Ah, belum mengalahkan Marry Higgins Clark juga lah kupikir.” Kau tentu hafal senjataku. Bacaan luar negeriku sering kali membuatmu takjub, pun gayaku menandaskan buku-buku terjemahan itu tak jarang pula membuatmu takluk. Hal ini tentu tak kauingkari, karena acap kali kau terlalu cepat bosan jikalau membaca buku-buku koleksiku itu.
“Kau baca dulu lah, Mut. Terpesona, kujamin.” Kau benar-benar mengundang penasaran. Aku benar-benar tidak sabar ingin tahu bagaimana kiranya cerita si penulis asal negerimu itu. Namun, kau justru semakin membuatku sebal karena tak kunjung juga menamatkannya.
“Tidak bisakah lebih di percepat, teman. Aku juga ingin membaca.” Aku merengek di kamarmu nyaris seharian. Tapi kau tetap saja enggan menyelesaikannya, tahu barangkali aku ingin meminjam. 
“Kau hafal dululah rumus Matematika untuk ujian besok, setelah itu baru baca novel. Ah kau!” Kau acuh saja, bahkan tidak menoleh padaku. Asyik sendiri membolak-balik halamannya. Aku tentu tidak lupa bahwa besok adalah hari pertama Ujian Nasional. Matematika pula. Kau sudah tentu hafal kerut keningku jikalah berhadapan dengan angka-angka. Tak heran juga jika dari semua hal yang mungkin ada dalam daftar black list-ku, Matematika adalah salah satunya. 
“Mana bisa konsentrasi aku, kau bahkan tak ingin mengajariku. Ayolah, Zul. Aku baca dulu sebentar.” Aku terus-terusan mengganggumu. Nilai Matematikamu nyaris sempurna tiap semesternya, sementara aku pas-pasan, ala kadarnya. Terang saja peringkatku tak mampu menggesermu dari Top One.
Kau tertawa memandangiku. “Kalau kubiarkan kau membaca, jangan kambinghitamkan aku di depan ibumu jikalau nilaimu kacau.” Kau mulai memberi penawaran. Aku menangkap secercah harapan.
“Tak akan lah, walaupun tak sehebat kau, akupun tidak seburuk itulah, teman.” Aku menjawab cepat seraya beringsut kesebelahmu. Kau tersenyum geli melihat tingkahku.
“Kita baca bersama ya.” Timpalmu masih saja tersenyum. Jadilah sepanjang sore kita melahap buku itu berdua. Duduk bersebelahan, bergantian memeganginya, membalik halamannya, tertawa-tawa karena kocak tokohnya dan tercenung juga kadangkala akan kekuatan kata-katanya. Pundakku bahkan sedemikian pegalnya setelah kita menamatkan roman karya A.Fuadi setebal 416 itu setelah hampir tengah malam. Itupun hanya berhenti saat jam makan dan waktu sholat saja. Kau tidak berbohong ternyata, aku benar-benar terpesona akan kisahnya. 
“Huah, menara mana kiranya yang bisa kita kunjungi, Zul?” Seperti biasa aku pasti mengkhayal-khayal jika menemui cerita yang memikat seperti ini. Kau pun sama ternyata. Kita terperangah memandang langit-langit kamar asrama kita yang mulai sepi penghuni, sudah mengarungi mimpi barangkali.
“Mereka mirip kita, bukan?” Ujarmu sengau, sepertinya mulai mengantuk.
“Siapa?”
“Sohibul menara.” Timpalmu mulai menguap. “Mimpi-mimpi mereka mirip dengan kita kurasa, Sayangnya, kita hanya berdua, yang bisa-bisanya hampir tengah malam masih juga terjaga demi membaca cerita. Kau tidak lupa kan besok ujian Matematika?” Tanyamu. Aku menelan ludah, sungguh aku tidak lupa, tapi di ingatkan seperti ini rasanya kaget juga. Oh Matematika, esok hari, entah bagaimana kejadiannya.
“Negeri apa yang akan kita tapaki esok ya, Zul? Tanyaku lagi.
“Entahlah, aku juga tidak tahu.” Tukasmu benar-benar pelan. Nyaris terlelap. Aku hanya tersenyum memandangi satu per satu menara yang menghiasi sampul buku tebal yang masih dalam genggamanku itu. Lalu membiarkan asaku menembus ruang bayangku tentang sebuah masa depan. Laun, mataku terpejam.
Esok harinya, tergopoh-gopoh aku menuju ruang ujian dengan kerudung yang tak sempurna rapi terpasang, sedikit terlambat akibat setelah shubuh keasyikan belajar sendiri dan lupa kau ingatkan. Namun nasib baik masih berpihak juga padaku, nilai Matematikaku tidak buruk juga ternyata meski terkantuk-kantuk menyelesaikan soalnya. 
Kau memang menang karena mendahuluiku memiliki buku luar biasa itu, Zul. Namun aku mengalahkanmu juga dengan cara yang berbeda. Kau dapat bukunya lebih dahulu dariku, tapi belum pernah bertemu sosok Alif dalam cerita itu bukan? Ah, kuyakin kau pasti sebal membaca paragraf ini. Karena aku mengalahkanmu kali ini. Aku bertemu dengannya, Zul. A. Fuadi yang sempat juga kupanggil Uda itu sudah pula kujabat tangannya, bertegur sapa walau hanya sesaat saja. Dia mengunjungi kamp seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) yang sempat juga kuikuti beberapa tahun silam. Sebuah jalan yang sama yang dulu juga telah membawa A.Fuadi, pujaanmu itu, hingga ke Kanada, Amerika sana, kau tahu? Amerika, teman!. Saat kuceritakan padamu dulu, kau gemas bukan kepalang bukan? Akan kuulangi lagi sekarang. Dia idolamu, aku tahu, Karena itu sedikit kuingatkan jugalah baiknya perihal beruntungnya aku di sempatkan bersua secara langsung dengan si pemilik karya. (Aku tertawa menuliskannya, hingga orang rumah, terutama Ayah, terheran-heran melihaku, Zul.)
Aku tersenyum sendiri mengingat peristiwa itu. Melirik sebentar kearah meja, Negeri 5 Menara dan Rantau 1 Muara tengah tergeletak disana, menungguku meraihnya. Lalu kupandangi lagi Ranah 3 Warna dalam pelukanku. Rinduku semakin menggebu jua padamu, Zul. Aku lanjut membalik halamannya, mengagumi setiap baris yang tertulis disana dan melayangkan fikir sejenak kembali ke masa dimana berjayanya kita. Bersama kita bisa. Aku lupa itu slogan siapa, kupinjam jugalah sebentar untuk kusematkan dalam tulisanku tentangmu yang kesekian ini.
Bagaimanakah kiranya tanah rantau? Langitnya secerah langit kitakah? Kau tentu tengah berdiam disana mengarungi mimpimu. Ah, betapa jarak ini sedemikian kejamnya. Siapa saja yang kau temui disana? Mereka semenyebalkan akukah? Jikalau sebalmu padaku dalam arti yang sebenarnya selama ini, beri maaf jugalah, Zul. Sunguh kadangkala tiada jarak lagi rasanya hingga kadang yang terlontar bahkan yang kulakukan lebih sering mengundang kesalmu ketimbang bahagia bagimu. Tapi, apakah benar begitu? Bukankah hal menyenangkan dan menyebalkan tentangku berada pada porsi yang sama? Begitu bukan yang terendap dalam ruang rasa dan fikirmu? Ah, kau jawab sajalah sendiri, aku pun tak ingin mendiktemu perihal pertemanan kita. Namun satu hal yang pasti, jika boleh di beri kesempatan sekali lagi kita bersama seperti saat di KotoBaru dulu, ingin rasanya memulai lagi menjadi sebaik-baiknya sahabat bagimu, Zul. Teman dan saudaraku yang sudah lama tak kulihat rupa dan kujitak kepalanya. 
Aku rindu..
(Sudut Kamar-10 Maret 2015-22:44)

Selasa, 03 Maret 2015

Berkasih Namun Tiada Tepian



Berkasih pada embun, rinduku tersaput panas surya
Lupa barangkali ada musnah yang mengintai saat beningnya bertemankan cahaya
Pernah juga kucoba berkasih pada senja, lembayungku luruh dalam pekat malam
Barangkali abai perkara pelita yang gamang di buai gulita. 
Masih saja hampa..

Kidung resahku tak bertuan, tak tau pada siapa di alamatkan.
Tiada pula awas perihal gempita yang bersanding serasi pada padam
Dimanakah senandung rasa yang dulu sempat jua datang bertandang?
Tak lagi ada jawaban. Alam pun enggan mengisyaratkan. 
Masih saja hambar.

Bait-bait yang sejak dahulu mengambang belum juga sempat kuselesaikan
Berjudulpun enggan kulakukan. 
Padahal perihal gusar tak berkesudahan, enyahnya jualah yang kusemogakan. 
Harap berganti pada binar bahagia yang berpendar-pendar.


Ah, Engkau yang Baru Datang



Tentang yang datang setelah yang pergi hilang, sedikit kesusahan juga rasanya mencoba kembali memulakan. Pasalnya, semakin pekat saja sakit terdahulu itu membayang. Takut tanpa sengaja yang tak punya salah pun justru ikut kulukai juga dalam pengengahan lukaku sendiri. Ah, tak inginlah rasanya harus sampai sedemikian, sebab betapa tahunya aku perih dan sakit itu siksaannya seberat apa. Jadi, mari berkawan saja dahulu, asal muasal dimana rasa bisa saja terpancar sebelum selamanya dalam ikatan. Mungkin dengan begitu kita tak perlu sama-sama terluka lagi. Kau tidak, akupun tidak. Dan bahagia bisa kita reguk berdua setelahnya. 

Memulakan kembali itu bukan perkara mudah, kau tahu itu bukan? Seperti ketika pertama kali mendapat buku baru lagi, aku pasti mematut-matutnya sedemikian lama, memikirkan baris apa yang bagusnya kutuliskan di halaman pertamanya. Merasa takut jikalau setelahnya, baris-baris itu tak kusuka namun sayang juga harus merobeknya. Karena saat kurobek, hatiku ikut robek juga bersamanya kadang, mengingat indahnya lembaran-lembaran itu dan sesal yang menyambangi datang saat akan kubuang. Selalu begitu, terlalu berhati-hati tidak ada salahnya juga untuk beberapa hal. Karena rasanya bercermin pada yang lalu itu jadi judul besar kisah hidupku sekarang. Aku tak ingin lagi seperti yang sudah-sudah, tak ingin lagi berkisah pada yang sesuatu entah. 

--2 Maret 2015--
 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang