Rabu, 22 April 2015

--Be Dumped or Do the Dumping--



“He isn’t the guy that I used to know! He’s a stranger now!” I knew exactly who she was talking about but gave any special attention for that case seemed wasting the time, so I just sat and still. Listening. Or the truth, ignoring.

“What’s on a man’s mind?” She kept talking, but I kept working. 

“He seems like do not have any guts to solve anything between us. I know we’re in trouble, but none of us seems want to admit it. There’s something happen to him. I am sure.” She was going to cry.

“He’s not him. All the things that I knew since the first time we met are not there anymore. I love him but for now he’s really a stranger!” The tears welled up in her eyelid. 

Perfect! Just waiting for another fifty second, it would be fall from her eyes. Like all the roman did in its story. Love, life and tears. Ugh! Was there any other kind of story that I could watch?
Knowing that I didn’t really pay attention, she looked at me angrily.

 “Tia!”her voice was really annoying this time. 

“What?” I shouted

“Are you listening?”

“I am!”

“And?”

I stopped doing anything now. “Yeah, I am listening.” 

“Then, say something!” 

Well, what do you expect me to say to this damn boring story? Should I say, Oh, poor Lisa (my friend’s name)? Then, bla bla bla or anything that made me seemed like defending her. Or, tried to calm her down and told her he shouldn’t do that to her. Or do I have to go to his house and told him, how much does the pain that he made for her? I am asking to myself in this part. Really I am.

If you were me, what would you say?
I know that love story could be as beautiful as the true love in the fairytale, but the reality? U, uh! Think about it! Many of girls would choose to stay with this kind of story. You know, the story when the guy feel bored with the girl or even want to get over the relationship but isn’t brave enough to say ‘I am done’. The girl somehow stuck on the useless hard time that she designed by herself, waiting for the guy, changing his mind. Dumb! 

Come on, girls. What would you do if the guy who you think ‘the man’ in your life isn’t the right guy for your future? But you’ve been spending much of your precious time, crying of him. I say, you dumb! Really dumb! Like I told Lisa, you ask my advice, I’ll give it.

Then, I said. “Give me your phone!” 

“What?” She looked totally confuse. 

“Just give it!” Feeling doubt but finally she gave it to me in the end.

No need much time to type several words in its screen. Few second I gave the phone back to her.

“What the hell are you doing?” She screamed aloud when she knew what was being written in her sending item box.

“You ask for an advice. I gave the best that I can.” I was going back to my work, ignoring her. She would cry for a while, but, it didn’t matter, it would help to heal the wound that made by this freaking stupid story.
If you’re wondering about what did I make in the short message. The words were really simple. 

I am sorry, honey. I am done! Thanks a lot for have ever being mine

That’s it!

Just stop pretending that you’re OK while you’re not. Stop for being survived while you couldn’t. It just aggravates the wound which has already there. Why bother, right? Let it go! Faithful doesn’t mean being hurt all the way. You deserve for better. Deserve for happiness, which can be build from every single decision that you made in your life. Love isn’t hurt, when it hurts, it isn’t love

Just follow my simple suggestion IT’S BETTER FOR DO THE DUMPING INSTEAD OF BE DUMPED. Trust me girls! It works! ;)

RUMPUT PUN BERBISIK



#Event_Rumput_KBM
Oleh: Meiva Mutia R

“Kau dengar tidak? Dia berbisik.” Ujarmu dengan mata terpejam, telentang di hamparan padang. Tanganmu menari-nari, mencoba menyentuh angin, sementara bayang pohon senantiasa meneduhkanmu dari hangat surya. Senyum di wajahmu melengkung sempurna, damai dalam tatap mata.

“Tidak, aku tidak dengar.” Jawabku mengikuti gemulai gerakan tanganmu.

“Kau tidak pernah benar-benar mendengarkan.” Kau membuka mata seketika. Menoleh dengan raut muka sebal. Aku tersenyum menatap balik ke arahmu.

“Tidak ada siapapun yang berbisik, kecuali kau.” Aku melihat binar di kedua bola matamu yang bundar. Sorot kekanak-kanakan itu yang selalu kurindukan. Meski terkadang terlalu banyak teka-teki yang tersimpan di dalamnya, tentang aku barangkali juga ada, namun tak dapat ku terka. Terlalu banyak rahasia.

“Dengar! Rumput itu tengah bercerita padaku.” Kembali kau menatap langit. Aku memang tidak pernah mengerti dunia khayalmu,namun mendengarkannya menjadi kesenangan lain dari hidupku. Caramu menceritakannya seperti baris-baris puisi yang senantiasa membuatku kagum. Alunan suaramu seperti tembang rindu yang senantiasa ingin kudengar. Entah, entah hanya aku atau ada orang lain yang seperti itu, aku tidak tahu. Aku benar-benar selalu suka segala sesuatu tentangmu.

“Apa yang di ceritakannnya?” Tanyaku penasaran. Kau diam sejenak. Cukup lama juga karena kulihat kau tidak lagi menoleh padaku. Angin begitu ayu membelai rambut-rambut halus di kulitku, kulitmu juga pasti begitu. Kelembutan yang sama seperti yang di tawarkan teduh matamu ketika melihatku. 

“Kau.” Jawabmu sejurus kemudian, masih dengan senyum indah itu. Kembali matamu memejam. Tanganmu tidak lagi memainkan angin. Namun menyentuh rerumputan hijau di sekitarmu. Beberapa juga menggelitik pipimu, namun kau biarkan saja. Sejuk kiranya sentuhan rumput itu di kulitmu, hingga kau relakan tubuhmu di lumat hamparannya. 

“Aku?” Aku masih ingin bertanya namun kau tidak lagi menjawab, membiarkanku bertanya-tanya seperti biasa. Matamu tiada lagi terbuka.

Tidak pernah lagi terbuka.
***
Kau selalu mengajakku ke tempat ini. Entah sudah berapa lama kau bertukar cerita dengan rerumputannya, aku lupa. Kau akan marah jika tahu hal ini, bukan? Kau tentu tidak lupa bahwa acap kali aku lupa, sementara kau tidak akan pernah lupa. Namun aku akan selalu ingat semua yang kau ceritakan padaku semenjak kau kenalkan aku pada savanna ini bertahun-tahun lalu. Aku juga akan tetap mengingat padang rumput ini, sebuah rona yang kau gemari dan aroma yang sangat kau kagumi. Kau selalu tergila-gila tentang hijau dan wangi rerumputan. Lalu selepas itu tak habis-habisnya  menceritakan padaku apa yang singgah di ruang khayalmu. 

“Alam mengajarkanku bahasa lain tentang cinta.” Tukasmu suatu kali. Balutan syal hangat di lehermu seperti tidak lagi mampu menengahi gigil yang menggeluti tubuh mungilmu. Tapi inginmu tetap tidak surut untuk terus menapaki padang ini sekedar berbagi sapa. 

Aku mencoba tersenyum dengan khawatir yang membelenggu. Tidak juga ingin menghentikanmu, sama saja dengan menghentikan bahagiamu. Aku tidak ingin begitu. Kubiarkan kau bercerita tentang apapun yang kau lihat seperti biasa. Tanganmu kugenggam erat, seperti tak ingin melepasnya. Andai bisa.

“Kau lihat langit itu?” Ujarmu. 

“Pada langit yang terbentang ini rasanya ingin kutumpangkan rinduku.” Suaramu nyaris seperti bergumam, namun mampu kutangkap apa yang kau maksudkan.

“Jikalah esok tidak lagi datang, biar hujan atau pelangi yang mengingatkan padamu perkara hatiku yang lena dalam pelukan cinta, cinta yang terus teruntuk padamu.” Lanjutmu akhirnya. Senyummu masih disana, tidak kemana-kama. Masih bisa kurasa tulusnya, masih bisa kutatap indahnya. Walau ada perih yang menyisip setelah itu, aku rela. Cinta yang katamu selalu ada itu akan mengobatinya. Tidak apa-apa.

Di hamparan padang ini juga kembali kutemukan damai yang kau sisipkan dahulu. Di antara rerumputan ini juga kunikmati kembali gejolak rindu tak berkesudahan yang sempat kau tinggalkan waktu itu. Di bawah langit ini juga akhirnya semua tentangmu bermuara. Kau selalu penuh rahasia, kau tahu? Sudah sekian lama jemarimu kugenggam namun rasanya belum lagi mampu menjadi seseorang yang sepenuhnya memahamimu. Cinta sebesar apakah kiranya yang kau simpan rapi dalam ruang hatimu. Sebagaimana juga aku tidak pernah mengerti rahasia apa yang membawamu hadir dalam lembar hidupku. Dan rahasia itu juga yang barangkali merenggutmu pergi tanpa kesiapan apapun dariku. Iya cinta, kau pergi. Pergi ke negeri yang tiada seorangpun tahu dimana itu.
***
Aku memandangi langit hari ini. Awan berarak serupa gurat senyummu, ada wajahmu yang kulihat disana. Namun entah benar begitu atau khayalku saja yang selalu menggumamkan asa untuk melihatmu lagi. Bayang pohon masih meneduhkan tubuhku dari panas surya. Seperti dahulu meneduhkan kita ketika bercengkrama di padang savanna, tempatmu berbagi sapa. Aroma alami rumput merebak di sekelilingku. Suara lembut sapuan angin di antara ranting juga sedemikian lembutnya. Meninggalkan tenang jangka panjang dalam relungku. Harusnya aku mencari tahu lebih jauh apa yang di bisikkan rumput padamu kala itu. Karena setelah itu, aku urung jua mengerti tentang aku dalam kisahmu. Barangkali rerumputan itu mau kembali mengisahkan padaku seperti halnya ia bercerita padamu dahulu, namun tidak lagi, ia tidak mau.

Kurebahkan tubuhku di hamparannya seperti yang selalu kau lakukan dahulu, memejamkan mata dan membiarkan angin membelai wajahku. Sejuk menerpa kulitku. Ada yang menggenang di pelupuk mata, namun kutahan. Sekuat tenaga kucoba tersenyum. Terbayang akan senyummu di waktu lalu. Dalam lirih, gumamku terujar,

“Istriku, Aku rindu.”

(Semoga tenang disana, sahabatku. Kepada yang kau tinggalkan, semoga selalu bisa berbahagia-25 Maret 2015)

Rindu yang Urung Rampung



Oleh: Meiva Mutia R.
Tentang deru rindu yang terdahulu, aku hanyalah peziarah pada sejumput kenang yang sempat datang bertandang. Dimana ada separuh hati yang dulu terhanyut damai pagi, namun urung menemukan jalan kembali.
Dan itu hatiku!
Hati yang senantiasa bersuara rindu. Rindu yang tiada surut mendamba hati yang telah bermuara pada yang bukan hatiku. Serpihan asa yang mulai pudar itupun tiada rela menggerusnya. Lantas membiarkannya bertahta disana, bahkan beku terendap hingga entah berapa lama. Dan yang tersisa hanya kecamuk sedu sedan. Tak mampu diredam padam.
Sewindu, nirwana!
Hatiku yang separuh itupun masih jua enggan menemukan titik temu. Pertemuan pada hati yang menjadikannya satu.
Padu.
Namun tiada usai.
Tiada ungkai.
Ah, aku limbung dalam kecaman rindu yang belum lagi rampung!
(Lubuksikaping, 12 maret 2015)

Tembang Rindu



Oleh: Meiva Mutia R
Kepadamu yang belum lagi kuketahui siapa..

Bagaimana kabarmu pengembara rindu?
Masihkah merindu?
Atau lelah tengah mendera perjalananmu?

Bagaimana langitmu disana, sebiru langitku kah? Atau sebiru hatiku yang kalut dalam tunggu? Semoga angin sempat membisikan kerinduan hatiku perihal titik temu dengan engkau yang sudah semenjak lama ada dalam do’aku.

Kadangkala ketika embun fajar menabuh pagi dan mentari meminang pendar cahayanya menyelimuti gigil bumi, lirik puisiku masih juga berbaris-baris menyatakan rinduku akan hadirmu.
Atau ketika cahaya bulan perak mulai membayang sementara dingin senja luruh dalam dekapan hangat malam, alunan tembang senduku masih juga bertalu-talu menyuarakan sendiriku dengan ketiadaanmu.

Ah, engkau..
Masih jauhkah rupanya ujung jalanmu, sedang rinduku semakin menggebu dalam pengharapanku akan bahagia yang bisa kuramu bersamamu.

Hingga nanti kita tua,
Sementara lagu dan puisiku masih tetap bersuara sama..

(Meja Ke rja-10:42-April 2015)
 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang