#Event_Rumput_KBM
Oleh: Meiva
Mutia R
“Kau dengar
tidak? Dia berbisik.” Ujarmu dengan mata terpejam, telentang di hamparan
padang. Tanganmu menari-nari, mencoba menyentuh angin, sementara bayang pohon senantiasa
meneduhkanmu dari hangat surya. Senyum di wajahmu melengkung sempurna, damai
dalam tatap mata.
“Tidak, aku
tidak dengar.” Jawabku mengikuti gemulai gerakan tanganmu.
“Kau tidak pernah
benar-benar mendengarkan.” Kau membuka mata seketika. Menoleh dengan raut muka
sebal. Aku tersenyum menatap balik ke arahmu.
“Tidak ada
siapapun yang berbisik, kecuali kau.” Aku melihat binar di kedua bola matamu
yang bundar. Sorot kekanak-kanakan itu yang selalu kurindukan. Meski terkadang
terlalu banyak teka-teki yang tersimpan di dalamnya, tentang aku barangkali
juga ada, namun tak dapat ku terka. Terlalu banyak rahasia.
“Dengar! Rumput
itu tengah bercerita padaku.” Kembali kau menatap langit. Aku memang tidak pernah
mengerti dunia khayalmu,namun mendengarkannya menjadi kesenangan lain dari
hidupku. Caramu menceritakannya seperti baris-baris puisi yang senantiasa
membuatku kagum. Alunan suaramu seperti tembang rindu yang senantiasa ingin
kudengar. Entah, entah hanya aku atau ada orang lain yang seperti itu, aku
tidak tahu. Aku benar-benar selalu suka segala sesuatu tentangmu.
“Apa yang di
ceritakannnya?” Tanyaku penasaran. Kau diam sejenak. Cukup lama juga karena
kulihat kau tidak lagi menoleh padaku. Angin begitu ayu membelai rambut-rambut
halus di kulitku, kulitmu juga pasti begitu. Kelembutan yang sama seperti yang
di tawarkan teduh matamu ketika melihatku.
“Kau.” Jawabmu
sejurus kemudian, masih dengan senyum indah itu. Kembali matamu memejam.
Tanganmu tidak lagi memainkan angin. Namun menyentuh rerumputan hijau di
sekitarmu. Beberapa juga menggelitik pipimu, namun kau biarkan saja. Sejuk
kiranya sentuhan rumput itu di kulitmu, hingga kau relakan tubuhmu di lumat
hamparannya.
“Aku?” Aku masih
ingin bertanya namun kau tidak lagi menjawab, membiarkanku bertanya-tanya
seperti biasa. Matamu tiada lagi terbuka.
Tidak pernah
lagi terbuka.
***
Kau selalu
mengajakku ke tempat ini. Entah sudah berapa lama kau bertukar cerita dengan
rerumputannya, aku lupa. Kau akan marah jika tahu hal ini, bukan? Kau tentu
tidak lupa bahwa acap kali aku lupa, sementara kau tidak akan pernah lupa. Namun
aku akan selalu ingat semua yang kau ceritakan padaku semenjak kau kenalkan aku
pada savanna ini bertahun-tahun lalu. Aku juga akan tetap mengingat padang
rumput ini, sebuah rona yang kau gemari dan aroma yang sangat kau kagumi. Kau
selalu tergila-gila tentang hijau dan wangi rerumputan. Lalu selepas itu tak
habis-habisnya menceritakan padaku apa
yang singgah di ruang khayalmu.
“Alam mengajarkanku
bahasa lain tentang cinta.” Tukasmu suatu kali. Balutan syal hangat di lehermu
seperti tidak lagi mampu menengahi gigil yang menggeluti tubuh mungilmu. Tapi
inginmu tetap tidak surut untuk terus menapaki padang ini sekedar berbagi sapa.
Aku mencoba
tersenyum dengan khawatir yang membelenggu. Tidak juga ingin menghentikanmu,
sama saja dengan menghentikan bahagiamu. Aku tidak ingin begitu. Kubiarkan kau
bercerita tentang apapun yang kau lihat seperti biasa. Tanganmu kugenggam erat,
seperti tak ingin melepasnya. Andai bisa.
“Kau lihat
langit itu?” Ujarmu.
“Pada langit
yang terbentang ini rasanya ingin kutumpangkan rinduku.” Suaramu nyaris seperti
bergumam, namun mampu kutangkap apa yang kau maksudkan.
“Jikalah esok
tidak lagi datang, biar hujan atau pelangi yang mengingatkan padamu perkara hatiku
yang lena dalam pelukan cinta, cinta yang terus teruntuk padamu.” Lanjutmu
akhirnya. Senyummu masih disana, tidak kemana-kama. Masih bisa kurasa tulusnya,
masih bisa kutatap indahnya. Walau ada perih yang menyisip setelah itu, aku rela.
Cinta yang katamu selalu ada itu akan mengobatinya. Tidak apa-apa.
Di hamparan
padang ini juga kembali kutemukan damai yang kau sisipkan dahulu. Di antara
rerumputan ini juga kunikmati kembali gejolak rindu tak berkesudahan yang
sempat kau tinggalkan waktu itu. Di bawah langit ini juga akhirnya semua
tentangmu bermuara. Kau selalu penuh rahasia, kau tahu? Sudah sekian lama jemarimu
kugenggam namun rasanya belum lagi mampu menjadi seseorang yang sepenuhnya
memahamimu. Cinta sebesar apakah kiranya yang kau simpan rapi dalam ruang
hatimu. Sebagaimana juga aku tidak pernah mengerti rahasia apa yang membawamu
hadir dalam lembar hidupku. Dan rahasia itu juga yang barangkali merenggutmu
pergi tanpa kesiapan apapun dariku. Iya cinta, kau pergi. Pergi ke negeri yang
tiada seorangpun tahu dimana itu.
***
Aku memandangi
langit hari ini. Awan berarak serupa gurat senyummu, ada wajahmu yang kulihat
disana. Namun entah benar begitu atau khayalku saja yang selalu menggumamkan
asa untuk melihatmu lagi. Bayang pohon masih meneduhkan tubuhku dari panas
surya. Seperti dahulu meneduhkan kita ketika bercengkrama di padang savanna,
tempatmu berbagi sapa. Aroma alami rumput merebak di sekelilingku. Suara lembut
sapuan angin di antara ranting juga sedemikian lembutnya. Meninggalkan tenang
jangka panjang dalam relungku. Harusnya aku mencari tahu lebih jauh apa yang di
bisikkan rumput padamu kala itu. Karena setelah itu, aku urung jua mengerti
tentang aku dalam kisahmu. Barangkali rerumputan itu mau kembali mengisahkan
padaku seperti halnya ia bercerita padamu dahulu, namun tidak lagi, ia tidak
mau.
Kurebahkan
tubuhku di hamparannya seperti yang selalu kau lakukan dahulu, memejamkan mata
dan membiarkan angin membelai wajahku. Sejuk menerpa kulitku. Ada yang
menggenang di pelupuk mata, namun kutahan. Sekuat tenaga kucoba tersenyum.
Terbayang akan senyummu di waktu lalu. Dalam lirih, gumamku terujar,
“Istriku, Aku
rindu.”
(Semoga tenang
disana, sahabatku. Kepada yang kau
tinggalkan, semoga selalu bisa berbahagia-25 Maret
2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar