Oleh: Meiva Mutia R.
Tentang
deru rindu yang terdahulu, aku hanyalah peziarah pada sejumput kenang yang
sempat datang bertandang. Dimana ada separuh hati yang dulu terhanyut damai
pagi, namun urung menemukan jalan kembali.
Dan
itu hatiku!
Hati
yang senantiasa bersuara rindu. Rindu yang tiada surut mendamba hati yang telah
bermuara pada yang bukan hatiku. Serpihan asa yang mulai pudar itupun tiada
rela menggerusnya. Lantas membiarkannya bertahta disana, bahkan beku terendap
hingga entah berapa lama. Dan yang tersisa hanya kecamuk sedu sedan. Tak mampu
diredam padam.
Sewindu,
nirwana!
Hatiku
yang separuh itupun masih jua enggan menemukan titik temu. Pertemuan pada hati
yang menjadikannya satu.
Padu.
Namun
tiada usai.
Tiada
ungkai.
Ah,
aku limbung dalam kecaman rindu yang belum lagi rampung!
(Lubuksikaping,
12 maret 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar