Rabu, 22 April 2015

RUMPUT PUN BERBISIK



#Event_Rumput_KBM
Oleh: Meiva Mutia R

“Kau dengar tidak? Dia berbisik.” Ujarmu dengan mata terpejam, telentang di hamparan padang. Tanganmu menari-nari, mencoba menyentuh angin, sementara bayang pohon senantiasa meneduhkanmu dari hangat surya. Senyum di wajahmu melengkung sempurna, damai dalam tatap mata.

“Tidak, aku tidak dengar.” Jawabku mengikuti gemulai gerakan tanganmu.

“Kau tidak pernah benar-benar mendengarkan.” Kau membuka mata seketika. Menoleh dengan raut muka sebal. Aku tersenyum menatap balik ke arahmu.

“Tidak ada siapapun yang berbisik, kecuali kau.” Aku melihat binar di kedua bola matamu yang bundar. Sorot kekanak-kanakan itu yang selalu kurindukan. Meski terkadang terlalu banyak teka-teki yang tersimpan di dalamnya, tentang aku barangkali juga ada, namun tak dapat ku terka. Terlalu banyak rahasia.

“Dengar! Rumput itu tengah bercerita padaku.” Kembali kau menatap langit. Aku memang tidak pernah mengerti dunia khayalmu,namun mendengarkannya menjadi kesenangan lain dari hidupku. Caramu menceritakannya seperti baris-baris puisi yang senantiasa membuatku kagum. Alunan suaramu seperti tembang rindu yang senantiasa ingin kudengar. Entah, entah hanya aku atau ada orang lain yang seperti itu, aku tidak tahu. Aku benar-benar selalu suka segala sesuatu tentangmu.

“Apa yang di ceritakannnya?” Tanyaku penasaran. Kau diam sejenak. Cukup lama juga karena kulihat kau tidak lagi menoleh padaku. Angin begitu ayu membelai rambut-rambut halus di kulitku, kulitmu juga pasti begitu. Kelembutan yang sama seperti yang di tawarkan teduh matamu ketika melihatku. 

“Kau.” Jawabmu sejurus kemudian, masih dengan senyum indah itu. Kembali matamu memejam. Tanganmu tidak lagi memainkan angin. Namun menyentuh rerumputan hijau di sekitarmu. Beberapa juga menggelitik pipimu, namun kau biarkan saja. Sejuk kiranya sentuhan rumput itu di kulitmu, hingga kau relakan tubuhmu di lumat hamparannya. 

“Aku?” Aku masih ingin bertanya namun kau tidak lagi menjawab, membiarkanku bertanya-tanya seperti biasa. Matamu tiada lagi terbuka.

Tidak pernah lagi terbuka.
***
Kau selalu mengajakku ke tempat ini. Entah sudah berapa lama kau bertukar cerita dengan rerumputannya, aku lupa. Kau akan marah jika tahu hal ini, bukan? Kau tentu tidak lupa bahwa acap kali aku lupa, sementara kau tidak akan pernah lupa. Namun aku akan selalu ingat semua yang kau ceritakan padaku semenjak kau kenalkan aku pada savanna ini bertahun-tahun lalu. Aku juga akan tetap mengingat padang rumput ini, sebuah rona yang kau gemari dan aroma yang sangat kau kagumi. Kau selalu tergila-gila tentang hijau dan wangi rerumputan. Lalu selepas itu tak habis-habisnya  menceritakan padaku apa yang singgah di ruang khayalmu. 

“Alam mengajarkanku bahasa lain tentang cinta.” Tukasmu suatu kali. Balutan syal hangat di lehermu seperti tidak lagi mampu menengahi gigil yang menggeluti tubuh mungilmu. Tapi inginmu tetap tidak surut untuk terus menapaki padang ini sekedar berbagi sapa. 

Aku mencoba tersenyum dengan khawatir yang membelenggu. Tidak juga ingin menghentikanmu, sama saja dengan menghentikan bahagiamu. Aku tidak ingin begitu. Kubiarkan kau bercerita tentang apapun yang kau lihat seperti biasa. Tanganmu kugenggam erat, seperti tak ingin melepasnya. Andai bisa.

“Kau lihat langit itu?” Ujarmu. 

“Pada langit yang terbentang ini rasanya ingin kutumpangkan rinduku.” Suaramu nyaris seperti bergumam, namun mampu kutangkap apa yang kau maksudkan.

“Jikalah esok tidak lagi datang, biar hujan atau pelangi yang mengingatkan padamu perkara hatiku yang lena dalam pelukan cinta, cinta yang terus teruntuk padamu.” Lanjutmu akhirnya. Senyummu masih disana, tidak kemana-kama. Masih bisa kurasa tulusnya, masih bisa kutatap indahnya. Walau ada perih yang menyisip setelah itu, aku rela. Cinta yang katamu selalu ada itu akan mengobatinya. Tidak apa-apa.

Di hamparan padang ini juga kembali kutemukan damai yang kau sisipkan dahulu. Di antara rerumputan ini juga kunikmati kembali gejolak rindu tak berkesudahan yang sempat kau tinggalkan waktu itu. Di bawah langit ini juga akhirnya semua tentangmu bermuara. Kau selalu penuh rahasia, kau tahu? Sudah sekian lama jemarimu kugenggam namun rasanya belum lagi mampu menjadi seseorang yang sepenuhnya memahamimu. Cinta sebesar apakah kiranya yang kau simpan rapi dalam ruang hatimu. Sebagaimana juga aku tidak pernah mengerti rahasia apa yang membawamu hadir dalam lembar hidupku. Dan rahasia itu juga yang barangkali merenggutmu pergi tanpa kesiapan apapun dariku. Iya cinta, kau pergi. Pergi ke negeri yang tiada seorangpun tahu dimana itu.
***
Aku memandangi langit hari ini. Awan berarak serupa gurat senyummu, ada wajahmu yang kulihat disana. Namun entah benar begitu atau khayalku saja yang selalu menggumamkan asa untuk melihatmu lagi. Bayang pohon masih meneduhkan tubuhku dari panas surya. Seperti dahulu meneduhkan kita ketika bercengkrama di padang savanna, tempatmu berbagi sapa. Aroma alami rumput merebak di sekelilingku. Suara lembut sapuan angin di antara ranting juga sedemikian lembutnya. Meninggalkan tenang jangka panjang dalam relungku. Harusnya aku mencari tahu lebih jauh apa yang di bisikkan rumput padamu kala itu. Karena setelah itu, aku urung jua mengerti tentang aku dalam kisahmu. Barangkali rerumputan itu mau kembali mengisahkan padaku seperti halnya ia bercerita padamu dahulu, namun tidak lagi, ia tidak mau.

Kurebahkan tubuhku di hamparannya seperti yang selalu kau lakukan dahulu, memejamkan mata dan membiarkan angin membelai wajahku. Sejuk menerpa kulitku. Ada yang menggenang di pelupuk mata, namun kutahan. Sekuat tenaga kucoba tersenyum. Terbayang akan senyummu di waktu lalu. Dalam lirih, gumamku terujar,

“Istriku, Aku rindu.”

(Semoga tenang disana, sahabatku. Kepada yang kau tinggalkan, semoga selalu bisa berbahagia-25 Maret 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Pieces, Stories and Me Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang